indonews

indonews.id

Paus Leo XIV: Yesus Menolak Doa Pemimpin Perang yang "Tangannya Penuh Darah"

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menegaskan bahwa Yesus menolak doa dari para pemimpin yang memulai perang dan memiliki “tangan penuh darah”.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menegaskan bahwa Yesus menolak doa dari para pemimpin yang memulai perang dan memiliki “tangan penuh darah”.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Paus saat memimpin perayaan Palm Sunday di St. Peter`s Square, Minggu (29/3), di hadapan puluhan ribu umat Katolik.

Dalam khotbahnya, Paus menekankan bahwa Yesus adalah Raja Damai yang tidak dapat digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan atau perang dalam bentuk apa pun.

“Inilah Tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” ujarnya.

Ia menambahkan, Yesus tidak akan mendengarkan doa dari mereka yang terlibat dalam peperangan, bahkan menolaknya secara tegas.

“Sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,” kata Paus mengutip ayat Alkitab.

Lebih lanjut, Paus Leo juga mengingatkan kisah menjelang penyaliban Yesus, ketika Ia menegur salah satu pengikutnya yang menggunakan kekerasan.

Menurut Paus, Yesus menunjukkan teladan dengan tidak membela diri maupun mengangkat senjata, melainkan memilih jalan damai meski harus menghadapi penyaliban.

“Ia tidak mempersenjatai diri, tidak membela diri, dan tidak berperang. Ia menunjukkan wajah Tuhan yang penuh kelembutan dan selalu menolak kekerasan,” tuturnya.

Meski tidak menyebut nama negara atau pemimpin tertentu, Paus dalam beberapa pekan terakhir diketahui gencar mengkritik eskalasi konflik, termasuk perang antara Iran melawan agresi Amerika Serikat dan Israel.

Ia juga berulang kali menyerukan gencatan senjata serta mengecam serangan udara yang dinilai tidak pandang bulu dan harus dihentikan.

Berdasarkan laporan Reuters, sejumlah pejabat Amerika Serikat sempat menggunakan narasi keagamaan untuk membenarkan invasi gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, yang memicu meluasnya konflik.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan memimpin doa di Pentagon, memohon agar tindakan kekerasan dijatuhkan kepada pihak yang dianggap tidak layak menerima belas kasihan.

Pernyataan Paus Leo XIV ini kembali menegaskan sikap Gereja Katolik yang menolak penggunaan agama sebagai legitimasi perang, sekaligus menyerukan perdamaian di tengah meningkatnya ketegangan global.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas