Opini

JAM GADANG ITU 100 TAHUN MENJADI SAKSI SEJARAH

Oleh : luska - Selasa, 21/04/2026 10:22 WIB


- Pengantar Buku “Jam Gadang 100 Tahun: Simfoni 100 Puisi”

Oleh Denny JA

Malam itu, hujan turun pelan di Bukittinggi. Lampu-lampu kota bergetar di genangan air, seperti kenangan yang enggan pulang.

Di bawah bayang Jam Gadang, seorang lelaki tua duduk sendirian. Tangannya gemetar. Matanya menatap ke atas, ke empat wajah waktu yang tak pernah lelah.

Ia berbisik lirih.

“Di sinilah dulu mereka ditembak.”

Lalu hening.  Tidak ada suara lain, selain dentang jam.

Teng.
Teng.
Teng.

Setiap dentang seperti mengetuk pintu yang tidak ingin dibuka. Sejarah yang disimpan, bukan untuk dilupakan, tetapi untuk diingat diam-diam.

Di momen itu saya mengerti.
Jam Gadang tidak hanya berdiri. Ia menjaga sesuatu yang lebih tua dari dirinya sendiri. Ia menjaga ingatan manusia.

-000-

Buku “Jam Gadang 100 Tahun: Simfoni 100 Puisi” adalah sebuah karya kolektif yang langka. Ia bukan sekadar antologi puisi. Ia adalah perjumpaan lintas bangsa yang memusatkan diri pada satu simbol: Jam Gadang.

Lebih dari seratus penyair dari berbagai negara menulis tentang satu menara di Bukittinggi. Dari Indonesia hingga Tunisia, dari Malaysia hingga Eropa.

Mengapa buku ini ditulis? Karena satu abad bukan hanya angka. Ia adalah perjalanan makna.

Jam Gadang lahir dari kolonialisme, melewati pendudukan Jepang, dan tumbuh dalam kemerdekaan Indonesia. Ia berubah wajah, tetapi tidak kehilangan jiwa.

Seperti tertulis dalam salah satu puisi: “Dari lambang kuasa menjadi lambang kebanggaan.”

Isi buku ini mencakup sejarah, identitas, trauma, cinta, dan refleksi filosofis tentang waktu.

Buku ini tidak hanya mengumpulkan puisi. Ia mengumpulkan cara manusia memandang waktu.

-000-

Merenungkan buku ini, puisi di dalamnya, dan 100 tahun usia Jam Gadang, terasa tiga keistimewaan yang membuatnya berbeda.

Pertama, ia menjadikan lokal sebagai universal.

Jam Gadang, sebuah menara di Bukittinggi, dalam buku ini menjelma menjadi panggung dunia. Penyair dari berbagai negara menulis tentangnya, seolah-olah mereka pernah berdiri di sana, menghirup kabut yang sama, mendengar dentang yang sama.

Yang terjadi bukan sekadar apresiasi, tetapi penyatuan rasa.

Seorang penyair dari Tunisia menulis tentang kematian di negerinya, lalu puisinya berdiri di bawah bayang Jam Gadang. Dalam sekejap, Bukittinggi bukan lagi sekadar kota. Ia menjadi ruang bagi tragedi global.

Di sisi lain, penyair lokal menulis tentang pasar, tentang kopi, tentang perantau yang pulang. Hal-hal kecil yang tampak sederhana, tetapi ketika dibaca oleh dunia, ia menjadi jendela untuk memahami manusia Indonesia.

Sejarah nyata diaspora Minangkabau, yang merantau ke berbagai penjuru dunia, membuat Jam Gadang seolah hadir di banyak tempat. Ia hidup dalam ingatan yang dibawa pulang dan pergi.

Di sinilah kekuatan buku ini. Ia menunjukkan bahwa yang paling lokal justru bisa menjadi yang paling universal.

-000-

Kedua, ia menyatukan sejarah dan emosi.

Buku ini tidak hanya menceritakan sejarah. Ia membuat kita merasakannya.

Ketika membaca puisi tentang tahun 1958, kita tidak hanya tahu bahwa terjadi konflik PRRI di Sumatera Barat. Kita seperti berdiri di sana. Malam yang mencekam. Ratusan orang dikumpulkan. Dituduh. Lalu ditembak tanpa proses.

Sejarah mencatat angka. Puisi menghidupkan manusia di balik angka itu. Seorang ayah yang tidak pulang. Seorang ibu yang menunggu tanpa jawaban. Seorang anak yang tumbuh tanpa pernah tahu mengapa ayahnya hilang.

Peristiwa nyata seperti pengibaran merah putih pertama di Bukittinggi juga terasa dekat. Kita bisa membayangkan tangan yang gemetar, harapan yang belum pasti, dan keberanian yang lahir dari ketakutan.

Melalui puisi, sejarah tidak lagi dingin. Ia berdenyut. Ia berdarah. Ia menangis.

Dan pembaca tidak hanya memahami sejarah. Ia ikut memikulnya.

-000-

Ketiga, ia menghidupkan monumen.

Buku ini mengubah cara kita melihat Jam Gadang. Ia bukan lagi bangunan. Ia menjadi makhluk yang hidup dalam diam.

Dalam kenyataan, Jam Gadang telah menyaksikan banyak peristiwa: penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, pengibaran kemerdekaan, hingga tragedi PRRI. Ia tetap berdiri ketika manusia runtuh. Ia tetap berdetak ketika suara manusia terdiam.

Gempa besar pernah mengguncang Sumatera Barat. Bangunan runtuh. Ketakutan menyebar. Namun Jam Gadang tetap berdiri, meski sempat miring. Seolah ia menolak jatuh, karena ia tahu terlalu banyak yang bergantung pada keberadaannya sebagai simbol.

Dalam puisi-puisi buku ini, Jam Gadang bukan penunjuk waktu. Ia penjaga ingatan. Ia melihat anak-anak berlari, pedagang berjualan, wisatawan berfoto. Tetapi ia juga mengingat suara tembakan, tangisan, dan doa yang pernah memenuhi ruang di sekitarnya.

Ia tidak berbicara. Tetapi justru karena itu, ia menjadi lebih jujur.

-000-

Jam Gadang berdiri pertama kali pada tahun 1926, lahir sebagai hadiah Ratu Wilhelmina kepada pemerintah kolonial di Fort de Kock.

Namun ia dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto dan dibangun oleh tangan rakyat.

Ia lahir dari kontradiksi.
Kekuasaan dan perlawanan.

Ia melewati tiga zaman. Belanda, Jepang, dan Indonesia merdeka.

Atapnya berubah. Dari kubah kolonial, menjadi pagoda Jepang, lalu gonjong Minangkabau. Ini bukan sekadar perubahan bentuk. Ini perjalanan identitas.

Di sekitar menara ini, pernah berkibar merah putih pertama di Bukittinggi. Harapan lahir di udara yang belum pasti.

Di tempat yang sama, pada 1958, ratusan orang ditembak tanpa pengadilan. Tubuh-tubuh itu jatuh di bawah bayang Jam Gadang. Ia tidak bergerak. Ia tidak bisa menolong. Ia hanya menyimpan.

Ia juga pernah diguncang gempa. Tanah bergetar. Bangunan runtuh. Manusia panik. Namun ia tetap berdiri.

Selama 100 tahun, dunia berubah. Kota menjadi lebih ramai. Manusia lebih sibuk.

Namun Jam Gadang tetap di sana.

Ia tidak ikut berubah seperti manusia. Ia hanya berdiri.

Dan dalam diamnya, ia menjadi lebih hidup dari siapa pun.

-000-

Saya pernah berdiri di bawah Jam Gadang pada suatu pagi yang sangat sunyi. Kabut masih menggantung. Kota belum sepenuhnya bangun.

Saya datang bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai seseorang yang ingin mengerti.

Saya melihat seorang ibu menyapu pelataran. Tidak ada yang memotret. Tidak ada yang memperhatikan. Tetapi di situlah kehidupan berjalan paling jujur.

Saya duduk di bangku batu, memandang ke atas. Saya teringat perjalanan panjang saya sendiri. Dari ruang diskusi politik, dari perdebatan tentang kekuasaan, hingga kesadaran sederhana bahwa yang paling bertahan bukan ide besar, tetapi ingatan kecil yang dijaga.

Di sana, saya merasa kecil.

Bukan karena menara itu tinggi. Tetapi karena saya sadar, saya hanya satu detik dalam sejarah panjang yang tidak akan mengingat saya.

Namun justru di situlah saya menemukan ketenangan.

Bahwa hidup tidak harus abadi untuk bermakna.
Bahwa cukup menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.

Dan Jam Gadang mengajarkan itu tanpa kata.

-000-

Dua buku di bawah ini dapat memperkaya pandangan kita soal jam gadang dan sejarah seputarnya.

Pertama, buku berjudul Big Ben: The Great Clock and the Bells at the Palace of Westminster, karya 
Chris McKay, Oxford University Press, 2010.

Buku ini mengisahkan sejarah Big Ben, menara jam ikonik di London. Ia menjadi simbol ketepatan, kekuasaan, dan identitas nasional Inggris.

Yang paling relevan dengan Jam Gadang adalah bagaimana sebuah menara jam bisa melampaui fungsi teknisnya. 

Big Ben bukan hanya alat pengukur waktu. Ia adalah simbol stabilitas negara, representasi kekuatan imperium, dan pusat kesadaran publik.

Chris McKay menjelaskan bahwa Big Ben dirancang dengan presisi tinggi, sebagai bentuk kepercayaan diri Inggris di era industri. Setiap detiknya adalah pernyataan bahwa negara mampu mengatur waktu, dan dengan itu mengatur kehidupan.

Namun, seperti Jam Gadang, Big Ben juga menjadi saksi sejarah:
perang, perubahan politik, dan transformasi masyarakat.

Perbedaannya terletak pada asalnya. Big Ben lahir dari kekuatan internal negara. Jam Gadang lahir dari kolonialisme.

Tetapi keduanya bertemu pada satu titik: menjadi simbol yang melampaui asal-usulnya.

Jam Gadang, seperti Big Ben, akhirnya bukan milik masa lalu.
Ia milik kesadaran kolektif.

-000-

Kedua, buku Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, ditulis oleh 
Benedict Anderson, Verso, 1983

Benedict Anderson menjelaskan bahwa bangsa adalah komunitas yang dibayangkan. Ia hidup melalui simbol, narasi, dan pengalaman bersama.

Jam Gadang adalah simbol itu.

Ia membantu masyarakat Minangkabau membayangkan dirinya sebagai bagian dari Indonesia.

Melalui kehadirannya di ruang publik, ia menciptakan pengalaman bersama: pasar, pertemuan, perjuangan, kenangan.

Puisi-puisi dalam buku ini memperkuat fungsi itu. Mereka menjadikan Jam Gadang sebagai ruang bersama, tempat identitas dibangun dan dirawat.

Menurut Anderson, simbol seperti ini adalah fondasi kesadaran kolektif.

Jam Gadang bukan sekadar menara.
Ia adalah bahasa diam yang menyatukan manusia dalam satu ingatan.

-000-

Buku ini bukan  hanya tentang Jam Gadang. Ia juga tentang manusia yang ingin diingat. Tentang sejarah yang menolak hilang. Tentang waktu yang terus berjalan, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.

Dalam satu menara ini, seratus tahun sejarah, luka, harapan, dan teori tentang bangsa berkumpul diam-diam; dan pada akhirnya, kita menyadari, kitalah yang diuji oleh waktu, bukan sebaliknya.

Kini, Jam Gadang bukan lagi sekadar nisan bagi tragedi masa lalu, melainkan mercusuar yang menyatukan luka kolektif menjadi energi puitis, tempat rekonsiliasi bangsa dirayakan dalam setiap detik detak jantungnya.

Ia mengajarkan kita satu hal. Bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita ada, tetapi apakah kita meninggalkan jejak yang layak dikenang.

Jam Gadang tidak mengukur waktu. Ia mengukur siapa yang layak dikenang oleh waktu.***

Singapura, 21 April 2026

REFERENSI

1. Big Ben: The Great Clock and the Bells at the Palace of Westminster – Chris McKay, Oxford University Press, 2010
2. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism – Benedict Anderson, Verso, 1983

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

https://www.facebook.com/share/18mKLXPkoS/?mibextid=wwXIfr

TAGS : Denny ja

Artikel Lainnya