AS Buktikan Sepakbola bukan Arena Politik
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Lagi-lagi AS bermain cantik, wajah iblisnya mereka poles dengan makeup fair play (main jujur) saat mereka tak lagi lanjut ke babak 8 besar Piala Dunia 2026. Sebelum PD bergulir AS selaku tuan rumah coba 'menjegal' tim-tim kuat, dengan segala aturan demi mengangkat tropi. Namun di babak 16 besar kita tak melihat kelakuan 'brengsek' Paman Sam, malah sebaliknya 11 pemain AS santun, bahkan 'mempersilahkan' lawannya menikmati gol demi gol.
Publik dunia risih dengan kelakuan Trump, mengobok-obok kebijakan organisasi sepakbola dunia tapi tak satu negara pun melawan 'keangkuhan' dia. Iran saja yang berujar akan 'lempar handuk' di pildun kali ini tetap berlaga meski homebase-nya di Meksiko main di AS. Begitu pun Belgia, komite sepakbolanya cuma melayangkan surat protes terkait diperbolehkannya Balogun main di babak 16 besar meski sudah terkena kartu merah di pertandingan sebelumnya.
Kesombongan demi kosombongan AS sebelum PD bergulir terhapus dengan kekalahan meyakinkan The Yanks atas Belgia, kelakuan tak terpuji Trump seperti dianulir dengan kekalahan itu. Dunia tak lagi menghujatnya malah mengacungkan jempol, Trump tidak memainkan pengaruh AS demi melaju ke perdelapan final.
kita paham sepakbola memang bukan olahraga nomer 1 di sana, selaku tuan rumah AS hanya bermain ala kadarnya mereka cuma mengincar kedatangan turis untuk menambah pundi-pundi ekonomi AS. Lihat saja ketika mereka tertinggal 2 gol, bukan berupaya menekan tapi malah bermain-main di garis belakang hingga tengah.
Sepakbola bagi warga AS sekedar kegembiraan berikutnya bukan sesuatu yang sakral seperti di Brazil dan Argentina, bila terhenti sebelum final masyarakat dua negara itu kompak menangisi nasib timnasnya gagal di PD.
AS harus terhenti di babak 16 besar seperti 2 tuan rumah lainnya, Kanada dan Meksiko, PD 2026 dipastikan tak ada wakil tuan rumah diperempat final. Trump tak gunakan pengaruhnya demi Paman Sam dikenal negeri sepakbola, padahal ada seglintir warga dunia ingin AS angkat tropi Pildun. Mereka terus mendoakan tim AS juara tapi kenyataannya lain, atau mungkin mereka salah berdoa? seharusnya bukan timnasnya yang didoakan tapi Trump agar mau menekan pihak manapun untuk juara Pildun 2026.
Mungkin saja sepakbola dinilai terlalu receh bagi AS yang punya kekuatan super, karena itu Trump tak mau gunakan pengaruhnya, biar saja sepakbola jadi 'agama' di beberapa negara dan kebanggaan superpower di negara lain. Meski ia bisa saja merubah itu demi negerinya tapi sepakbola terlalu kecil bagi AS. Sepakbola bagi AS membingungkan, awalnya menggebu tapi ujungnya begitu, ya seperti film Holywood plot twist-nya bikin jambak, jambak rambut.
