Iran Serang Balik AS, Pangkalan Udara Jadi Sasaran Utama
Iran melancarkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dengan menargetkan pangkalan udara militer yang disebut menjadi sumber agresi Washington. Serangan tersebut dilakukan pada Kamis (28/5), menyusul eskalasi konflik antara kedua negara di kawasan Teluk.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Iran melancarkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dengan menargetkan pangkalan udara militer yang disebut menjadi sumber agresi Washington. Serangan tersebut dilakukan pada Kamis (28/5), menyusul eskalasi konflik antara kedua negara di kawasan Teluk.
Garda Revolusi Iran menyatakan pangkalan udara AS menjadi sasaran utama operasi militer balasan setelah serangan udara Amerika ke wilayah sekitar Bandara Bandar Abbas pada pagi hari.
“Menyusul agresi pagi ini oleh militer AS yang menyerang lokasi di pinggiran Bandara Bandar Abbas menggunakan proyektil udara, pangkalan udara Amerika yang menjadi sumber serangan tersebut ditargetkan pada pukul 04.50 pagi,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran yang dikutip stasiun televisi pemerintah IRIB, Kamis (28/5).
Meski demikian, pihak Garda Revolusi tidak mengungkap lokasi spesifik pangkalan udara yang menjadi target serangan balasan. Di sisi lain, Kuwait, salah satu sekutu dekat AS di kawasan, mengonfirmasi pihaknya telah merespons ancaman rudal dan drone pada Kamis pagi.
Ketegangan meningkat setelah militer AS kembali melancarkan bombardir terhadap Iran dengan fokus pada operasi drone milik Teheran. Seorang pejabat AS menyebut langkah itu diambil karena drone Iran dinilai mengancam keselamatan pasukan Amerika serta jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, salah satu rute energi terpenting dunia.
Pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada Reuters pada Rabu (27/5), militer AS berhasil menembak jatuh empat drone serang Iran. Selain itu, Washington juga menyerang stasiun kendali darat di kota pelabuhan Bandar Abbas yang diduga akan digunakan untuk meluncurkan drone kelima.
Perkembangan terbaru ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan Iran mengenai adanya kesepakatan untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Dampak eskalasi konflik langsung terasa di pasar global. Harga minyak dunia kembali melonjak setelah sempat mengalami tren penurunan sehari sebelumnya. Kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga tersebut.