Minibus Terjun ke Jurang di Mappak, Infrastruktur Jalan Kembali Dipertanyakan
16 penumpang selamat, namun satu unit minibus terjun ke jurang di Mappak. Peristiwa ini kembali menyoroti buruknya infrastruktur jalan di Simbuang-Mappak.
Reporter: Alvin Demianus
Redaktur: Rikard Djegadut
Tana Toraja, INDONEWS.ID – Kecelakaan sebuah mobil minibus yang terjun ke jurang di Dusun Tondok Baga`, Kelurahan Kondodewata, Kecamatan Mappak, Kamis (18/06/2026), kembali menyoroti buruknya kondisi infrastruktur jalan di wilayah Simbuang-Mappak yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Lima hari pascakejadian, kendaraan tersebut masih berada di dasar jurang tanpa adanya proses evakuasi maupun langkah penanganan yang terlihat dari pihak terkait. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai keseriusan pemerintah dalam merespons persoalan infrastruktur dan keselamatan transportasi di wilayah pedalaman Tana Toraja.
Tarik, sopir sekaligus pemilik kendaraan, mengungkapkan bahwa kecelakaan terjadi saat dirinya melintasi ruas jalan tanjakan yang mengalami kerusakan cukup parah. Sebelum insiden terjadi, seluruh penumpang yang berjumlah 16 orang telah diturunkan setelah kendaraan mulai keluar dari badan jalan.
"Kalau penumpang tidak saya turunkan lebih dulu, mungkin ceritanya akan berbeda. Syukur tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," ujarnya.
Menurut Tarik, kendaraan tersebut sempat ditinggalkan selama satu malam karena situasi di lokasi tidak memungkinkan untuk dilakukan penanganan langsung. Namun ketika kembali keesokan harinya dan berupaya menarik kendaraan, kondisi jalan yang sempit serta keberadaan batu besar di tengah ruas jalan membuat kendaraan kehilangan kendali dan akhirnya terjun ke jurang.
Ia menegaskan bahwa rem kendaraan dalam kondisi berfungsi normal. Faktor utama yang menyebabkan kecelakaan, menurutnya, adalah kondisi jalan yang tidak memadai.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata risiko yang harus dihadapi masyarakat setiap hari saat melintasi ruas jalan Simbuang-Mappak. Di tengah berbagai janji pembangunan infrastruktur, warga menilai kondisi jalan di sejumlah titik justru masih jauh dari standar keselamatan.
Ironisnya, meski kejadian tersebut telah viral di media sosial dan menjadi perhatian publik, hingga kini belum terlihat langkah konkret dari instansi terkait untuk melakukan evakuasi kendaraan maupun evaluasi terhadap kondisi jalan yang diduga menjadi penyebab utama kecelakaan.
Ketua Umum Ikatan Pemuda Simbuang Mappak, Sadrianus, menilai bahwa pemerintah tidak seharusnya hanya hadir setelah muncul korban jiwa. Kecelakaan yang terjadi akibat infrastruktur yang rusak harus menjadi peringatan serius bahwa keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab negara.
"Ketika jalan rusak terus dibiarkan dan masyarakat harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintas, maka yang dipertanyakan bukan lagi kecelakaan itu sendiri, melainkan keberpihakan kebijakan pembangunan terhadap wilayah terpencil," kata Sadrianus.
Masyarakat Simbuang-Mappak berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi tidak sekadar menjadikan wilayah tersebut sebagai objek janji pembangunan, melainkan benar-benar menghadirkan solusi nyata melalui perbaikan infrastruktur jalan yang layak, aman, dan berkelanjutan.
Sebab, bagi warga, minibus yang terjun ke jurang bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Peristiwa itu dianggap sebagai simbol dari persoalan lama yang hingga kini belum terselesaikan, akses jalan yang rusak dan minim perhatian pembangunan.