Kesaksian Ayah Ungkap Dugaan Intimidasi sebelum Dokter Icha Bunuh Diri, Tiga Anggota DPRD TTU Disebut Terlibat
Duka masih menyelimuti rumah keluarga dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha. Di tengah isak tangis yang belum reda, sang ayah, Gabriel Pakaenoni, mengungkap cerita yang disebut menjadi beban terakhir putrinya.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Duka masih menyelimuti rumah keluarga dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha. Di tengah isak tangis yang belum reda, sang ayah, Gabriel Pakaenoni, mengungkap cerita yang disebut menjadi beban terakhir putrinya.
Menurutnya, dokter muda berusia 27 tahun itu sempat berkali-kali menceritakan tekanan dan intimidasi yang dialaminya saat bertugas menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Leona Kefamenanu. Dua pekan setelah peristiwa itu, Dokter Icha ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri.
Gabriel menyebut anaknya mengalami depresi berat setelah diduga mendapat intimidasi dari tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yakni Therezius Lazakar dari Partai Golkar, Robert Tubani dari PKB, dan Veronika Lake dari PDIP, saat menangani pasien korban gigitan ular pada 13 Juni 2026.
"Berdasarkan kronologi yang dibuat oleh dokter Icha sendiri, intimidasinya banyak. Tekanan yang paling dan sangat luar biasa," kata Gabriel di rumah duka, Senin (29/6).
Menurut Gabriel, putrinya menceritakan mendapat perlakuan berupa hardikan, penunjukan jari, hingga ancaman yang berkaitan dengan profesinya sebagai dokter.
Ia mengatakan, ketiga orang yang diduga melakukan intimidasi itu memperkenalkan diri sebagai anggota DPRD Komisi III yang membidangi kesehatan dan menyatakan memiliki kewenangan untuk memengaruhi praktik dokter di Kabupaten TTU.
"Contohnya ditunjuk-tunjuk, lalu menyatakan diri bahwa mereka anggota DPRD Komisi III yang membidangi dinas kesehatan bahkan bisa membekukan setiap praktik yang dilakukan para dokter," ujar Gabriel mengulang cerita putrinya.
Meski mendapat tekanan, Gabriel menegaskan anaknya tetap menjalankan tugas medis sesuai prosedur terhadap pasien yang diketahui merupakan keponakan salah satu anggota DPRD tersebut.
Menurutnya, Dokter Icha bahkan sempat berkonsultasi dengan dokter ahli penanganan gigitan ular, dr. Tri Maharani, guna memastikan pasien memperoleh penanganan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Gabriel menilai kasus yang menimpa putrinya bukan hanya menyangkut keluarga, tetapi juga menyangkut perlindungan terhadap profesi tenaga kesehatan.
Ia meminta aparat penegak hukum mengusut kasus tersebut secara transparan tanpa intervensi pihak mana pun serta mendesak pemerintah dan manajemen rumah sakit menjamin keamanan dan kenyamanan tenaga medis saat menjalankan tugas.
"Ini bukan hanya soal anak saya, tetapi juga soal perlindungan terhadap para dokter dan tenaga kesehatan," ujarnya.
Sementara itu, ibu kandung Dokter Icha, Nur Azizah, mengungkapkan putrinya sempat menghubungi keluarga melalui telepon usai insiden di rumah sakit.
"Pada malam kejadian dia langsung menelepon kami sebagai orang tua dan cerita itu disampaikan berulang kali," kata Nur.
Dokter Icha ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di kamar rumahnya di kawasan RSS Baumata, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, pada Jumat (26/6). Keluarga menduga tindakan tersebut dipicu depresi setelah mengalami intimidasi saat menjalankan tugas sebagai dokter di IGD RSU Leona Kefamenanu.
Di sisi lain, salah satu anggota DPRD TTU yang disebut dalam kasus tersebut, Veronika Lake, membantah terlibat melakukan intimidasi terhadap Dokter Icha.
Veronika menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Dokter Icha dan menjelaskan kehadirannya di RSU Leona saat itu hanya untuk menjenguk keponakan rekannya yang sedang dirawat akibat gigitan ular.
Menurut Veronika, saat dirinya masuk ke ruang IGD, perdebatan antara dua rekannya dengan seorang dokter sudah berlangsung.
Ia mengaku sempat menanyakan perkembangan penanganan pasien serta kualitas pelayanan rumah sakit. Veronika juga membenarkan pernah mengucapkan kalimat "panggil wartawan saja", namun membantah ucapan tersebut ditujukan kepada Dokter Icha.
Menurutnya, pernyataan itu merupakan usulan kepada rekannya agar pelayanan rumah sakit mendapat perhatian publik sehingga dapat dilakukan evaluasi dan perbaikan, bukan sebagai bentuk intimidasi terhadap tenaga medis.
Kasus kematian Dokter Icha kini menjadi sorotan publik dan memunculkan desakan agar dugaan intimidasi terhadap tenaga kesehatan diusut secara menyeluruh untuk mengungkap fakta di balik peristiwa tragis tersebut.