Membaca Ulang Manusia di Tengah Mesin: Tafsir atas Gagasan Riri Satria tentang Rutinitas yang Diam-Diam Berubah
Membaca Ulang Manusia di Tengah Mesin: Tafsir atas Gagasan Riri Satria tentang Rutinitas yang Diam-Diam Berubah
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
oleh: Emi Suy
Pagi hari kita membuka mata, tetapi bukan lagi jendela yang pertama kali kita lihat melainkan layar ponsel atau smartphone. Notifikasi menjadi suara yang membangunkan kesadaran, algoritma menentukan apa yang kita baca, dan mesin perlahan menyusun ritme hari kita tanpa kita sadari. Kita bekerja dengan bantuan teknologi, berkomunikasi melalui perangkat, bahkan mulai berpikir dalam pola yang dibentuk oleh algoritma dan sistem digital.
Rutinitas ini tampak biasa, nyaris tak terasa sebagai perubahan besar. Namun sesungguhnya, di balik kebiasaan itu, sedang berlangsung pergeseran mandala, jangan-jangan manusia tidak lagi sepenuhnya menjadi pengendali hidupnya, melainkan berbagi kendali dengan mesin.
Dalam konteks inilah gagasan Riri Satria menemukan relevansinya. Apa yang ia uraikan tentang intelligent economy dan creative economy bukan sesuatu yang jauh atau abstrak ia sudah hidup di dalam keseharian kita. Setiap keputusan kecil yang kita ambil, setiap ide yang kita cari melalui mesin, setiap karya yang kita bantu ciptakan dengan teknologi semuanya adalah bagian dari perubahan besar itu.
Saya menerima kiriman makalah beliau yang berjudul “Kapasitas Organisasi dan Kompetensi SDM pada Era Intelligent Economy serta Creative Economy” yang dibawakan pada sebuah konferens di Jakata pada akhir April 2026. Lalu tulisan saya ini merupakan hasil refleksi serta tanggapan saya terhadap makalah tersebut. Selalu menarik untuk menyimak pemikian Bang Riri, demikian saya biasa memanggil beliau, karena menempatan pembahasan teknologi dari perspektif kebudayaan, kemanusiaan, serta peradaban. Tiga bidang terakhir tersebut sangat menarik minat saya sebagai pencinta sastra dan kebudayaan, serta aktvis kemanusiaan.
Perubahan zaman tidak pernah sekadar soal teknologi. Ia selalu menyelinap lebih dalam mengubah cara manusia berpikir, merasa, dan memaknai dirinya sendiri. Dalam gagasan yang disampaikan Riri Satria, kita tidak hanya diajak memahami pergeseran menuju intelligent economy dan creative economy, tetapi juga dihadapkan pada pertanyaan yang lebih sunyi: di mana posisi manusia ketika mesin mulai belajar menjadi “manusia”?
Sejarah kecerdasan buatan yang disinggung dari mesin catur hingga kemenangan Deep Blue atas Kasparov, bukan sekadar narasi kemajuan teknologi. Ia adalah metafora tentang runtuhnya batas yang dulu kita yakini sacral bahwa ada wilayah kecerdasan yang hanya dimiliki manusia. Ketika mesin mampu berpikir, kita mulai kehilangan keistimewaan itu. Namun justru di titik kehilangan itulah, manusia dipaksa menemukan ulang dirinya.
Riri Satria tidak berhenti pada nostalgia sejarah. Ia menunjukkan bahwa kecerdasan buatan kini telah melampaui fungsi analitik. Kehadiran generative AI menggeser teknologi dari alat menjadi mitra kreatif. Di sini persoalan menjadi lebih kompleks. Jika mesin dapat menulis puisi, melukis, bahkan membangun narasi emosional, maka apa yang tersisa sebagai “milik manusia”? Jawaban yang ditawarkan tidak eksplisit, tetapi dapat dibaca di antara lapisan gagasannya bahwa manusia tidak lagi menjadi produsen tunggal karya, melainkan kurator makna.
Dalam skema prompting - generating - finalizing, terlihat jelas bahwa proses kreatif telah berubah struktur. Mesin menghasilkan kemungkinan; manusia memilih, menafsir, dan memberi jiwa. Ini adalah pergeseran radikal. Kreativitas tidak lagi diukur dari kemampuan mencipta dari nol, tetapi dari kemampuan memberi makna pada yang sudah diciptakan bersama mesin.
Di sinilah letak paradoksnya,semakin canggih mesin, semakin manusia dituntut menjadi lebih manusiawi, karena mesin tidak memiliki pengalaman eksistensial seperti luka, kehilangan, ingatan tubuh, dan kesadaran akan kematian. Maka kreativitas masa depan bukan sekadar soal ide, tetapi soal kedalaman pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya ditiru algoritma.
Perjalanan dari agriculture economy hingga intelligent economy menunjukkan bahwa nilai selalu berpindah dari tanah, ke mesin, ke jaringan, ke pengetahuan, hingga kini ke kecerdasan. Namun dalam creative economy, nilai kembali ke sesuatu yang sangat manusiawi, yaitu imajinasi.
Ini menarik, karena di satu sisi teknologi menjadi semakin dominan, tetapi di sisi lain justru imajinasi manusia menjadi sumber nilai utama. Seolah-olah, setelah berkeliling jauh melalui mesin dan data, ekonomi akhirnya kembali ke ruang batin manusia.
Namun ini bukan romantisme. Ini adalah tuntutan. Manusia harus memiliki kompetensi yang jauh lebih kompleks, yaitu digital, kognitif, sosial, hingga reflektif. Ia tidak cukup hanya bekerja, ia harus terus belajar, beradaptasi, dan membangun kesadaran diri. Dalam konteks organisasi, ssaat ini organisasi tidak lagi cukup stabil, ia harus lentur, bahkan cair yang disebut dalam makalah Riri Satria ebagai dynamic apabilties, berupa kemampuan menemukan bebagai solusi menjadi cara baru untuk bertahan di tengah perubahan. Menariknya, struktur ini menyerupai cara manusia menghadapi kehidupan. Artinya, organisasi modern sedang meniru manusia. Namun ironisnya, manusia sendiri sering belum cukup luwes untuk berubah.
Perkembangan teknologi juga membawa ancaman. Deepfake menciptakan realitas yang tampak nyata tetapi palsu. Batas antara fakta dan rekayasa menjadi kabur. Di sini, kita tidak hanya menghadapi tantangan teknologi, tetapi krisis kebenaran. Tanpa kesadaran kritis, manusia dapat dengan mudah terjebak dalam realitas yang ia sendiri tidak pahami.
Transformasi museum yang disampaikan Riri Satria menunjukkan bahwa masa depan bukan tentang mengganti masa lalu, tetapi menghidupkannya kembali dengan cara baru. Museum menjadi ruang interaktif, digital, dan imersif. Ia tidak lagi hanya menyimpan sejarah, tetapi menciptakan pengalaman.
Dari seluruh gagasan ini, ada beberapa hal yang bisa kita petik bukan sebagai kesimpulan final, tetapi sebagai bekal hidup di masa kini dan yang akan datang.
- Pertama, kita perlu merawat kesadaran. Di tengah dunia yang semakin otomatis, kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir kritis, dan mempertanyakan apa yang kita lihat menjadi sangat penting. Tidak semua yang tampak nyata adalah kebenaran.
- Kedua, kita perlu merawat kemanusiaan kita sendiri. Ketika mesin menjadi semakin cerdas, yang membuat kita tetap relevan bukanlah kecepatan atau efisiensi, tetapi empati, pengalaman, dan kemampuan memberi makna.
- Ketiga, kita perlu belajar terus-menerus. Dunia tidak lagi memberi ruang bagi mereka yang statis. Belajar bukan lagi fase, tetapi cara hidup.
- Keempat, kita perlu membangun relasi dengan manusia lain, dengan teknologi, dan dengan diri sendiri. Karena masa depan tidak akan dibangun oleh individu yang terisolasi, tetapi oleh ekosistem yang saling terhubung.
- Kelima, kita perlu menerima bahwa perubahan adalah keniscayaan. Bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami.
Menurut saya, mungkin pada akhirnya, masa depan bukan tentang manusia melawan mesin. Melainkan tentang bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin menyerupai mesin.
Jakarta, 23 April 2026