Sejarah Baru Industri Pengolahan, Setelah 13 Tahun Tumbuh Lampaui Ekonomi Nasional
Christiantoko menyebut pencapaian tersebut memberikan harapan baru di tengah kekhawatiran deindustrialisasi dini yang sempat menghantui Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Industri pengolahan Indonesia mencatatkan kejutan besar pada tahun 2025 dengan mencetak pertumbuhan sebesar 5,30% secara tahunan (year on year, yoy). Capaian ini menjadi sangat signifikan karena untuk pertama kalinya dalam 13 tahun terakhir, performa sektor industri pengolahan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11%.
"Momentum ini merupakan sinyal kuat bagi kebangkitan industri nasional. Tahun 2025 adalah titik balik yang sangat berharga, nilai tambah industri pengolahan kita mencapai level tertinggi dalam sejarah dengan Produk Domestik Bruto (PDB) harga konstan sekitar Rp2.757 triliun," ujar Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko, melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Minggu (29/03/2026).
Christiantoko menyebut pencapaian tersebut memberikan harapan baru di tengah kekhawatiran deindustrialisasi dini yang sempat menghantui Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Dia mengatakan bahwa kembalinya peran industri sebagai motor pertumbuhan merupakan hasil dari berbagai kebijakan penguatan basis manufaktur dan strategi hilirisasi.
Kendati demikian, Christiantoko memberikan catatan kritis mengenai ketidakmerataan pertumbuhan tersebut. Ia menyoroti terjadinya fragmentasi yang tajam antara subsektor industri yang tumbuh cepat dan subsektor yang stagnan atau tertekan.
"Kita melihat munculnya `dua wajah` dalam struktur industri kita, yaitu sunrise industry yang bersinar dan sunset industry yang kian meredup. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi struktural ekonomi Indonesia saat ini masih bersifat parsial dan belum merata sepenuhnya ke seluruh lini,” ungkapnya.
Sunrise Industry: Logam Dasar Jadi Primadona
Dalam laporan terbarunya, Lembaga Riset NEXT Indonesia Center memetakan subsektor yang berperan dalam mendorong pertumbuhan industri pengolahan sepanjang 2025. Menggunakan metode Tipologi Klassen, industri logam dasar tercatat menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71% pada 2025.
“Subsektor ini menunjukkan akselerasi yang luar biasa dengan rata-rata pertumbuhan lima tahun sebesar 13,90%. Kinerja ini tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi mineral yang efektif mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri, mengubah orientasi dari ekspor bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tinggi,” kata Christiantoko.
Selain logam dasar, subsektor industri mesin dan perlengkapan juga mencatatkan dinamika yang kuat dengan pertumbuhan 13,98% pada 2025. Adapun kelompok sunrise lainnya yang menunjukkan performa stabil adalah industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, serta industri barang logam, elektronik, dan peralatan listrik.
Tantangan Sunset Industry dan Penyerapan Tenaga Kerja
Di sisi lain, tantangan besar masih dihadapi oleh industri padat karya. Subsektor seperti tekstil, pakaian jadi, serta kayu dan produk turunannya kini berada dalam posisi yang relatif tertinggal akibat tekanan daya saing global. Bahkan, industri karet dan plastik mencatatkan kontraksi sebesar 4,07% pada 2025.
"Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja yang besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi," kata Christiantoko.
Sementara dari sisi ketenagakerjaan, total pekerja di sektor industri pengolahan mencapai 20,3 juta orang pada Agustus 2025, atau berkontribusi sebesar 13,86% terhadap total tenaga kerja nasional. Meskipun tumbuh 1,49% dibandingkan tahun sebelumnya, dinamika penyerapan tenaga kerja antar subsektor industri juga masih menunjukkan ketimpangan.
“Meskipun perannya mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir, tapi sektor industri bisa dibilang masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Paradoks Investasi
Dari perspektif investasi, total realisasi di sektor industri pengolahan pada 2025 mencapai Rp780,9 triliun, meningkat dari Rp721,3 triliun pada 2024. Namun, kontribusi industri terhadap total investasi nasional justru menurun dari 42,08% pada 2024 menjadi 40,44% pada 2025.
“Tampak ada paradoks jika dilihat secara total. Industrinya tumbuh tinggi, namun minat investasi relatif melambat dibandingkan sektor lain. Hal ini dipicu oleh stagnasi Penanaman Modal Asing (PMA) di tengah penguatan investasi domestik (PMDN),” ungkap Christiantoko.
Menutup keterangannya, Christiantoko menekankan bahwa reindustrialisasi tidak boleh dilakukan dengan "setengah hati". Diperlukan totalitas kebijakan untuk merevitalisasi sektor yang tertinggal, meningkatkan kualitas tenaga kerja, serta memeratakan distribusi investasi agar pertumbuhan industri benar-benar inklusif dan berkelanjutan. *