indonews

indonews.id

Satu WNI Tewas di Yaman, Alasan Houthi Tuduh MV Tihamah Bawa Senjata Saudi

Satu WNI Tewas di Yaman, Alasan Houthi Tuduh MV Tihamah Bawa Senjata Saudi

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Satu warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan tewas setelah kapal kargo MV Tihamah diserang kelompok Houthi di Yaman, Selasa (11/8/2026). Serangan tersebut menambah panjang daftar insiden terhadap kapal komersial di tengah konflik Yaman yang kembali memanas.

Kementerian Luar Negeri Indonesia membenarkan adanya serangan terhadap MV Tihamah. Namun, hingga kini, Kemlu masih berupaya mengonfirmasi laporan mengenai kematian WNI tersebut.

Menurut informasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaman yang berkedudukan di Muscat, Oman, terdapat tiga WNI yang bekerja sebagai anak buah kapal MV Tihamah. Selain satu WNI yang dilaporkan tewas, seorang lainnya mengalami luka ringan akibat terkena serpihan, sementara satu WNI lain masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Serangan itu juga dilaporkan menewaskan tiga anak buah kapal berkewarganegaraan Pakistan.

Di balik serangan tersebut terdapat tuduhan yang menjadi bagian dari konflik lebih luas di Yaman. Houthi menuding MV Tihamah membawa peralatan militer milik Arab Saudi yang akan diserahkan kepada pasukan Yaman yang bersekutu dengan Riyadh.

Klaim tersebut, sebagaimana diberitakan BBC, belum mendapat tanggapan dari otoritas Arab Saudi.

Tuduhan senjata Saudi

Mengutip laporan kantor berita Saba yang dikelola otoritas Houthi, kelompok tersebut mengeklaim MV Tihamah mengangkut perlengkapan militer Saudi. Kapal itu disebut menjadi sasaran karena diduga membawa peralatan yang diperuntukkan bagi pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi.

Kantor berita Iran, Tasnim, juga melaporkan tuduhan serupa dengan mengutip pejabat Houthi di Sanaa. Menurut laporan tersebut, serangan terjadi di Pelabuhan al-Makha, di pesisir barat Yaman.

Juru bicara pemerintah Yaman yang dikuasai Houthi, Omar Al-Bakhiti, bahkan memperingatkan bahwa larangan terhadap pelayaran yang berkaitan dengan Arab Saudi akan terus diberlakukan.

Namun, tuduhan bahwa MV Tihamah membawa persenjataan Saudi belum terverifikasi secara independen. Arab Saudi juga belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Persoalan ini menjadi penting karena Houthi selama ini menempatkan serangan terhadap kapal yang dianggap berkaitan dengan lawan mereka sebagai bagian dari konflik dengan Arab Saudi dan sekutunya.

Konflik yang belum berakhir

Konflik Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi, kelompok politik-militer yang mendapat dukungan Iran, merebut Sanaa. Pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi kemudian meninggalkan Yaman dan mendapat dukungan dari Arab Saudi.

Kekuasaan pemerintahan yang diakui secara internasional itu kemudian dilanjutkan oleh Rashad al-Alimi sejak 2022. Di sisi lain, Houthi tetap menguasai Sanaa dan sejumlah wilayah di Yaman.

Arab Saudi menjadi salah satu aktor utama yang mendukung pemerintahan Yaman yang berpusat di luar negeri tersebut. Sementara itu, Houthi memiliki hubungan erat dengan Iran.

Eskalasi konflik kemudian merembet ke jalur pelayaran di sekitar Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur perdagangan laut strategis dunia.

Sehari sebelum serangan terhadap MV Tihamah, Houthi juga melancarkan serangan ke Pelabuhan al-Makha. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan tujuh orang dan melukai sekitar 30 lainnya.

Dalam perkembangan lain, pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi dan kelompok Houthi juga terlibat bentrokan di sejumlah wilayah, termasuk Shabwa, al-Jawf, dan Saada.

Mengapa kapal kargo menjadi sasaran?

Serangan terhadap MV Tihamah tidak dapat dilepaskan dari strategi Houthi yang menjadikan pelayaran di kawasan Laut Merah sebagai bagian dari tekanan terhadap lawan mereka.

Kelompok tersebut sebelumnya telah berulang kali mengancam atau menyerang kapal yang mereka anggap memiliki hubungan dengan Israel, Amerika Serikat, maupun pihak yang mendukung lawan mereka di kawasan.

Dalam kasus MV Tihamah, Houthi secara khusus mengaitkan kapal tersebut dengan kepentingan Arab Saudi. Tuduhan mengenai muatan persenjataan menjadi dasar yang dikemukakan kelompok itu untuk membenarkan serangan.

Akan tetapi, status dan muatan kapal perlu dibedakan dari klaim pihak yang bertikai. Informasi bahwa kapal membawa persenjataan Saudi masih merupakan tuduhan dari otoritas Houthi dan belum memperoleh konfirmasi independen.

Profil MV Tihamah

MV Tihamah tercatat sebagai kapal berbendera Tanzania. Kapal tersebut dioperasikan Blue Sea For Management Marine, perusahaan yang berbasis di Mesir, sedangkan pemiliknya tercatat sebagai Thubab For Marine Service, yang juga berbasis di Mesir.

Menurut data pelayaran yang dikutip dalam laporan tersebut, MV Tihamah sebelumnya tercatat berlayar di sejumlah wilayah, termasuk Singapura, China, Dubai, Djibouti, dan Panama.

Bagi Indonesia, insiden ini bukan sekadar persoalan keselamatan pelayaran. Adanya WNI di antara awak kapal membuat konflik Yaman kembali membawa konsekuensi langsung terhadap warga Indonesia.

Kemlu Indonesia sebelumnya menyatakan dukungan terhadap penyelesaian konflik Yaman melalui proses politik yang inklusif dengan fasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pemerintah juga menegaskan bahwa serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah bertentangan dengan hukum internasional.

Kasus MV Tihamah kini memperlihatkan bagaimana konflik yang berakar pada perebutan kekuasaan di Yaman dapat menjalar ke jalur perdagangan internasional—dan pada akhirnya menempatkan awak kapal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, di tengah risiko perang yang terus bereskalasi.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas