indonews

indonews.id

Film Komedi Tak Sekadar Bikin Tertawa, Generasi Lama dan Baru Diajak Bertemu

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews

Jakarta, INDONEWS.ID - Perkembangan film komedi Indonesia menjadi sorotan dalam diskusi perfilman yang digelar di PFN, Cawang, Jakarta Timur. Forum yang menghadirkan Hary Depretes, Didin Bagito dan Joko Nugroho sebagai pembicara, dengan Alyne Ma`arif sebagai moderator, membahas perjalanan film komedi lintas generasi sekaligus tantangan industri menghadapi perubahan selera penonton.

Joko Nugroho menilai, film komedi dari generasi berbeda sebenarnya memiliki kekuatan yang relatif sama. Perbedaannya lebih terletak pada zaman, gaya penyampaian, serta karakter penonton yang terus berubah.

Menurut Joko, persoalan yang cukup terasa saat ini adalah adanya kesenjangan antara praktisi film generasi lama dengan generasi baru. Kesenjangan tersebut membuat karya atau gaya komedi dari satu generasi belum tentu mendapatkan respons yang sama dari generasi lainnya.

"Film di zaman yang berbeda memiliki kekuatan yang sebenarnya sama, hanya eranya berbeda," ujar Joko dalam diskusi tersebut.

Ia menilai, forum diskusi seperti ini penting untuk mempertemukan para pelaku film lintas generasi. Dengan adanya ruang dialog, generasi lama maupun generasi baru dapat saling memahami sekaligus menemukan formula baru untuk mengembangkan film komedi Indonesia.

Joko juga menyinggung fenomena ketika sebuah film dianggap lucu oleh generasi tertentu, tetapi justru tidak mendapatkan respons serupa dari generasi yang lebih muda. Menurutnya, perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa selera humor sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan zaman.

Karena itu, ia mendorong produser untuk lebih cermat membaca segmentasi penonton. Film dapat dibuat berdasarkan kelompok usia tertentu, tetapi menurut Joko, peluang yang menarik justru ketika sebuah film mampu menjembatani beberapa generasi sekaligus.

"Family comedy bisa mewakili semua segmen. Anak-anak bisa menikmati, orang tua juga bisa memahami," katanya.

Joko melihat arah film komedi ke depan juga akan mengalami perubahan. Komedi yang hanya mengandalkan dialog dinilai akan semakin bersaing dengan format yang lebih visual, segar dan dinamis, seperti perpaduan komedi dengan aksi.

Perubahan tersebut sejalan dengan karakter penonton saat ini yang semakin beragam dan cepat berganti selera. Karena itu, pelaku industri film dituntut tidak hanya mempertahankan formula lama, tetapi juga berani melakukan adaptasi.

Namun, Joko mengingatkan agar perubahan tren tidak membuat pelaku industri mengesampingkan komedian maupun sineas senior. Menurutnya, generasi lama tetap memiliki kemampuan untuk beradaptasi apabila diberikan ruang dan kesempatan.

"Jangan menganggap yang tua belum tentu bisa menyesuaikan diri. Bisa. Mereka bisa beradaptasi, hanya perlu diberi kesempatan," tegasnya.

Diskusi tersebut akhirnya tidak hanya membicarakan bagaimana membuat film komedi yang lucu, tetapi juga bagaimana mempertemukan referensi humor dari masa lalu dengan selera penonton masa kini. Bagi Joko, panggung dialog antargenerasi menjadi penting agar warisan komedi Indonesia tidak terputus, sekaligus tetap mampu berkembang mengikuti zaman.

Forum di PFN itu pun menjadi ruang untuk membuka kembali percakapan antara pelaku film senior dan generasi baru, dengan harapan lahir karya komedi yang tidak hanya menghibur satu kelompok usia, tetapi mampu membuat penonton dari berbagai generasi tertawa bersama.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas