indonews

indonews.id

FENOMENA MANAJEMEN KEPEMIMPINAN PAUD DI ERA DIGITAL: ANTARA BEBAN ADMINISTRASI DAN TUNTUTAN TRANSFORMASI

FENOMENA MANAJEMEN KEPEMIMPINAN PAUD DI ERA DIGITAL: ANTARA BEBAN ADMINISTRASI DAN TUNTUTAN TRANSFORMASI

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Penulis : Lilis Suryani, Sisca Cletus Lamatokan, Soesi Soedarmi, Zulfa Raflesia
Program Magister PAUD, Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Panca Sakti Bekasi

Di banyak lembaga PAUD hari ini, kepala sekolah lebih sibuk mengisi laporan daripada masuk ke kelas. Padahal, di tengah era digital, anak-anak justru membutuhkan kepemimpinan pendidikan yang lebih hadir dan visioner.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data UNICEF menunjukkan paparan perangkat digital pada anak usia dini di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejalan dengan itu, UNESCO (2023) mengingatkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan harus diimbangi dengan kepemimpinan sekolah yang mampu memastikan teknologi digunakan secara tepat dan tidak mengurangi kualitas interaksi belajar anak. Sementara itu, berbagai studi menunjukkan bahwa kepala sekolah, termasuk di satuan PAUD, masih menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan administratif dibandingkan pendampingan pembelajaran (OECD, 2020). Fakta ini menunjukkan adanya ketimpangan serius dalam praktik kepemimpinan pendidikan anak usia dini..
Digitalisasi telah mengubah hampir semua aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan anak usia dini. Anak-anak yang lahir hari ini tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan gawai, video interaktif, dan arus informasi tanpa batas. Mereka mengenal layar bahkan sebelum mengenal buku cerita. Fenomena ini menjadi realitas baru yang tidak dapat dihindari. Menurut NAEYC (2022), pemanfaatan teknologi pada anak usia dini perlu dilakukan secara seimbang, sesuai tahap perkembangan, serta tetap mengutamakan interaksi langsung, bermain aktif, dan hubungan sosial sebagai fondasi perkembangan anak. Namun di sisi lain, ia juga membawa tantangan serius: meningkatnya screen time, menurunnya interaksi sosial, hingga berkurangnya pengalaman bermain nyata yang justru menjadi kebutuhan utama anak usia dini.
Dalam situasi ini, lembaga PAUD berada di garis depan. Bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga benteng awal dalam menjaga keseimbangan tumbuh kembang anak di tengah derasnya arus digital. Persoalannya, apakah semua lembaga PAUD sudah siap menghadapi perubahan ini? Jawaban atas pertanyaan itu sangat bergantung pada satu hal: kepemimpinan. Sayangnya, pembicaraan tentang mutu PAUD sering hanya berfokus pada guru, kurikulum, dan fasilitas. Padahal, kualitas sebuah lembaga sangat ditentukan oleh siapa yang memimpinnya. Suryani (2007) menjelaskan bahwa berbagai persoalan pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek pengelolaan lembaga dan kepemimpinan pendidikan yang belum optimal. Kepala PAUD bukan sekadar pelengkap struktur organisasi, tetapi pusat kendali yang menentukan arah, budaya, dan kualitas pendidikan.
Di era digital, peran kepala PAUD tidak lagi bisa berhenti pada urusan administratif. Ironisnya, sistem pendidikan kita sering kali masih menilai keberhasilan kepala PAUD dari kelengkapan administrasi, kecepatan laporan, dan kepatuhan dokumen, bukan dari kualitas pembelajaran yang terjadi di kelas. Akibatnya, banyak kepala PAUD terjebak dalam rutinitas birokrasi dan kehilangan ruang untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka transformasi pendidikan anak usia dini hanya akan berhenti pada slogan tanpa perubahan nyata.
Selama ini, masih banyak kepala PAUD yang waktunya habis untuk mengurus laporan, pencairan dana, arsip, atau kebutuhan teknis kelembagaan. Semua itu memang penting, tetapi jika kepemimpinan hanya berhenti di sana, maka lembaga akan kehilangan ruh pengembangannya.
Kepala PAUD harus bertransformasi menjadi instructional leader atau pemimpin pembelajaran. Artinya, kepala sekolah tidak hanya memastikan administrasi berjalan dengan baik, tetapi juga bertanggung jawab mengarahkan, membina, dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di satuan pendidikan. Konsep instructional leadership menempatkan kepala sekolah sebagai pemimpin yang berfokus pada peningkatan mutu pembelajaran melalui pembinaan guru dan penguatan budaya belajar (Hallinger, 2011). Dalam konteks manajemen pendidikan di Indonesia, Suryani, Karlina, dan Cay (2020) menjelaskan bahwa keberhasilan lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah menjalankan fungsi manajemen secara terpadu mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan hingga pengawasan. Oleh karena itu, kepala sekolah tidak cukup hanya mengelola administrasi, tetapi juga harus mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya sekolah agar tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan efisien. Dengan kepemimpinan seperti ini, kepala sekolah menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Hal tersebut sejalan dengan hasil pengabdian Suryani dkk. (2023) yang menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas guru melalui komunitas belajar mampu memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka dan mendorong lahirnya pembelajaran yang lebih berkualitas di satuan PAUD. 
Suryani dan Veronica (2025) menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka menempatkan kepala PAUD sebagai fasilitator perubahan yang bertugas membangun budaya belajar, memberdayakan guru, memperkuat kolaborasi, serta memastikan pembelajaran benar-benar berpihak pada perkembangan anak. Kepemimpinan seperti inilah yang menjadi kunci keberhasilan transformasi pendidikan di satuan PAUD. Dalam perspektif manajemen pendidikan, Suryani (2020) menjelaskan bahwa keberhasilan suatu lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh tertibnya administrasi, tetapi juga oleh kemampuan pemimpin dalam menjalankan fungsi manajemen secara utuh, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Keempat fungsi tersebut harus berjalan secara seimbang sehingga kepala sekolah mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Lebih lanjut, Suryani dan Veronica (2025) menegaskan bahwa pada era Kurikulum Merdeka kepala PAUD dituntut memiliki kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan inovatif. Kepala sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai pengelola lembaga, tetapi harus menjadi fasilitator yang mampu memberdayakan guru, membangun budaya belajar, serta mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan dan perkembangan anak usia dini. Dengan demikian, keberhasilan transformasi pendidikan sangat bergantung pada kemampuan kepala sekolah dalam memimpin perubahan di lingkungan satuan pendidikan.
Oleh karena itu, kepala PAUD perlu hadir di ruang-ruang belajar, bukan hanya di ruang administrasi. Kehadiran tersebut diwujudkan melalui supervisi akademik, pendampingan kepada guru, refleksi terhadap proses pembelajaran, pemberian umpan balik yang konstruktif, serta penyediaan berbagai kesempatan bagi guru untuk terus mengembangkan kompetensinya. Kepala sekolah juga perlu membangun budaya kolaboratif melalui komunitas belajar, diskusi profesional, dan praktik berbagi pengalaman antarguru sehingga inovasi pembelajaran dapat tumbuh secara berkelanjutan. Menurut Suryani dkk. (2023), budaya kolaboratif yang dibangun melalui komunitas belajar guru menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan profesionalisme guru sekaligus memperkuat implementasi perubahan kurikulum di sekolah. Temuan penelitian Suryani dkk. menunjukkan bahwa budaya kolaboratif yang dibangun oleh kepala sekolah mampu meningkatkan profesionalisme guru serta memperkuat kualitas layanan pendidikan melalui pembinaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, kepemimpinan tidak lagi dimaknai sebagai proses mengendalikan organisasi, tetapi sebagai upaya memberdayakan seluruh warga sekolah agar mampu berkembang bersama.
Di era digital, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks. Kepala PAUD dituntut memiliki literasi digital agar mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi secara tepat sesuai karakteristik perkembangan anak usia dini. Sebagaimana ditegaskan NAEYC (2022), penggunaan teknologi pada anak usia dini hendaknya bersifat proporsional, tetap mengutamakan aktivitas bermain, eksplorasi, interaksi sosial, dan pengalaman belajar langsung sebagai fondasi perkembangan anak. Karena itu, teknologi seharusnya diposisikan sebagai sarana pendukung, bukan pengganti interaksi antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, kepala PAUD tidak lagi hanya berperan sebagai administrator, melainkan sebagai pemimpin pembelajaran (instructional leader) sekaligus agen perubahan (change leader) yang mampu membawa lembaga beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan hakikat pendidikan anak usia dini.
Kepala PAUD harus hadir di ruang-ruang belajar, bukan hanya di ruang kerja. Ia perlu mendampingi guru, mengevaluasi pembelajaran, memberi masukan, dan menciptakan budaya sekolah yang mendorong kreativitas serta inovasi. Di tengah perubahan yang cepat, kepala sekolah tidak bisa lagi hanya menjadi pengawas, tetapi harus menjadi motor penggerak. Namun, transformasi ini tentu tidak mudah. Ada setidaknya tiga tantangan besar yang kini dihadapi kepala PAUD.
Pertama, tantangan digitalisasi. Teknologi telah masuk ke ruang kelas dan rumah tangga. Banyak orang tua menggunakan gawai sebagai “pengasuh kedua” bagi anak-anak mereka. Dalam konteks ini, PAUD harus mampu menjadi penyeimbang. Teknologi perlu dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menggantikan esensi bermain, bergerak, dan berinteraksi langsung. Di sinilah kepala PAUD perlu memiliki literasi digital yang kuat. Bukan untuk menjadikan sekolah sepenuhnya digital, tetapi untuk memastikan teknologi digunakan secara tepat guna.
Kedua, tantangan kolaborasi dengan orang tua. Saat ini, orang tua semakin kritis terhadap pendidikan anak. Mereka ingin hasil cepat, bahkan tidak sedikit yang masih menilai keberhasilan PAUD dari kemampuan calistung. Padahal, fokus utama PAUD adalah membangun fondasi perkembangan, bukan mengejar capaian akademik terlalu dini. Ketika persepsi ini tidak sejalan, konflik kecil sering muncul.
Kepala PAUD harus mampu menjadi jembatan komunikasi antara sekolah dan keluarga. Ia perlu membangun pemahaman bersama bahwa pendidikan anak usia dini adalah proses jangka panjang yang menekankan karakter, kemandirian, dan kesiapan belajar.
Ketiga, tantangan kualitas guru. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak guru PAUD yang membutuhkan penguatan dalam aspek pedagogik, digital, dan inovasi pembelajaran. Ini menjadi pekerjaan rumah besar. Kepala PAUD tidak bisa hanya menuntut, tetapi harus menjadi fasilitator pertumbuhan guru. Fenomena serupa juga terlihat di salah satu lembaga PAUD, di mana tantangan kepemimpinan semakin kompleks seiring meningkatnya ekspektasi orang tua terhadap hasil belajar anak. Orang tua tidak hanya menuntut perkembangan karakter dan sosial emosional, tetapi juga kemampuan akademik dini seperti membaca, menulis, dan berhitung. Di sisi lain, guru dituntut mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran tanpa kehilangan esensi bermain. Dalam konteks ini, kepala sekolah dituntut menjadi pengambil keputusan yang adaptif, komunikatif, dan visioner agar keseimbangan antara kebutuhan anak, guru, dan orang tua tetap terjaga.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Ada beberapa langkah konkret yang bisa menjadi solusi.
Pertama, membangun komunikasi yang terbuka.
Sekolah yang sehat selalu lahir dari komunikasi yang sehat. Kepala PAUD harus membuka ruang diskusi dengan guru dan orang tua. Transparansi akan memperkuat kepercayaan.
Kedua, menerapkan kepemimpinan partisipatif.
Keputusan yang dibuat bersama akan lebih kuat dibanding keputusan yang dipaksakan. Melibatkan guru dalam perencanaan program akan menumbuhkan rasa memiliki.
Ketiga, berinvestasi pada peningkatan kapasitas guru.
Pelatihan, workshop, supervisi akademik, dan komunitas belajar perlu menjadi budaya di sekolah agar kompetensi guru terus berkembang. Suryani dan Veronica (2025) menegaskan bahwa pengembangan profesional guru yang dilakukan secara berkelanjutan merupakan salah satu kunci keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka di satuan PAUD. Menurut Suryani dan Veronica (2025), pengembangan kompetensi guru perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui supervisi, pelatihan, refleksi, dan komunitas belajar sehingga sekolah mampu beradaptasi terhadap perubahan kurikulum maupun perkembangan teknologi.
Keempat, menjaga keseimbangan antara digital dan pengalaman nyata.
Anak usia dini tetap membutuhkan sentuhan, gerak, bermain, dan eksplorasi langsung. Teknologi hanya alat bantu, bukan pusat pembelajaran.
Jika empat langkah ini dijalankan, PAUD akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Indonesia sedang menuju Generasi Emas 2045. Saat itu, anak-anak yang hari ini duduk di bangku PAUD akan menjadi pemimpin, inovator, dan penentu arah bangsa.
Pertanyaannya: seperti apa kualitas generasi yang sedang kita siapkan hari ini? Jawabannya ada di ruang-ruang PAUD.
Dan kualitas ruang itu sangat bergantung pada kepemimpinan yang menggerakkannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan PAUD di era digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengalaman administratif. Dibutuhkan keberanian untuk mengubah budaya kerja, memperkuat kompetensi guru, dan membangun ekosistem belajar yang sehat. Jika tidak, sekolah akan mudah terseret pada arus kompetisi akademik dini yang justru bertentangan dengan prinsip dasar PAUD.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap kepala PAUD. Mereka bukan lagi sekadar pengelola administrasi, tetapi penggerak perubahan. Mereka adalah penjaga mutu, pembangun budaya belajar, sekaligus arsitek masa depan anak-anak Indonesia. Sebagaimana ditegaskan Suryani (2020), keberhasilan manajemen pendidikan tidak hanya diukur dari kelengkapan administrasi, tetapi juga dari kemampuan pemimpin mengelola seluruh sumber daya pendidikan secara efektif untuk mencapai tujuan lembaga. Karena sesungguhnya, membangun generasi emas tidak dimulai dari perguruan tinggi atau dunia kerja. Ia dimulai dari ruang kelas kecil, tempat anak belajar mengenal dirinya, lingkungannya, dan dunia.
Dan di ruang kecil itu, kepala PAUD adalah nahkoda yang menentukan arah perjalanan. Jika kepala PAUD terus dibebani birokrasi tanpa ruang kepemimpinan yang memadai, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi emas sebelum mereka benar-benar tumbuh.

DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics. (2021). Media and young minds. Pediatrics, 138(5), e20162591. https://doi.org/10.1542/peds.2016-2591
Hallinger, P. (2011). Leadership for learning: Lessons from 40 years of empirical research. Journal of Educational Administration, 49(2), 125–142. https://doi.org/10.1108/09578231111116699
Irawati, L., Suryani, L., & Luji, Y. M. (2023). Tinjauan kritis model pembelajaran Montessori dalam pengembangan kemandirian anak. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini, 5(1).
National Association for the Education of Young Children. (2022). Developmentally appropriate practice (DAP) position statement. https://www.naeyc.org/resources/position-statements/dap
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2020). School leadership for learning: Insights from TALIS 2018. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/2018-en
Suryani, L. (2007). Analisis permasalahan pendidikan anak usia dini dalam masyarakat Indonesia. JIV–Jurnal Ilmiah Visi, 2(1), 42–48.
Suryani, L., Karlina, D., & Cay, S. (2020). Pengantar manajemen. Unpam Press.
Suryani, L., Khusna, R., Deviyanti, N., Marlina, N., Mulyaningsih, T., Zakiyah, W., et al. (2023). Independent curriculum implementation training for the learning teacher community in Setu District. Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), 2(1).
Suryani, L., & Veronica, D. (2025). Manajemen PAUD berbasis Kurikulum Merdeka. Deepublish.
UNESCO. (2023). Global education monitoring report 2023: Technology in education—A tool on whose terms? UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/
UNICEF. (2023). The state of the world's children 2023: For every child, vaccination. UNICEF. https://www.unicef.org/reports/state-of-worlds-children-2023
World Health Organization. (2020). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550536

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas