JAWA, ZAMAN, DAN ARAH YANG TERLUPAKAN
JAWA, ZAMAN, DAN ARAH YANG TERLUPAKAN
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
(Dari Serat Centhini, Sabda Jayabaya, hingga Kalatidha: Membaca Indonesia di Tengah Pergeseran Zaman)
Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
PENDAHULUAN:
NEGERI YANG BESAR, NAMUN MULAI KEHILANGAN CARA MEMBACA
Indonesia hari ini adalah bangsa yang besar—
dalam jumlah penduduk, kekayaan alam, dan posisi geopolitik.
Namun di balik itu, ada satu gejala yang semakin terasa:
👉 kita mulai kehilangan arah, bukan karena kekurangan pengetahuan,
tetapi karena kehilangan cara membaca kehidupan.
Di tengah kebisingan informasi, percepatan teknologi, dan kompleksitas global,
kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar:
apakah yang kita hadapi benar-benar baru,
atau sebenarnya sudah pernah dibaca oleh leluhur?
I. SERAT CENTHINI: MANUSIA SEBAGAI SISTEM UTUH
Serat Centhini lahir bukan sebagai karya sastra biasa,
melainkan sebagai upaya menyelamatkan pengetahuan peradaban Jawa di masa transisi
.
Di dalamnya, manusia tidak dipahami secara terpisah, tetapi sebagai satu kesatuan:
👉 raga – rasa – cipta – jiwa
Konsep yang sering terlewat adalah:
kaweruh batin
(ilmu tanpa papan, tanpa tulisan, tetapi dialami)
Dalam Centhini, perjalanan hidup menjadi metode belajar. Manusia tidak hanya membaca, tetapi menjalani
.
Pesan dasarnya sederhana namun dalam:
kehidupan tidak cukup dipahami secara intelektual,
tetapi harus dihidupi secara utuh.
II. RANGGAWARSITA: DIAGNOSIS ZAMAN KALATIDHA
Jika Centhini berbicara tentang manusia,
maka Ranggawarsita berbicara tentang zaman.
Dalam Serat Kalatidha, ia menggambarkan fase ketika: nilai kehilangan tempat
kebenaran menjadi kabur dan manusia berjalan tanpa pegangan Ini bukan sekadar kritik sosial.
👉 Ini adalah diagnosis peradaban
Ranggawarsita tidak menyalahkan sistem semata.
Ia menunjukkan bahwa akar masalahnya adalah:
menurunnya kualitas kesadaran manusia
III. JAYABAYA: MEMBACA POLA, BUKAN MERAMAL
Jayabaya sering dipahami sebagai peramal.
Namun yang ia lakukan sesungguhnya adalah:
👉 membaca pola siklus zaman
Ia menggambarkan:
masa kejayaan
masa kemunduran
masa kebingungan
dan masa perubahan
Istilah “zaman edan” bukanlah ramalan,
melainkan peringatan.
Bahwa akan datang masa ketika:
kebenaran tidak lagi jelas
kepentingan mengalahkan nilai
dan manusia diuji kesadarannya
IV. BENANG MERAH: MANUSIA ADALAH TITIK PENENTU
Jika ketiga sumber ini disatukan:
Centhini → membentuk manusia
Kalatidha → membaca kondisi zaman
Jayabaya → memahami pola perulangan
Maka muncul satu kesimpulan besar:
krisis tidak dimulai dari sistem, tetapi dari manusia yang kehilangan keseimbangan
V. SIMBOL JAWA: BAHASA YANG MULAI TERLUPAKAN
Leluhur tidak hanya menulis dalam kitab,
tetapi juga dalam simbol kehidupan sehari-hari.
Wayang
Peta konflik manusia: antara kesadaran dan nafsu.
Keris
Jalan hidup yang berliku,
tetapi tetap memiliki arah.
Blangkon
Pengendalian pikiran,
agar tidak melampaui batas.
Burung (kutilang/kutila)
Tanda perubahan alam,
yang dahulu dibaca, kini diabaikan.
Namun hari ini:
👉 simbol masih ada,
👉 tetapi maknanya mulai hilang.
VI. INDONESIA DAN CINCIN API: KEARIFAN YANG TERPINGGIRKAN
Indonesia berdiri di atas cincin api dunia:
gunung api aktif
pertemuan lempeng
dinamika alam yang terus bergerak
Namun leluhur tidak melawan kondisi ini.
Mereka menyesuaikan:
rumah adat yang tahan gempa
hutan larangan sebagai penjaga ekosistem
tata ruang berbasis keseimbangan alam
Yang dahulu dianggap mistik,
hari ini terbukti sebagai:
👉 kearifan ekologis tingkat tinggi
VII. KONDISI HARI INI: KETIKA PENGETAHUAN TERPISAH DARI KESADARAN
Indonesia hari ini tidak kekurangan:
teknologi
data
sumber daya
Namun menghadapi masalah mendasar:
👉 pengetahuan tidak diikuti kesadaran
Akibatnya:
pembangunan kehilangan keseimbangan
eksploitasi melampaui batas
dan arah sering ditentukan oleh kepentingan jangka pendek
VIII. TITIK BALIK: MELANJUTKAN ATAU MEMBACA ULANG
Bangsa ini berada di persimpangan:
👉 apakah akan:
terus bergerak tanpa keseimbangan
atau
kembali membaca fondasi yang telah diwariskan
Warisan Jawa bukan untuk disakralkan,
tetapi untuk dipahami.
Bukan untuk kembali ke masa lalu,
tetapi untuk:
menemukan arah masa depan
PENUTUP: YANG AKAN BERTAHAN ADALAH YANG SELARAS
Sejarah menunjukkan satu hal:
peradaban tidak runtuh karena kekurangan kekuatan, tetapi karena kehilangan keseimbangan.
Serat Centhini telah membentuk manusia.
Ranggawarsita telah membaca zaman.
Jayabaya telah memberi peringatan.
Leluhur telah menunjukkan cara hidup selaras.
Pertanyaannya tinggal satu:
apakah kita masih mampu membaca semuanya sebagai satu kesatuan?
Karena pada akhirnya:
bukan yang paling kuat yang bertahan, tetapi yang paling selaras.
Jakarta. , 31 Maret 2026
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol