Komisaris PT Sunra Ismeth Wibowo: Dirgahayu IMI, Terus Berkontribusi Bagi Kemajuan Industri Otomotif Nasional
Ismeth yang juga sahabat dari Moreno Soeprapto mengatakan, mendukung rencana besar Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan konversi massal terhadap 125 juta motor bensin menjadi motor listrik
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Tahun 2026 Ikatan Motor Indonesia (IMI) memasuki usia ke-120 tahun. Merujuk pada berdirinya Javache Motor Club pada 27 Maret 1906 di Semarang, organisasi ini kemudian bertransformasi menjadi IMI.
Melalui akun instragram pribadi (moreno_soeprapto) yang dipantau pagi ini, Sabtu (28/3/2026), Ketua Ikatan Motor Indonesia, Moreno Soeprapto mengunggah foto sejarah perkembangan IMI lengkap dengan Ketua Umum IMI dari periode ke periode.
Dalam caption-nya, Ketua Umum IMI Pusat periode 2025-2030 ini menulis, ”120 tahun bukan sekadar angka, tetapi perjalanan panjang penuh dedikasi, semangat, dan sejarah dalam dunia otomotif Indonesia”.
Putera dari Tinton Soeprapto, yang terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) X di Yogyakarta pada September 2025 lalu itu menulis bahwa sejak berdiri pada tahun 1906, Ikatan Motor Indonesia telah menjadi saksi sekaligus penggerak perkembangan otomotif nasional.
”Dari era awal kendaraan bermotor, masa perjuangan, hingga era modern penuh inovasi – IMI terus melahirkan tokoh-tokoh hebat yang mengukir prestasi, membangun komunitas, dan menjaga semangat sportivitas di lintasan manapun di jalan raya,” tulisnya.
Mantan pembalap nasional dan anggota DPR RI ini menggantikan Bambang Soesatyo dengan fokus pada pengembangan motorsport, mobilitas, dan sport tourism di Indonesia ini mengatakan, dari generasi ke generasi, kontribusi para insan otomotif telah membentuk fondasi kuat bagi kemajuan industri dan olahraga otomotif Indonesia.
”Hari ini, kita tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga melanjutkan warisan untuk masa depan yang lebih gemilang. Dirgahayu 120 Tahun IMI (1906-2026),” tulisnya.
Tokoh IMI lainnya, Prasetyo Edi Marsudi melalui akun X (@PrasetyoEdi_) mengungkapkan kebanggan sekaligus harapannya terhadap organisasi tersebut.
“Tepat hari ini 27 Maret 2026, kita semua keluarga besar, klub, komunitas dan insan otomotif memperingati HUT ke-120 Ikatan Motor Indonesia. Berawal dari Javache Motor Club (1906) di Semarang hingga menjadi IMI, perjalanan panjang ini terus menghadirkan kontribusi nyata bagi otomotif nasional, dari pembinaan atlet, kejuaraan, hingga sinergi lintas sektor. Dirgahayu IMI ke-120. Bersatu, bertumbuh, melaju bersama untuk kemajuan dan prestasi otomotif motorsport Indonesia mendunia,” cuitnya.
Sementara itu, Komisaris PT Sunra Asia Pasific Hi-Tech, pabrik motor listrik dan sepeda listrik di Indonesia Ismeth Wibowo mengucapkan selamat atas hari ulang tahun IMI.
“Selamat hari ulang tahun ke-120 untuk Ikatan Motor Indonesia (IMI). Semoga terus berkontribusi bagi kemajuan industri otomotif nasional,” ujar cucu Ir. H. Juanda, Ketua Umum pertama IMI Pusat (1950-1958) saat menjabat Menteri Perhubungan RI tersebut.

Ismeth yang juga sahabat dari Moreno Soeprapto mengatakan, mendukung rencana besar Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan konversi massal terhadap 125 juta motor bensin menjadi motor listrik. Hal ini, kata Ismeth, menjadikan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor BBM.
“Di tengah krisis BBM yang saat ini sedang terjadi - sebagai buntut dari perang di Timur Tengah - langkah mengkonversi motor bensin menjadi motor listrik merupakan langkah tepat yang dilakukan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.
Sebelumnya, Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai program konversi motor listrik yang dilakukan pemerintah diyakini mampu meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menilai langkah tersebut memberi manfaat ganda, baik dari sisi penghematan bahan bakar minyak (BBM) maupun penguatan sektor usaha kecil.
Menurut Bhima, peralihan motor berbahan bakar fosil ke listrik bisa menekan penggunaan BBM.
Dia menjelaskan bahwa program tersebut juga berpotensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Hal tersebut karena dampak berganda ekonomi akan semakin tinggi jika pemerintah turut melibatkan bengkel alternatif dalam proses konversi, tidak hanya bergantung pada bengkel resmi atau ATPM.
“Bengkel di desa bisa di-training dan disediakan paket konversi ke motor listrik,” ujarnya.*