Update Terbaru! Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan 919 Orang, Hampir 4.800 Masih Hilang
Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China bertambah menjadi 919 orang. Selain itu, sebanyak 4.793 orang masih dinyatakan hilang setelah bencana melanda kawasan Himalaya pada pekan lalu.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China bertambah menjadi 919 orang. Selain itu, sebanyak 4.793 orang masih dinyatakan hilang setelah bencana melanda kawasan Himalaya pada pekan lalu.
Data tersebut merupakan akumulasi laporan dari otoritas Nepal dan China hingga Senin (31/8). Badan Bencana Nasional Nepal mencatat 903 orang meninggal dunia, sementara 4.247 orang masih hilang.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih dilakukan untuk menemukan korban yang belum diketahui keberadaannya. Tim penyelamat Nepal dikerahkan ke sejumlah wilayah yang terdampak paling parah, termasuk kawasan yang dilanda banjir dan longsor.
Sementara itu, media pemerintah China melaporkan 16 orang tewas dan 546 lainnya hilang di wilayah Tibet. Jika kedua laporan tersebut digabungkan, jumlah korban meninggal mencapai 919 orang dan korban hilang sebanyak 4.793 orang, demikian dilaporkan AFP.
Dampak bencana bahkan meluas hingga wilayah India. Otoritas di Uttar Pradesh menemukan 17 jenazah yang diduga berkaitan dengan bencana banjir bandang yang menerjang kawasan Nepal-China.
Bencana terjadi pada 26 Agustus ketika banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di sekitar perbatasan Nepal dan China. Bencana tersebut dipicu runtuhnya bongkahan gletser bersama material batuan dari kawasan Pegunungan Himalaya. Material dalam jumlah besar kemudian menyumbat aliran Sungai Lhender Khola dan membentuk bendungan alami sementara.
Bendungan tersebut membuat volume air terus meningkat. Ketika tidak lagi mampu menahan tekanan air, bendungan alami itu jebol dan menghasilkan aliran air bah yang bergerak deras menuju kawasan di sekitarnya.
Arus deras kemudian menerjang wilayah Tibet di China serta sejumlah daerah di Nepal, termasuk kawasan utara hingga tengah negara tersebut. Selain air dalam jumlah besar, material batuan dan sedimen yang terbawa arus memperparah kerusakan serta menyulitkan proses pencarian korban.
Nepal Tolak Tim Penyelamat Asing
Pemerintah Nepal memastikan upaya pencarian korban terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Aparat keamanan dan tim penyelamat masih menyisir lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi tempat korban terseret arus.
Sejumlah negara sebelumnya menawarkan bantuan, termasuk kemungkinan mengirimkan tim penyelamat ke wilayah terdampak. Namun, pemerintah Nepal memilih untuk menangani operasi pencarian secara mandiri. Otoritas setempat menilai kemampuan badan keamanan dan tim penyelamat Nepal masih memadai untuk menjalankan operasi tersebut.
Nepal menyatakan kebutuhan yang lebih mendesak saat ini adalah bantuan tunai serta bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana.
Dengan jumlah korban hilang yang masih mencapai ribuan orang, operasi pencarian diperkirakan terus berlanjut. Otoritas Nepal dan China masih berupaya memastikan jumlah korban sekaligus menelusuri kemungkinan adanya korban lain yang terbawa arus hingga wilayah di luar kawasan bencana.