James R. Pualilin Dorong Perubahan Arah Pembangunan Mamasa Berbasis Solusi
Gagasan besar perubahan arah pembangunan Kabupaten Mamasa mengemuka dalam kegiatan Dialog Mamase yang digelar Selasa (21/04/2026). Melalui catatan strategis yang disusun oleh James R. Pualillin, pembangunan Mamasa didorong untuk beralih dari pola “pembangunan rutinitas” menuju “pembangunan berbasis solusi” yang menyentuh langsung akar persoalan masyarakat.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Gagasan besar perubahan arah pembangunan Kabupaten Mamasa mengemuka dalam kegiatan Dialog Mamase yang digelar Selasa (21/04/2026). Melalui catatan strategis yang disusun oleh James R. Pualillin, pembangunan Mamasa didorong untuk beralih dari pola “pembangunan rutinitas” menuju “pembangunan berbasis solusi” yang menyentuh langsung akar persoalan masyarakat.
Dalam forum yang melibatkan peserta daring tersebut, ditegaskan bahwa visi Mamasa ke depan adalah mewujudkan daerah yang “maju, mandiri, dan sejahtera” atau disingkat “Mamase”. Untuk mencapai visi itu, diperlukan pendekatan pembangunan yang terukur, terarah, dan berbasis indikator kinerja yang jelas.
Salah satu variabel utama yang disoroti adalah tata kelola pemerintahan. Pemerintah daerah didorong memperbaiki kinerja birokrasi agar lebih responsif dan efisien melalui transformasi digital pelayanan publik. Selain itu, penguatan integritas aparatur menjadi perhatian penting untuk mencegah praktik-praktik yang tidak sehat dalam pemerintahan. Keberhasilan langkah ini diukur melalui peningkatan Indeks Reformasi Birokrasi, digitalisasi layanan hingga tingkat kecamatan, serta keberlanjutan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Di sektor ekonomi, ketahanan fiskal dan kemandirian daerah menjadi fokus berikutnya. Ketergantungan terhadap dana pusat dinilai harus dikurangi melalui optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Strategi yang ditawarkan meliputi rasionalisasi belanja aparatur, peningkatan belanja yang berdampak langsung bagi masyarakat, serta penguatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan UMKM berbasis potensi pertanian dan pariwisata. Targetnya, rasio PAD terhadap APBD dapat meningkat 5 hingga 10 persen setiap tahun, sekaligus menekan angka kemiskinan ekstrem di wilayah perdesaan.
Sementara itu, pengembangan infrastruktur strategis diarahkan untuk membuka keterisolasian wilayah. Pembangunan jalan dan jembatan yang menghubungkan sentra produksi dengan pasar menjadi prioritas, disertai penguatan jaringan telekomunikasi di daerah blank spot. Indikator capaian mencakup peningkatan panjang jalan dalam kondisi mantap serta pemerataan akses listrik dan internet hingga ke pelosok desa.
Di bidang sumber daya manusia, pembangunan difokuskan pada peningkatan kualitas generasi Mamasa agar kompetitif tanpa meninggalkan nilai budaya lokal. Upaya ini dilakukan melalui revitalisasi pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan daerah, seperti pertanian modern dan pariwisata, serta penguatan layanan kesehatan dasar, khususnya penanganan stunting. Target yang ditetapkan antara lain peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan penurunan angka stunting sebesar 3 hingga 5 persen per tahun.
Dalam implementasinya, pemerintah diharapkan tidak bekerja secara sektoral, melainkan membangun kolaborasi dalam ekosistem “helix terintegrasi”. Kolaborasi ini melibatkan pemerintah sebagai regulator, akademisi sebagai penyedia analisis berbasis data, masyarakat sebagai kekuatan sosial, serta sektor swasta sebagai penggerak ekonomi dan pencipta lapangan kerja.
Secara bertahap, strategi pembangunan ini dibagi dalam tiga fase. Tahun 2026 menjadi fase konsolidasi melalui penataan data, penguatan sistem merit, dan pembenahan regulasi. Selanjutnya, periode 2027–2028 difokuskan pada ekspansi pembangunan infrastruktur dan optimalisasi sektor unggulan. Adapun tahun 2029 diarahkan pada pemantapan kemandirian ekonomi serta evaluasi dampak pembangunan.
Menutup catatan strategis tersebut, James menyampaikan bahwa Mamasa sejatinya tidak kekurangan potensi. Tantangan utama terletak pada keberanian menentukan prioritas dan menghadirkan terobosan inovatif. Pembangunan, disebutkan, tidak semata diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun, melainkan dari sejauh mana manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Penyusun: James R. Pualillin (Dosen IPDN / Ketua IV MIPI)