Sangat Langka! Pengamat: Sikap KABAIS Letjen Yudi Mundur dari Jabatan Cerminkan Kepemimpinan Kesatria
Keputusan Yudi Abrimantyo untuk mundur dari jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI menuai sorotan publik. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk tanggung jawab moral yang jarang ditunjukkan oleh pejabat di Indonesia.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Keputusan Yudi Abrimantyo untuk mundur dari jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI menuai sorotan publik. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk tanggung jawab moral yang jarang ditunjukkan oleh pejabat di Indonesia.
Ketua Umum Pasbata Prabowo, David Febrian, menyebut pengunduran diri jenderal Kopassus itu sebagai “tamparan keras” bagi pejabat yang tetap bertahan meski tengah menghadapi persoalan.
“Ini bukan sekadar mundur. Ini adalah sikap kesatria. Ini pelajaran terbuka bagi banyak pejabat yang ketika bermasalah justru sibuk mencari pembenaran, memainkan opini, bahkan menyalahkan pihak lain,” ujar David dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, langkah yang diambil oleh Yudi menunjukkan standar kepemimpinan yang menempatkan tanggung jawab kepada publik di atas kepentingan pribadi maupun jabatan. Ia menilai sikap tersebut penting, bahkan sebelum proses hukum selesai.
“Di negeri ini, terlalu sering kita melihat pejabat yang jelas-jelas bermasalah tapi masih bertahan, berkelit, dan menghindar. Letjen Yudi justru melakukan hal sebaliknya. Urusan benar atau salah biar hukum yang membuktikan, tapi tanggung jawab kepada publik tidak bisa ditunda,” katanya.
David juga menilai, sikap mundur sebagai bentuk kepemimpinan sejati yang mulai tergerus oleh praktik politik pragmatis. Ia menyebut karakter kesatria—yang berani bertanggung jawab, termasuk atas kesalahan anak buah—kini semakin jarang ditemui di kalangan elite.
“Ini tipe pemimpin yang semakin langka. Berani bertanggung jawab tanpa harus dipaksa. Ini bukan soal tekanan, ini soal integritas,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada narasi yang dapat mengaburkan substansi kasus. Menurutnya, pengunduran diri bukanlah akhir, melainkan awal dari proses hukum yang harus dikawal secara serius.
“Jangan dibelokkan atau dipelintir seolah ini hanya drama. Ini bentuk tanggung jawab, tetapi proses hukum tetap harus berjalan dan kita kawal bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pasbata Prabowo menyatakan dukungan terhadap langkah cepat dan terbuka yang dilakukan Pusat Polisi Militer TNI. Respons tersebut dinilai sebagai bukti keseriusan TNI dalam menjaga kredibilitas institusi serta tidak mentoleransi pelanggaran.
“Ini wajah transparansi di era demokrasi. Ini harus kita dukung, bukan dicurigai tanpa dasar,” kata David.
Ia pun mengajak masyarakat menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk membangun budaya tanggung jawab di ruang publik.