Turki Bangun Kapal Induk Raksasa MUGEM, Disebut Lampaui Charles de Gaulle
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, Turki dilaporkan tengah membangun kapal induk nasional pertamanya yang diberi nama MUGEM. Proyek ambisius ini digadang-gadang akan menghasilkan kapal perang terbesar yang pernah dibuat negara tersebut, bahkan melampaui kapal induk Prancis, Charles de Gaulle.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, Turki dilaporkan tengah membangun kapal induk nasional pertamanya yang diberi nama MUGEM. Proyek ambisius ini digadang-gadang akan menghasilkan kapal perang terbesar yang pernah dibuat negara tersebut, bahkan melampaui kapal induk Prancis, Charles de Gaulle.
Komandan Angkatan Laut Turki, Ercument Tatlioglu, menyatakan bahwa kapal induk tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun depan. Ia juga mengungkapkan bahwa pembangunan lambung kapal berjalan lebih cepat dari jadwal, hampir satu tahun lebih awal dari rencana semula.
Kapal induk MUGEM diperkirakan memiliki bobot sekitar 60 ribu ton dengan panjang mencapai 285 meter. Dengan spesifikasi tersebut, kapal ini akan melampaui Charles de Gaulle yang memiliki panjang 261 meter dan bobot 42.500 ton. MUGEM dirancang mampu membawa hingga 60 pesawat dengan sistem lepas landas pendek.
Proyek ini mulai mendapat perhatian luas sejak diluncurkan pada Agustus 2025 oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Pembangunan kapal induk ini dinilai sebagai bagian dari upaya Ankara memperkuat kemampuan pertahanan dan memperluas proyeksi kekuatan militernya.
Dipicu Ketegangan Regional
Langkah Turki mempercepat pembangunan kapal induk tidak lepas dari meningkatnya dinamika geopolitik, khususnya hubungan yang memanas dengan Israel. Sejumlah tokoh politik Israel bahkan mulai menyamakan Turki dengan Iran dalam retorika mereka.
Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, dalam sebuah forum di Washington menyebut Turki sebagai “Iran berikutnya”, mencerminkan meningkatnya ketegangan kedua negara.
Di sisi lain, Turki juga menghadapi tekanan di kawasan Mediterania Timur, termasuk aliansi yang berkembang antara Israel, Yunani, dan Siprus. Kondisi ini mendorong Ankara untuk memperkuat kekuatan lautnya sebagai langkah strategis.
Dalam operasionalnya nanti, MUGEM akan mengandalkan kombinasi teknologi modern, termasuk pesawat tempur tanpa awak seperti Kizilelma, serta pesawat ringan Hurjet. Selain itu, Turki juga mempertimbangkan penggunaan versi angkatan laut dari jet tempur generasi kelima Kaan.
Drone Bayraktar TB3 yang telah digunakan di kapal TCG Anadolu juga akan menjadi bagian penting dari sistem tempur kapal induk ini.
Langkah ini diambil setelah Turki dikeluarkan dari program jet tempur F-35 pada 2019, sehingga Ankara beralih mengembangkan teknologi pertahanan dalam negeri.
Pengaruh dan Daya Tawar di NATO
Mantan duta besar Turki, Alper Coskun, menilai pembangunan kapal induk ini akan meningkatkan posisi tawar Turki di dalam NATO. Namun, ia juga mengingatkan bahwa proyek besar tersebut berpotensi memicu persepsi ancaman baru di kawasan.
“Ini akan meningkatkan kekuatan tawar menawar Turki, tetapi juga dapat memicu ketegangan,” ujarnya.
Meski ambisius, proyek ini tidak lepas dari kritik. Mantan laksamana Turki, Yanki Bagcioglu, menilai pembangunan kapal induk membutuhkan biaya besar serta dukungan armada pendamping yang belum sepenuhnya dimiliki Turki.
Ia menekankan pentingnya memprioritaskan proyek lain seperti jet tempur Kaan, sistem pertahanan udara, serta pembangunan fregat dan kapal perusak.
Namun, sejumlah analis menilai kapal induk tetap menjadi aset strategis jangka panjang yang dapat memperkuat pengaruh Turki di kawasan, termasuk di Afrika Utara dan Tanduk Afrika.
Pembangunan MUGEM dilakukan di Galangan Kapal Istanbul dengan metode modular yang memungkinkan pengerjaan cepat. Laksamana Muda Recep Erdinc Yetkin menyebut landasan pendaratan kapal bahkan telah diproduksi dan akan segera diuji.
Kapal induk ini diperkirakan mulai beroperasi penuh pada 2030. Kehadirannya diyakini akan menjadi simbol kekuatan baru Turki di kawasan sekaligus memperkuat peran negara tersebut dalam dinamika keamanan global.