indonews

indonews.id

Membangun Manusia, Membangun Indonesia Catatan Asri Hadi Mengenang Rachmat Gobel

Membangun Manusia, Membangun Indonesia
Catatan Asri Hadi Mengenang Rachmat Gobel

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - "Hello, Senior!" Begitulah sapaan itu hampir selalu terdengar setiap kali kami bertemu. Singkat. Hangat. Penuh hormat.

Padahal jarak usia kami hanya sekitar lima tahun. Saya lulus dari SMA Negeri 3 Jakarta pada 1976, sedangkan Rachmat Gobel menamatkan sekolah yang sama pada 1981. Namun, di lingkungan alumni SMA Teladan, perbedaan angkatan bukanlah sekat. Kami dipersatukan oleh satu kebanggaan yang sama: pernah ditempa oleh sebuah sekolah yang mengajarkan bahwa kecerdasan harus berjalan bersama integritas.

Kini, sapaan itu hanya tinggal kenangan.

Jumat pagi (10/7-2026), kabar duka datang begitu cepat. Rachmat Gobel telah berpulang.Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa saya tidak akan lagi mendengar suara khasnya yang selalu terdengar bersemangat setiap kali membicarakan satu hal yang sangat ia cintai: SMA Negeri 3 Jakarta.

Orang mengenal Rachmat Gobel sebagai pengusaha nasional. Sebagian mengenalnya sebagai mantan Menteri Perdagangan Republik Indonesia. Banyak pula yang mengingatnya sebagai Wakil Ketua DPR RI dan anggota DPR yang memperjuangkan pembangunan kawasan timur Indonesia.

Semua itu benar. Tetapi saya mengenalnya dari sisi yang berbeda. Di balik berbagai jabatan dan kesibukan nasional, Rachmat tetap seorang alumni yang tidak pernah melupakan sekolahnya.

Baginya, SMA Negeri 3 Jakarta bukan sekadar tempat belajar. Itulah tempat karakter dibentuk. Tempat mimpi-mimpi pertama dilahirkan. Tempat seseorang belajar menjadi manusia sebelum menjadi pemimpin.

Karena itulah, ketika dipercaya memimpin Ikatan Alumni Teladan (IKAT) selama dua periode, 2018–2021 dan 2021–2025, ia tidak pernah memandang organisasi alumni hanya sebagai wadah reuni. Ia ingin IKAT menjadi kekuatan yang mampu ikut menjaga kualitas pendidikan di almamaternya.

Saya masih mengingat sebuah percakapan. Suatu sore, selepas sebuah kegiatan alumni, kami duduk berbincang cukup lama. Ia memulai seperti biasa. "Hello, Senior! Apa kabar?"

Lalu, tanpa banyak basa-basi, pembicaraan bergeser kepada sekolah. "Senior," katanya, "kita tidak boleh puas hanya karena SMA 3 pernah disebut SMA Teladan."
Saya tersenyum. "Kenapa?"
"Karena predikat itu bukan warisan yang bisa dinikmati terus-menerus. Itu harus dijaga," kata Rachmat.
Saya mengangguk.

Ia melanjutkan dengan penuh keyakinan. "Kalau kualitas sekolah turun, lambat laun kualitas alumninya ikut berubah. Dan kalau kualitas manusia berubah, masa depan bangsa ikut berubah."

Kalimat itu masih terngiang sampai hari ini.

Barangkali karena latar belakangnya sebagai industrialis, cara berpikir Rachmat selalu sistematis. Ia sering mengatakan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya dimulai dari proyek-proyek besar. Bukan hanya dari jalan tol. Bukan hanya dari pelabuhan. Bukan hanya dari kawasan industri.
"
Langkah besar," katanya suatu ketika, "harus dimulai dari langkah kecil." Kemudian ia menunjuk ke arah sekolah. "Dari ruang kelas."

Ia percaya bahwa fondasi sebuah negara sesungguhnya berada di ruang-ruang belajar. Di sanalah lahir ilmuwan. Di sanalah lahir birokrat. Di sanalah lahir pengusaha. Di sanalah lahir wartawan. Di sanalah lahir pemimpin.
Negara yang ingin maju tidak boleh main-main dengan pendidikan.

Sebagai alumni, kami sering berbincang mengenai bagaimana menjaga reputasi SMA Negeri 3 Jakarta. Maklum, kami menganggap bahwa sekolah ini bukan sekolah biasa. Selama puluhan tahun, SMA Negeri 3 Jakarta dikenal sebagai "SMA Teladan", salah satu sekolah negeri terbaik di Indonesia.

Dari sekolah inilah lahir begitu banyak tokoh nasional.

Ada Erick Thohir yang kini dipercaya memimpin berbagai transformasi BUMN dan sepak bola nasional. Ada Garibaldi "Boy" Thohir, pengusaha yang kini memimpin IKAT. Ada Budi Gunawan yang mengemban amanah sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Ada Adhyaksa Dault, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga. Ada Miranda S. Goeltom, ekonom yang pernah menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Ada Dewi Motik yang dikenal sebagai tokoh perempuan nasional. Ada Marsekal TNI Fajar Prasetyo yang pernah menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Udara…dan masih banyak lagi.

Dan tentu saja, ada Rachmat Gobel sendiri. Mereka datang dari profesi yang berbeda-beda. Namun memiliki akar yang sama: SMA Negeri 3 Jakarta.

Saya sendiri merasakan bagaimana sekolah itu membentuk kehidupan. Lulus pada 1976, saya diterima di tiga perguruan tinggi negeri sekaligus: Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Institut Teknologi Bandung.
Pilihan akhirnya jatuh kepada Universitas Indonesia. Keputusan itu mengantar perjalanan panjang saya sebagai akademisi, dosen, dan kemudian wartawan.

Rachmat sering bercanda soal itu. "Senior memang dari dulu hebat."
Saya hanya tertawa. Sebab saya tahu, yang lebih penting bukanlah siapa yang paling hebat.
Yang lebih penting adalah bagaimana setiap alumni tetap memberi manfaat bagi bangsa. Dan itulah yang juga diyakini Rachmat.

Setelah saya pensiun dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri, saya masih aktif menulis sebagai Pemimpin Redaksi Indonews sekaligus membantu kegiatan IKAT.

Rachmat selalu mendukung. Baginya, organisasi alumni harus terus hidup melalui gagasan, bukan sekadar seremoni.

Ia senang berdiskusi. Tentang pendidikan. Tentang kepemimpinan. Tentang regenerasi.
Tentang bagaimana alumni dapat kembali ke sekolah untuk memberi inspirasi kepada adik-adiknya. Ia sering mengulang satu gagasan yang sangat sederhana. "Kalau kita ingin Indonesia Emas 2045, kita harus mulai dari sekolah."

Kemudian ia menambahkan, "Dan SMA 3 harus ikut menyiapkan SDM Indonesia Emas." Kalimat itu bukan slogan. Ia mengucapkannya dengan kesungguhan.

Kini, sosok itu telah pergi. Namun saya percaya, gagasannya tidak ikut dimakamkan.
Ia akan tetap hidup selama masih ada orang-orang yang percaya bahwa pendidikan adalah investasi terbesar sebuah bangsa.

Bahwa integritas lebih mahal daripada jabatan.
Bahwa sekolah bukan hanya tempat mencari nilai, melainkan tempat membangun karakter.
Dan bahwa kualitas sumber daya manusia adalah fondasi paling kokoh bagi masa depan Indonesia.

Saya masih dapat mendengar suara itu. "Hello, Senior!"
Sapaan sederhana. Tetapi kini terdengar begitu panjang gaungnya.

Selamat jalan, sahabat.
Terima kasih karena telah mengingatkan kami bahwa membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari gedung-gedung megah.

Sering kali, ia dimulai dari sebuah ruang kelas. Dari sebuah sekolah. Dari SMA Negeri 3 Jakarta.
Dan dari keyakinan bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan terbaik untuk menjadi manusia yang cerdas, berintegritas, dan berguna bagi bangsanya.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas