Seskab Teddy Tanggapi Santai Isu Ajakan Gulingkan Pemerintah oleh Saiful Mujani
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons santai pernyataan pengamat politik Saiful Mujani yang ramai diperbincangkan karena dinarasikan sebagai ajakan menggulingkan pemerintah.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons santai pernyataan pengamat politik Saiful Mujani yang ramai diperbincangkan karena dinarasikan sebagai ajakan menggulingkan pemerintah.
Teddy mengaku belum mengetahui secara rinci pernyataan tersebut lantaran kesibukannya menjalankan tugas pemerintahan.
“Saya masih banyak sekali kerjaan, saya belum lihat beliau bicara apa,” ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (7/4).
Ia juga menyebut Presiden RI Prabowo Subianto tengah fokus pada agenda yang lebih strategis dan tidak terpengaruh isu tersebut.
“Apalagi Bapak Presiden, beliau sedang mengurus hal-hal besar dan fokus pada hal yang lebih strategis,” tambahnya.
Pernyataan Saiful Mujani sebelumnya viral di media sosial melalui potongan video yang beredar luas. Dalam video tersebut, Mujani menyinggung peran rakyat dalam perubahan politik, merujuk pada peristiwa 1998.
“’98 juga tidak akan terjadi kalau rakyat dan teman-teman tidak turun,” kata Mujani dalam potongan video tersebut.
Ucapan itu menuai beragam reaksi. Mantan Kepala PCO Hasan Nasbi turut mengkritik keras pernyataan Mujani melalui akun Instagram pribadinya.
“Saya terpaksa mengungkapkan kekecewaan saya,” tulis Hasan.
Menanggapi polemik tersebut, Saiful Mujani memberikan klarifikasi dan menegaskan bahwa pernyataannya bukan bentuk makar. Ia menyebut ucapannya sebagai bagian dari ekspresi sikap politik.
“Apakah ucapan saya bisa disebut makar? Saya tegaskan itu bukan makar, tapi political engagement,” ujar Mujani dalam keterangannya.
Mujani sendiri dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Politik di UIN Syarif Hidayatullah sekaligus pendiri lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Polemik ini mencuat di tengah dinamika politik nasional, meski pemerintah menegaskan tetap fokus pada agenda strategis negara.