PERANG EROPA TIMUR MENUJU PERDAMAIAN ?
PERANG EROPA TIMUR MENUJU PERDAMAIAN ?
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh: JIMMY H SIAHAAN
Keprihatinan Russia bisa dipahami, hal ini dijelaskan John Mearsheimer, dalam majalah Foreign Affairs, "Akar utama krisis Ukraina saat itu adalah ekspansi NATO dan komitment Washington untuk mengeluarkan Ukraina dari orbit Moskwa dan mengintegrasikan ke Barat. Krisis ini dilihat Putin sebagai "ancaman langsung atas kepentingan utama Russia.
Richard Sakwa, dalam studinya, lengkap dan jernih, dalam Frontline Ukraine : Crisis in Borderlands (2015), krisis dimulai tahun 2014. Dalam kalimat Sakwa, upaya mewujudkan "Wider Europe" ( NATO) versus "Greater Europe" (RUSSIA) didukung Michael Gorbachev.
George Kennan, telah memperingatkan, bahwa perluasan NATO merupakan "kesalahan strategis". George Kennan adalah seorang diplomat dan sejarawan Amerika yang terkenal sebagai arsitek kebijakan pembendungan Perang Dingin.
Kerangka strategisnya memandu kebijakan luar negeri AS selama lebih dari empat dekade, bertujuan untuk mencegah perluasan komunisme Soviet melalui langkah-langkah politik dan ekonomi daripada konflik militer langsung.
Perang Modern Ukraina
Konflik di Ukraina telah menjadi laboratorium terbesar dan wajah utama perang modern.
Karakteristik utamanya mencakup masifnya penggunaan teknologi otonom, integrasi kecerdasan buatan (AI), serta pertempuran di ranah siber dan elektronik yang mengubah cara pandang militer global terhadap taktik tempur.
Perang Drone dan Sistem Nirawak Dominasi Udara Berbiaya besar mematikan skala kecil hingga menengah digunakan secara masif oleh kedua belah pihak untuk pengintaian, koreksi artileri, hingga serangan kamikaze.
Ukraina menghadapi tantangan taktis besar karena harus menangkis rentetan serangan drone murah Rusia menggunakan rudal pertahanan udara yang bernilai jutaan dolar per tembakannya.
Ukraina memproduksi dan menguji bom udara berpandu serta drone jarak jauh secara mandiri guna menyerang target strategis jauh di belakang garis pertahanan musuh.
Kecerdasan Buatan (AI) dan Data Real Time Pengenalan Target Otomatis: Sistem AI diintegrasikan untuk menganalisis data satelit, sinyal radio, dan rekaman drone guna mengidentifikasi posisi musuh secara akurat dan dalam waktu singkat.
Dukungan intelijen, satelit, dan persenjataan modern dari aliansi Barat/NATO memberikan keunggulan komparatif bagi militer Ukraina.
Internet berbasis satelit (seperti Starlink) menjadi urat nadi komunikasi militer Ukraina dan menjaga konektivitas logistik, sementara peperangan elektronik (jamming) aktif melumpuhkan navigasi GPS.
Serangan siber menjadi alat perang antarnegara untuk melumpuhkan infrastruktur vital, perbankan, hingga jaringan komunikasi musuh.
Pergeseran Taktik Militer Garis Depan Statis. Meskipun teknologi bergerak sangat cepat, perang parit dan artileri berat klasik tetap mendominasi wilayah pendudukan yang kini mencapai sekitar 20% dari total teritori Ukraina.
Solidaritas sipil, penggalangan dana publik, hingga partisipasi relawan teknologi menjadi bagian krusial yang menopang ketahanan nasional Ukraina menghadapi agresi.
Berbagi Pengalaman dengan Timur Tengah
Kehadiran Ukraina di Timur Tengah tidak berupa pengerahan armada pesawat nirawak serang secara langsung, melainkan sebagai pemasok keahlian pertahanan anti-drone dan penerapan teknologi penangkal drone untuk membantu Amerika Serikat dan negara-negara kawasan dalam menghadapi gempuran drone Iran.Keterlibatan Ukraina tersebut mencakup.
Ukraina mengerahkan puluhan personel dan ahli militer anti-drone ke setidaknya empat negara di Timur Tengah. Mereka memberikan saran strategis dan rekomendasi teknis untuk menangkis drone Shahed buatan Iran.
Bantuan ini didasarkan pada pengalaman tempur Ukraina yang sukses mengidentifikasi dan menembak jatuh ribuan drone Iran yang digunakan Rusia dalam perang.
Amerika Serikat mengadopsi teknologi sistem penangkal drone buatan Ukraina (seperti sistem Sky Map) untuk ditempatkan di pangkalan mereka di Arab Saudi guna mendeteksi dini serangan.
Ukraina secara tegas membantah tuduhan Iran yang pernah mengklaim telah menyerang fasilitas dan gudang drone Ukraina di Dubai, Uni Emirat Arab.
Ukraina Menang Perang ?
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengeklaim Ukraina sebagai pemenang perang di medan pertempuran atas Rusia. Menurutnya, Moskow semakin putus asa karena menghadapi kesulitan militer dan ekonomi yang terus meningkat sejak invasi dimulai empat tahun lalu.
Klaim bos NATO itu disampaikan ketika dia mengunjungi Ibu Kota Ukraina, Kyiv, pada hari Rabu. Rutte tiba di Kyiv hanya beberapa jam setelah Ukraina melancarkan serangan drone di kota Saint Petersburg, Rusia tempat para pejabat dan tamu kehormatan berkumpul untuk forum ekonomi utama dan sehari setelah serangan besar-besaran Rusia menewaskan 23 orang di seluruh Ukraina.
Sekjen NATO Justru Berkunjung ke Ukraina “Kecerobohan Rusia bukanlah hal baru. Tetapi karena Ukraina terus berdiri teguh, berinovasi, dan meraih kemenangan di medan perang, Rusia semakin putus asa,” kata Rutte dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kyiv.
Dia menunjuk pada korban jiwa di pihak Rusia dan meningkatnya tekanan ekonomi, yang menurutnya membuat Moskow tertekan.
“Tragisnya, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Serangan terbaru di Kyiv dan di seluruh Ukraina memperjelas hal itu,” ujarnya, seperti dikutip dari France24, Kamis (4/6/2026). Tak lama setelah Rutte berbicara, alarm serangan udara meraung-raung di seluruh Kyiv, memperingatkan kemungkinan serangan Rusia.
Serangan di Saint Petersburg adalah yang terbaru dalam serangkaian serangan drone jarak jauh Ukraina, yang telah mengguncang Rusia.
Tawaran Gencata Senjata
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengirim surat terbuka kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin. Dalam surat tersebut, Zelensky menyampaikan keinginannya untuk bertemu Putin.
Dilansir AFP, surat dikirim pada Kamis (4/6/2026) waktu setempat. Zelensky mengusulkan untuk mengakhiri perang.
"Ukraina mengusulkan untuk mengakhiri perang ini melalui keterlibatan langsung antara kita dan Anda. Saya mengusulkan sebuah pertemuan," kata Zelensky dalam surat tersebut.
Ratusan Drone Rusia Bikin Ukraina Membara
Zelensky mengatakan selama negosiasi berlangsung siap untuk gencatan senjata secara penuh.
"Ukraina siap untuk gencatan senjata penuh selama negosiasi berlangsung," tambahnya.
Hujan Rudal & Drone
Seperti dilansir AFP dan Reuters, Selasa (2/6/2026), Ratusan drone dan puluhan rudal Rusia menghantam Ukraina. Serangan besar-besaran Rusia itu dilaporkan oleh Angkatan Udara Ukraina melaporkan.
Mereka menyebut Rusia mengerahkan lebih dari 600 drone dan puluhan rudal, termasuk rudal balistik yang sulit ditembak jatuh.
Dalam pernyataan via Telegram pada Selasa (2/6), Angkatan Udara Ukraina mengatakan pihaknya mendeteksi 656 drone dan 73 rudal yang diluncurkan oleh pasukan militer Rusia dalam semalam.
Kyiv mengatakan bahwa sebanyak 602 drone dan 40 rudal Rusia di antaranya telah ditembak jatuh atau dilumpuhkan oleh pasukan pertahanan udara Ukraina.
Juru bicara Angkatan Udara Ukraina mengatakan lebih lanjut bahwa gelombang serangan udara Moskow itu juga melibatkan delapan rudal hipersonik Zircon kemungkinan jumlah terbesar untuk pengerahan rudal hipersonik oleh Rusia selama perang berkecamuk empat tahun terakhir.
Rusia Lancarkan Serangan Akbar ke Ukraina
Rudal hipersonik Zircon, diklaim oleh Moskow, memiliki jangkauan hingga 1.000 kilometer dan mampu melesat dengan kecepatan sembilan kali kecepatan suara.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa pasukannya telah melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap fasilitas industri pertahanan Ukraina menggunakan senjata jarak jauh berpresisi tinggi.
Laporan otoritas Ukraina menyebut sedikitnya 11 orang tewas dan lebih dari 100 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan rudal dan drone Rusia terhadap sejumlah kota, termasuk ibu kota Kyiv, hingga Selasa (2/6) dini hari.
Russia butuh Kesepakatan
"Kita Butuh Kesepakatan", Presiden Rusia Vladimir Putin merespons ajakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk bertemu.
Ia menegaskan tak ada gunanya bertemu.
Dilansir AFP, Sabtu (6/6/2026), Putin menganggap pertemuan dengan Zelensky tidak berguna sampai kesepakatan damai siap. Ia pun dengan tegas menolak seruan pemimpin Ukraina untuk pertemuan tatap muka.
"Saya tidak melihat gunanya bertemu. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah pihak Ukraina menghentikan kemajuan pasukan bersenjata kita. Itu saja. Dan kita membutuhkan kesepakatan," kata Putin kepada forum ekonomi utama Rusia di Saint Petersburg, sehari setelah Zelensky merilis surat terbuka yang menyerukan pertemuan.
Ajakan Langka Zelensky ke Putin untuk Bertemu
Ia pun meminta Zelensky menyerahkan persoalan kesepakatan kepada ahlinya. Jika nanti sudah tercapai, lanjut Putin, baru lah ia setuju untuk bertemu.
"Biarkan para ahli bekerja, mengembangkan beberapa solusi, dan kemudian kita dapat bertemu," tambah Putin.
Ukraine kalah Total
Profesor John Mearsheimer menyampaikan penilaian yang sangat kontroversial tentang perang Ukraina, dengan berargumen bahwa Ukraina kemungkinan besar tidak akan menang dan mengkritik para pemimpin Barat karena mendorong Kyiv untuk terus berperang.
Ia menggambarkan seruan untuk mendukung perang tanpa batas waktu sebagai "sangat menjijikkan secara moral" dan memperingatkan bahwa warga Ukraina sedang dikirim ke "penggiling daging" terlepas dari apa yang ia lihat sebagai hasil yang tidak menguntungkan.
Mearsheimer juga kembali mengemukakan argumennya yang telah lama dipegang bahwa ekspansi NATO ke arah timur memainkan peran sentral dalam memicu konflik, mengklaim bahwa Rusia memandang potensi keanggotaan Ukraina dalam aliansi tersebut sebagai ancaman eksistensial. Pernyataannya menawarkan perspektif yang gamblang dan provokatif tentang salah satu perang paling penting di dunia.