Simak Alasannya! AS Disebut Lirik Ketua Parlemen Iran Bagher Ghalibaf sebagai Calon Pemimpin Masa Depan
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan Ketua Parlemen Iran, Bagher Ghalibaf, sebagai sosok potensial untuk memimpin Iran di masa depan.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan Ketua Parlemen Iran, Bagher Ghalibaf, sebagai sosok potensial untuk memimpin Iran di masa depan.
Informasi tersebut diungkap oleh dua sumber yang mengetahui pembahasan internal di Gedung Putih. Mereka menyebut sejumlah pejabat AS memandang Ghalibaf sebagai figur yang dapat diajak bekerja sama dan berpotensi menjadi mitra dalam proses negosiasi ke depan, terutama setelah meningkatnya ketegangan akibat serangan AS-Israel terhadap Iran.
“Dia adalah pilihan yang menarik,” ujar salah satu sumber, seperti dikutip media AS.
Meski demikian, sumber tersebut menegaskan bahwa pemerintah AS belum mengambil keputusan final. Washington disebut masih ingin menjajaki beberapa kandidat sebelum menentukan figur yang dinilai paling siap untuk diajak mencapai kesepakatan.
“Dia salah satu yang teratas, tetapi kami perlu menguji beberapa opsi dan tidak bisa terburu-buru,” tambah sumber tersebut.
Laporan serupa juga diungkap oleh Politico yang menyebut pemerintahan Trump secara diam-diam melihat Ghalibaf sebagai mitra potensial, bahkan kandidat pemimpin Iran di masa depan. Laporan itu kemudian dikutip oleh Reuters pada Selasa (24/3).
Di sisi lain, Trump mengklaim telah melakukan pembicaraan yang produktif dengan sejumlah pejabat Iran. Ia menyebut komunikasi tersebut melibatkan tokoh penting, meski bukan pemimpin tertinggi Iran.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Teheran. Sejumlah laporan media AS dan Israel menyebut Ghalibaf sebagai sosok yang diduga terlibat dalam komunikasi tersebut, tetapi ia dengan tegas menyangkalnya.
Ghalibaf menyebut isu negosiasi dengan AS sebagai “berita palsu” yang bertujuan memengaruhi pasar keuangan dan minyak, sekaligus sebagai bagian dari strategi untuk menjebak Iran.
“Tidak ada negosiasi dengan AS. Ini hanya berita palsu untuk memanipulasi pasar dan menghindari jebakan AS dan Israel,” tegasnya.
Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran belakangan meningkat, di tengah spekulasi mengenai arah kepemimpinan dan dinamika politik di dalam negeri Iran.