PUTRI-PUTRI IBU PERTIWI YANG MENENUN KEHIDUPAN NUSANTARA
PUTRI-PUTRI IBU PERTIWI YANG MENENUN KEHIDUPAN NUSANTARA
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Air mengalir dari gunung menuju laut.
Ia tidak pernah bertanya tanah siapa yang dilewatinya.
Ia hanya memberi kehidupan.
Kapal-kapal berlayar dari pulau ke pulau.
Laut yang tampak memisahkan, justru sejak dahulu menyatukan Nusantara.
Di tengah berdiri seorang perempuan membawa bunga.
Ia bukan ratu. Bukan pula dewi.
Ia adalah perlambang Ibu Pertiwi—tanah yang menerima kehidupan, menumbuhkannya, lalu menyerahkan buahnya kembali kepada manusia.
Bunga-bunga di tangannya berbeda warna.
Seperti Nusantara.
Berbeda suku, bahasa, adat, dan pulau, tetapi tumbuh dari bumi yang sama dan bernaung di bawah langit yang sama.
Di satu sisi, seorang perempuan membawa air.
Di sisi lain, perempuan membawa hasil bumi.
Di bawahnya, seorang perempuan menenun.
Sebab peradaban sesungguhnya juga sebuah tenunan.
Ada benang dari leluhur.
Ada benang yang kita pegang hari ini.
Dan ada benang yang kelak harus sampai kepada mereka yang belum lahir.
Ketika satu generasi memutus benangnya, yang hilang bukan hanya masa lalu.
Masa depan kehilangan jalan untuk pulang.
Karena itu cahaya kecil di tangan seorang perempuan tidak dibuat sebesar matahari.
Ia mengingatkan bahwa harapan sebuah bangsa sering tidak lahir dari gemuruh kekuasaan, tetapi dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: nurani yang tetap hidup, pengetahuan yang diwariskan, dan manusia yang masih tahu untuk siapa ia hidup.
Lalu lihatlah dua anak di bagian paling bawah.
Merekalah sesungguhnya pusat dari seluruh cerita.
Gunung, laut, kapal, candi, rumah, sawah, hutan, adat, bunga, dan seluruh jejak peradaban pada akhirnya akan sampai ke tangan mereka.
Kita mungkin merasa sedang mewarisi Nusantara dari leluhur.
Padahal barangkali kita hanya sedang meminjamnya dari anak cucu.
Maka pertanyaan terbesar sebuah peradaban bukanlah:
“Apa yang telah kita terima?”
Melainkan:
“Dalam keadaan seperti apa kelak kita menyerahkannya?”
Sebab Nusantara tidak diwariskan kepada kita untuk sekadar dimiliki.
Ia dititipkan kepada kita untuk dijaga, ditenun, dan diteruskan.
MJP .Hutagaol
Jakarta ,16 Agustus 2026