indonews

indonews.id

Kemunculan "Partai Kecoak" India dan Kegelisahan Gen Z Indonesia: Ketika Ijazah Tak Lagi Menjamin Masa Depan

Di tengah teriknya musim panas New Delhi, ribuan anak muda turun ke jalan dengan cara yang tak biasa. Mereka mengenakan topeng kecoak, membawa bendera Cockroach Janata Party (CJP), dan mengepung gedung parlemen India.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.IDDi tengah teriknya musim panas New Delhi, ribuan anak muda turun ke jalan dengan cara yang tak biasa. Mereka mengenakan topeng kecoak, membawa bendera Cockroach Janata Party (CJP), dan mengepung gedung parlemen India.

Kecoak dipilih bukan sekadar simbol satir. Serangga yang dikenal sulit dibasmi itu menjadi metafora bagi elite politik yang dinilai kebal kritik dan tak kunjung menyelesaikan persoalan mendasar yang dihadapi generasi muda.

Pemicu aksi adalah skandal kebocoran ujian nasional yang menyeret Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Namun tuntutan mereka jauh melampaui soal pendidikan. Mereka mempersoalkan tingginya pengangguran, minimnya lapangan kerja, dan pudarnya kepercayaan terhadap sistem yang dianggap tidak lagi memberi peluang yang adil.

Bentrokan dengan aparat pun tak terhindarkan. Sedikitnya 180 demonstran terluka dan sekitar 70 orang ditangkap, sementara pendiri CJP, Abhijeet Dipke, mengecam tindakan polisi yang dinilai represif.

Namun, jika ditarik lebih jauh, demonstrasi itu bukan hanya cerita tentang India. Ia mencerminkan keresahan yang kini muncul di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bonus Demografi: Pisau Bermata Dua

India merupakan negara dengan populasi terbesar di dunia. Lebih dari separuh penduduknya berada pada usia produktif. Setiap tahun jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja. Persoalannya, pertumbuhan kesempatan kerja tidak mampu mengimbangi lonjakan angkatan kerja.

Bank Dunia yang menggunakan estimasi ILO mencatat tingkat pengangguran usia 15–24 tahun di India diperkirakan mencapai sekitar 16 persen pada 2025, lebih tinggi dibanding Indonesia yang berada di kisaran 13 persen. (World Bank Open Data)

Kondisi tersebut membuat banyak anak muda India merasa pendidikan tidak lagi menjadi jaminan memperoleh pekerjaan. Indonesia memang tidak menghadapi skandal kebocoran ujian seperti India.

Namun tantangan yang dihadapi generasi mudanya memiliki pola serupa. Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah angkatan kerja telah melampaui 150 juta orang, dengan proporsi usia produktif menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Ironisnya, kelompok muda justru masih menjadi penyumbang terbesar pengangguran.Data BPS menunjukkan pada 2025: Pengangguran usia 15–19 tahun mencapai 23,34 persen; kelompok usia 20–24 tahun sebesar 14,35 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia di atas 30 tahun yang berada di bawah 4 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)

Artinya, semakin muda usia seseorang, semakin besar peluangnya menjadi penganggur. Laporan Bank Dunia yang mengacu pada estimasi ILO juga menunjukkan tingkat pengangguran pemuda Indonesia berada di kisaran 13 persen, atau hampir tiga kali lipat tingkat pengangguran nasional. (World Bank Open Data).

Ijazah Tak Menjamin Masa Depan

Fenomena ini melahirkan paradoks baru. Jumlah lulusan perguruan tinggi meningkat setiap tahun. Namun pasar kerja tidak tumbuh secepat jumlah pencari kerja. Akibatnya muncul fenomena overqualified but underemployed.

Sarjana bekerja di sektor informal. Lulusan diploma menjadi pengemudi ojek daring. Sebagian lainnya memilih menjadi pekerja lepas, kreator konten, atau membuka usaha kecil karena sulit memperoleh pekerjaan tetap.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyebut tantangan utama negara berkembang bukan lagi sekadar menciptakan pekerjaan, melainkan menciptakan pekerjaan yang layak (decent jobs) yang sesuai dengan kompetensi generasi muda. (International Labour Organization)

Persoalan lain adalah ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Perusahaan kini mencari tenaga kerja yang menguasai: Artificial Intelligence (AI), Analisis data, Keamanan siber, Cloud computing, Otomasi industri hingga Digital marketing. 

Sementara sebagian lulusan masih dibekali kompetensi yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan transformasi digital. Berbagai studi menunjukkan skills mismatch menjadi salah satu penyebab utama tingginya pengangguran kaum muda di Indonesia. (IJHSSI)

Alasan Gen Z Mudah Marah?

Secara global, Gen Z tumbuh dalam situasi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka menghadapi pandemi COVID-19 saat sekolah atau kuliah. Mereka memasuki dunia kerja ketika ekonomi belum sepenuhnya pulih. Mereka juga menghadapi kenaikan harga rumah, biaya hidup, serta persaingan kerja yang semakin ketat.

ILO mencatat meskipun pengangguran pemuda dunia menunjukkan tren menurun, kawasan Asia masih menghadapi tantangan serius karena penciptaan lapangan kerja berkualitas belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja muda. (International Labour Organization)

Jika anak muda India turun ke jalan memakai topeng kecoak, Gen Z Indonesia lebih sering meluapkan keresahan melalui media sosial. Tagar mengenai sulitnya mencari kerja, rendahnya gaji awal, mahalnya biaya hidup, hingga keresahan tentang masa depan kerap menjadi perbincangan di platform digital.

Fenomena seperti quiet quitting, healing, bekerja fleksibel, hingga meningkatnya minat menjadi freelancer bukan sekadar tren gaya hidup. Itu merupakan refleksi perubahan cara pandang terhadap dunia kerja.

Generasi muda tidak lagi hanya mengejar pekerjaan. Mereka mencari pekerjaan yang mampu memberikan penghasilan layak, keseimbangan hidup, dan kepastian masa depan.

Pelajaran dari India

Aksi "Partai Kecoak" di India menjadi pengingat bahwa persoalan generasi muda tidak dapat diselesaikan hanya dengan membuka lebih banyak sekolah atau perguruan tinggi.

Yang lebih penting adalah memastikan pendidikan menghasilkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri serta menciptakan lapangan kerja yang cukup untuk menyerap jutaan lulusan baru setiap tahun.

Bagi Indonesia, tantangannya bahkan lebih besar.

Bonus demografi diperkirakan mencapai puncaknya pada dekade 2030-an. Jika momentum ini gagal dimanfaatkan, bonus tersebut dapat berubah menjadi beban sosial berupa meningkatnya pengangguran, ketimpangan, hingga potensi ketidakpuasan publik.

Demonstrasi anak muda India menjadi alarm bahwa ketika pendidikan tidak lagi menjamin pekerjaan, dan ketika kerja keras tidak lagi menjamin mobilitas sosial, maka yang dipertaruhkan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kepercayaan generasi muda terhadap masa depan negaranya.*

 

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas