MENJADI PENULIS DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE
MENJADI PENULIS DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Menyambut 9 Tahun Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA
Oleh Denny JA
(Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA)
Ada sebuah buku yang diam-diam mengguncang dunia.
Bukan dengan pedang.
Bukan dengan revolusi berdarah.
Tapi dengan kata-kata yang tak bisa lagi diabaikan.
Uncle Tom’s Cabin, 1852, karya Harriet Beecher Stowe, lahir di tengah Amerika yang masih membenarkan perbudakan. Ia tidak datang sebagai teori.
Ia datang sebagai kisah. Tentang manusia yang dijadikan barang. Tentang ibu yang kehilangan anaknya karena dijual. Tentang seorang budak bernama Tom yang memilih mempertahankan iman daripada tunduk pada kekejaman.
Buku itu membuat orang-orang yang sebelumnya diam, mulai merasa bersalah.
Ia mengubah angka menjadi wajah.
Mengubah statistik menjadi air mata.
Mengubah jarak menjadi kedekatan.
Abraham Lincoln, dalam sebuah legenda sejarah, disebut menyapa Stowe sebagai perempuan kecil yang memulai perang besar itu.
Entah benar atau tidak, satu hal pasti. Buku itu mengubah kesadaran. Ia membuat dunia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.
Dan dari sana, perbudakan mulai kehilangan legitimasi moralnya.
-000-
Buku itu adalah contoh paling klasik dari peran abadi seorang penulis. Memberi kesaksian atas ketidakadilan zamannya.
Hari ini, di era AI, kesaksian itu justru semakin penting.
Mesin kini bisa menulis. Bahkan sangat baik. Ia bisa menyusun argumen, merangkai kalimat, dan meniru gaya dengan presisi tinggi.
Tapi arah dan jiwa tulisan itu tetap milik manusia.
Tanggal 29 April 2026, Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA genap berusia sembilan tahun. Empat tahun terakhir, saya diberi kehormatan untuk memimpin sebagai ketua umum.
Di momen ini, saya tidak ingin sekadar merayakan pencapaian. Saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang lebih mendasar.
Apa arti menjadi penulis hari ini. Ketika semua orang bisa menulis, apa yang masih membuat tulisan kita perlu ada.
Jawabannya tidak lagi terletak pada keterampilan. Melainkan pada keberanian.
Keberanian untuk menuliskan apa yang sebenarnya ingin kita sembunyikan.
Inilah tesis yang semakin terasa di era AI. Yang terancam bukan penulis. Yang terancam adalah kejujuran.
Mungkin masalahnya bukan AI yang terlalu pintar. Mungkin kita yang terlalu cepat berhenti jujur, terlalu cepat puas pada kalimat rapi yang menyembunyikan luka yang seharusnya kita akui.
-000-
Tiga alasan menjadi penulis yang tak bisa diserahkan kepada Artificial Intelligence.
Pertama, penulis memberi kesaksian atas ketidakadilan zaman.
Sejarah selalu berubah karena ada yang berani mencatat. Tanpa kesaksian, ketidakadilan menjadi sunyi.
Lihatlah karya Aleksandr Solzhenitsyn tentang Gulag di Uni Soviet. Ia tidak hanya menulis tentang sistem penjara. Ia menulis tentang penderitaan yang ingin dilupakan negara.
Bukunya membuka mata dunia bahwa kekuasaan bisa membungkam kebenaran, tapi tidak selamanya.
Penulis mengubah fakta menjadi pengalaman. Ia membuat pembaca tidak hanya tahu, tapi merasakan.
Di era AI, informasi berlimpah. Tapi empati tidak otomatis lahir dari data.
Kesaksianlah yang menghidupkan empati itu. Dan kesaksian selalu membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk berpihak.
Keberanian untuk tidak netral ketika yang dihadapi adalah ketidakadilan.
Namun, di tengah banjir informasi AI yang rentan manipulasi dan halusinasi, penulis kini memikul tugas baru: menjadi penjaga akurasi yang memastikan bahwa kebenaran tidak tenggelam dalam lautan narasi buatan.
-000-
Kedua, penulis memberi arah untuk kemajuan.
Dunia tidak kekurangan ide. Tapi sering kehilangan arah.
Tulisan-tulisan Jean-Jacques Rousseau tentang kontrak sosial dulu dianggap radikal. Tapi dari sana lahir bahasa tentang hak rakyat, tentang legitimasi kekuasaan, dan tentang demokrasi modern.
Penulis tidak hanya menggambarkan dunia apa adanya. Ia membayangkan dunia sebagaimana seharusnya.
Ia membuka jalan yang belum ada.
Di era AI, arah menjadi semakin penting. Karena ketika semua kemungkinan tersedia, manusia justru lebih mudah tersesat.
Penulis membantu kita memilih bukan dengan memerintah, tapi dengan memperjelas apa yang layak diperjuangkan.
Ia menjaga agar kemajuan tidak kehilangan jiwa.
-000-
Ketiga, penulis memberi makna atas kehidupan.
Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat biasa. Mengapa kehilangan terasa begitu dalam. Mengapa cinta tetap bertahan meski dilukai.
Leo Tolstoy dalam The Death of Ivan Ilyich tidak hanya menceritakan kematian. Ia mengajak kita melihat bagaimana seseorang menyadari, di akhir hidupnya, bahwa ia belum benar-benar hidup.
Tulisan itu tidak memberi jawaban. Ia memberi kesadaran.
Penulis mengubah pengalaman pribadi menjadi cermin bagi banyak orang.
Ia membuat seseorang yang membaca merasa tidak sendirian.
Dan di situlah makna lahir.
Makna tidak diciptakan oleh kecanggihan bahasa. Makna lahir dari kejujuran yang berani diakui.
-000-
Ada dua buku yang dapat memperkaya wawasan kita tentang profesi penulis.
Pertama, The Death of the Author, ditulis oleh Roland Barthes, 1977.
Roland Barthes menggugat gagasan klasik tentang otoritas penulis. Ia menyatakan bahwa makna sebuah teks tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh penulis, tetapi oleh pembaca.
Di era AI, gagasan ini menjadi semakin relevan. Ketika teks bisa diproduksi oleh mesin, yang menjadi penting bukan lagi siapa yang menulis, tetapi bagaimana teks itu dihidupi oleh pembaca.
Barthes mengajak kita melihat bahwa tulisan adalah ruang pertemuan antara berbagai makna. Ini memperkuat posisi penulis bukan sebagai otoritas mutlak, tetapi sebagai pembuka ruang interpretasi.
Namun di tengah itu semua, satu hal tetap tidak berubah. Hanya manusia yang bisa menghadirkan kejujuran sebagai sumber makna.
Kedua, The Creative Act: A Way of Being, ditulis oleh Rick Rubin, 2023.
Rick Rubin melihat kreativitas bukan sebagai hasil, tetapi sebagai cara hidup. Ia menekankan bahwa kreativitas lahir dari kepekaan terhadap dunia, dari kemampuan untuk mendengar hal-hal yang tidak terlihat.
Buku ini mengingatkan bahwa di tengah teknologi yang semakin canggih, yang paling penting adalah kesadaran manusia itu sendiri.
AI bisa membantu menghasilkan karya. Tapi tidak bisa menggantikan kehadiran manusia yang penuh perhatian dan kejujuran.
Rubin mengajak penulis untuk kembali ke sumber terdalam kreativitas. Pengalaman hidup yang autentik.
Dan dari sanalah tulisan yang hidup lahir.
-000-
Saya pernah mengalami satu momen kecil yang mengubah cara saya melihat menulis.
Suatu malam, saya membaca kembali tulisan lama saya.
Secara teknis, tulisan itu buruk. Kalimatnya panjang. Strukturnya kacau.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa saya temukan di banyak tulisan hari ini. Kejujuran yang mentah.
Saya ingat menulisnya dalam keadaan gelisah. Tidak ada rencana. Tidak ada strategi.
Hanya ada dorongan untuk tidak lagi memendam.
Dan ketika saya membaca ulang, saya sadar. Tulisan itu hidup.
Tulisan itu tentang ayah saya. Tentang kemarahan yang tak pernah saya ucapkan, dan rindu yang datang terlambat. Saya menulisnya bukan untuk diterbitkan, tapi agar saya berhenti berpura-pura baik-baik saja.
Hari ini, saya bisa menulis lebih rapi. Lebih cepat. Bahkan dengan bantuan AI.
Tapi saya harus terus mengingat satu hal.
Tulisan yang baik bukan hanya yang benar. Tulisan yang baik adalah yang berani.
-000-
Di era AI, penulis tidak lagi diukur dari kemampuannya merangkai kata.
Ia diukur dari keberaniannya menjadi manusia.
Ia memberi kesaksian agar dunia tidak lupa. Ia memberi arah agar kemajuan tidak kehilangan jiwa.
Ia memberi makna agar kehidupan tidak terasa hampa.
Dan selama manusia masih mencari kebenaran, arah, dan makna, penulis akan selalu dibutuhkan.
Di tengah dunia yang bisa menulis segalanya, hanya penulis yang jujur yang sanggup menuliskan apa yang bahkan ia sendiri takut untuk akui.***
Jakarta, 1 Mei 2026
REFERENSI
1. The Death of the Author
Roland Barthes
Hill and Wang, 1977
2. The Creative Act: A Way of Being, Rick Rubin, Penguin Press, 2023
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World
https://www.facebook.com/share/18FMjXERzN/?mibextid=wwXIfr