Pertemuan Prabowo-Putin di Forum EEF, Pengamat: Ada Pertarungan Geopolitik di Balik Diplomasi Rusia
Indonesia harus memahami permainan, membaca kepentingan, mengantisipasi ancaman, dan memastikan bahwa setiap langkah diplomasi tetap bermuara pada satu tujuan: kepentingan nasional dan masa depan bangsa.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia kembali menjadi perhatian di tengah perubahan konstelasi geopolitik global. Hubungan Jakarta dan Moskow dinilai semakin strategis, terutama ketika persaingan kekuatan besar dunia antara blok Barat, Rusia, dan China terus memengaruhi arah politik, ekonomi, energi, hingga keamanan kawasan.
Informasi terkait kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia pada awal September 2026 menyebutkan bahwa kepala negara dijadwalkan menghadiri Eastern Economic Forum atau EEF di Vladivostok serta melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pertemuan Prabowo dan Putin bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa. Dari perspektif intelijen dan geopolitik, intensitas komunikasi antara Indonesia dan Rusia dapat dibaca sebagai bagian dari upaya Indonesia memperluas ruang manuver di tengah pertarungan kepentingan global yang semakin kompleks.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai hubungan Indonesia dan Rusia perlu dilihat lebih jauh dari sekadar kunjungan kenegaraan atau kerja sama ekonomi.
Menurutnya, setiap pertemuan pemimpin negara besar selalu membawa pesan strategis yang tidak seluruhnya disampaikan kepada publik.
“Dalam geopolitik, yang terlihat di depan kamera biasanya hanya sebagian kecil. Pertemuan bilateral, forum ekonomi, dan kunjungan kenegaraan selalu memiliki lapisan kepentingan strategis di belakangnya,” ujar Amir Hamzah dalam analisisnya melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurut Amir, Rusia memiliki kepentingan besar untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Di tengah tekanan politik dan ekonomi dari negara-negara Barat akibat konflik geopolitik yang melibatkan Rusia, Moskow membutuhkan penguatan jaringan kerja sama dengan negara-negara yang memiliki posisi strategis dan tidak sepenuhnya berada dalam orbit salah satu kekuatan besar.
Indonesia, dengan jumlah penduduk besar, posisi geografis yang strategis, sumber daya alam melimpah, serta perannya di ASEAN dan berbagai forum internasional, dinilai memiliki nilai penting dalam kalkulasi geopolitik Rusia.
“Indonesia bukan negara kecil dalam peta dunia. Posisi Indonesia sangat strategis. Siapa yang memiliki hubungan kuat dengan Indonesia tentu memiliki keuntungan dalam membangun pengaruh di kawasan Asia-Pasifik,” kata Amir.
Ia menilai Rusia membutuhkan mitra yang dapat membuka akses ekonomi sekaligus memperkuat posisi politiknya di kawasan Indo-Pasifik.
Namun, di sisi lain, Indonesia juga memiliki kepentingan sendiri.
Bagi Jakarta, hubungan dengan Rusia dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas pilihan kerja sama internasional, khususnya di sektor energi, teknologi, pertahanan, investasi, dan industri strategis.
Jangan Hanya Jadi ”Papan Permainan”
Amir Hamzah mengatakan bahwa kunjungan Prabowo ke Rusia harus dibaca dalam konteks politik luar negeri bebas aktif.
Indonesia, menurut dia, memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan dengan seluruh kekuatan besar dunia tanpa harus masuk secara permanen ke dalam satu blok tertentu.
Dalam situasi global yang semakin terpolarisasi, tantangan terbesar Indonesia justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan.
“Bebas aktif bukan berarti Indonesia tidak memilih kepentingan. Bebas aktif justru menuntut kemampuan untuk menentukan kepentingan nasional tanpa didikte oleh kekuatan luar,” ujar Amir.
Dalam konteks tersebut, hubungan dengan Rusia dapat memperbesar ruang diplomasi Indonesia. Namun, pemerintah juga harus mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat, China, negara-negara Eropa, Jepang, serta negara-negara lain yang memiliki kepentingan ekonomi dan politik dengan Indonesia.
Menurut Amir, kesalahan membaca situasi dapat menyebabkan Indonesia terseret dalam rivalitas kekuatan besar.
“Indonesia harus menjadi pemain, jangan hanya menjadi papan permainan,” katanya.
Salah satu sektor yang dinilai penting dalam hubungan Indonesia dan Rusia adalah energi.
Rusia merupakan salah satu kekuatan besar dunia di sektor minyak, gas, dan berbagai sumber daya energi. Sementara Indonesia membutuhkan strategi jangka panjang untuk menjamin ketahanan energi di tengah perubahan harga energi global dan meningkatnya kebutuhan domestik.
Amir menilai pembicaraan mengenai energi tidak dapat hanya dilihat sebagai persoalan perdagangan. Energi, menurutnya, merupakan instrumen geopolitik.
Karena itu, negara yang mampu mengamankan sumber energi akan memiliki daya tahan lebih besar ketika terjadi krisis internasional.
“Energi hari ini bukan hanya urusan bisnis. Energi adalah persoalan keamanan nasional. Ketika terjadi konflik global, jalur pasokan bisa terganggu, harga bisa melonjak, dan negara yang tidak memiliki strategi energi akan berada dalam posisi rentan,” katanya.
Karena itu, kerja sama Indonesia dan Rusia, jika diarahkan pada kepentingan nasional dan dilakukan secara transparan serta sesuai regulasi, dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Namun, Amir mengingatkan agar Indonesia tidak menciptakan ketergantungan baru. Diversifikasi sumber energi dan mitra internasional, menurut dia, tetap menjadi kunci.
Dalam perspektif intelijen, sebuah kunjungan kepala negara memiliki dimensi yang lebih luas dibanding agenda resmi.
Pertemuan antar-pemimpin dapat menjadi sarana pertukaran pandangan mengenai perkembangan keamanan regional, potensi konflik, ancaman ekonomi, perubahan peta aliansi, hingga perkembangan teknologi strategis.
Amir mengatakan kerja sama intelijen tidak selalu berarti pembentukan aliansi keamanan formal.
Pertukaran informasi mengenai ancaman lintas negara, keamanan siber, terorisme, kejahatan transnasional, perlindungan infrastruktur strategis, dan stabilitas kawasan dapat menjadi bagian dari kepentingan bersama.
Namun demikian, ia menekankan bahwa setiap kerja sama strategis harus tetap berorientasi pada kepentingan nasional Indonesia.
“Intelijen tugasnya membaca perubahan sebelum perubahan itu menjadi ancaman. Karena itu, hubungan dengan banyak negara penting untuk membangun kemampuan membaca situasi global,” ujarnya.
Makna Geopolitik Vladivostok
Amir mengatakan, terkait pemilihan lokasi di Vladivostok, kunjungan Prabowo tersebut juga memiliki makna geopolitik.
Vladivostok merupakan salah satu pintu Rusia menuju kawasan Asia-Pasifik.
Pengembangan wilayah Timur Jauh Rusia selama beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari strategi Moskow untuk memperkuat orientasi ekonomi dan politik ke Asia.
Bagi Amir, keterlibatan Indonesia dalam forum yang membahas kawasan tersebut dapat membuka peluang baru, tetapi sekaligus menuntut kewaspadaan.
Setiap negara besar memiliki agenda kepentingannya masing-masing.
Indonesia harus memastikan bahwa investasi, perdagangan, kerja sama teknologi, dan berbagai kesepakatan strategis benar-benar memberikan manfaat bagi pembangunan nasional.
“Kerja sama harus saling menguntungkan. Jangan sampai kita hanya menjadi pasar atau penyedia bahan mentah. Indonesia harus memperoleh transfer teknologi, penguatan industri, dan nilai tambah,” tegasnya.
Menguatnya hubungan dengan Rusia juga tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya pembicaraan mengenai Global South.
Indonesia selama ini berupaya menempatkan diri sebagai salah satu negara berkembang yang memiliki pengaruh dalam pembentukan tata dunia baru.
Dalam pandangan Amir, persaingan geopolitik antara kekuatan besar membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan posisi tawar.
Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia memiliki strategi nasional yang kuat.
“Dunia sedang berubah. Kekuatan ekonomi dan politik tidak lagi hanya berpusat di Barat. Asia semakin kuat, negara-negara berkembang mulai membangun posisi sendiri. Ini kesempatan bagi Indonesia, tetapi harus memiliki strategi,” katanya.
Menurut Amir, Indonesia harus berhati-hati agar istilah Global South tidak sekadar menjadi slogan politik internasional.
Yang paling penting adalah bagaimana posisi tersebut menghasilkan keuntungan konkret bagi rakyat Indonesia.
Harus Dikelola Secara Cermat
Pertemuan antara Prabowo dan Putin yang membahas kerja sama strategis, diperkirakan akan menjadi bagian dari diplomasi kepentingan nasional kedua negara.
Rusia membutuhkan mitra ekonomi dan politik di Asia. Demikian pun, Indonesia membutuhkan investasi, teknologi, akses pasar, ketahanan energi, dan peluang memperkuat posisi diplomatik.
Namun, Amir menilai hubungan tersebut harus dikelola secara cermat.
Indonesia tidak boleh menutup pintu terhadap Barat, tetapi juga tidak boleh membatasi diri hanya karena tekanan dari kekuatan tertentu.
“Indonesia harus berbicara dengan siapa saja. Dengan Amerika, dengan China, dengan Rusia, dengan Eropa, dengan negara-negara Timur Tengah. Tetapi garis merahnya adalah kepentingan nasional Indonesia,” katanya.
Menurut Amir, justru kemampuan berbicara dengan berbagai pihak dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang tidak mudah didikte.
Meski membuka peluang, Amir mengingatkan bahwa semakin intens hubungan dengan kekuatan besar juga dapat membawa risiko.
Persaingan antara Amerika Serikat dan China, ketegangan Rusia dengan negara-negara Barat, konflik di sejumlah kawasan, serta perebutan jalur perdagangan dan sumber daya dapat memberikan tekanan terhadap negara-negara yang berada di posisi strategis.
Indonesia, sebagai negara besar di Asia Tenggara dan penghubung jalur perdagangan dunia, tidak mungkin sepenuhnya terlepas dari persaingan tersebut.
Karena itu, diplomasi harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi nasional, ketahanan energi, industri pertahanan, keamanan siber, serta kemampuan intelijen.
“Diplomasi yang kuat harus didukung oleh kekuatan nasional. Kalau ekonomi lemah, energi tergantung, teknologi bergantung, maka ruang diplomasi kita juga terbatas,” ujar Amir.
Bagi Amir Hamzah, intensitas komunikasi antara Indonesia dan Rusia dapat dibaca sebagai pesan bahwa Indonesia berusaha memperluas jejaring strategis di tengah dunia yang sedang mengalami perubahan besar.
Tantangan Sesungguhnya Baru Dimulai Setelah Pertemuan
Amir mengatakan, keberhasilan diplomasi tidak boleh hanya diukur dari banyaknya kunjungan atau pertemuan. Ukuran sesungguhnya adalah hasil yang diperoleh Indonesia, yaitu apakah kerja sama tersebut menghasilkan investasi produktif, transfer teknologi, penguatan energi, peningkatan perdagangan, dan penguatan posisi Indonesia di tingkat global.
“Yang harus ditanya bukan hanya Prabowo pergi ke mana atau bertemu siapa. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang dibawa pulang untuk kepentingan Indonesia?” kata Amir.
Menurutnya, kunjungan kepala negara ke pusat-pusat kekuatan dunia harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Indonesia harus memiliki peta kepentingan nasional yang jelas dan tidak berubah hanya karena pergantian dinamika politik internasional.
Amir menegaskan bahwa perubahan geopolitik global merupakan kesempatan sekaligus ancaman.
Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan penting dunia. Namun, modal tersebut harus diterjemahkan ke dalam strategi yang konkret.
Hubungan dengan Rusia, Amerika Serikat, China, Eropa, dan negara-negara lainnya harus ditempatkan dalam satu kerangka besar: kepentingan nasional Indonesia.
“Jangan sampai Indonesia hanya menjadi objek perebutan pengaruh. Indonesia harus menjadi subjek. Kita harus menjadi pemain yang menentukan arah dan kepentingan kita sendiri,” katanya.
Kunjungan Prabowo ke Rusia, apabila dikonfirmasi dan menghasilkan kesepakatan strategis, dapat menjadi salah satu langkah dalam memperluas diplomasi Indonesia.
Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah pertemuan dan seremoni diplomatik selesai.
Pemerintah dituntut memastikan setiap kesepakatan benar-benar membawa manfaat jangka panjang, memperkuat kedaulatan ekonomi, meningkatkan ketahanan energi, memperkuat teknologi nasional, serta menjaga Indonesia agar tetap memiliki kebebasan menentukan sikap dalam pusaran persaingan kekuatan besar dunia.
Dalam pembacaan Amir Hamzah, dunia sedang memasuki fase perubahan. Di tengah perubahan tersebut, Indonesia tidak cukup hanya hadir dalam forum internasional.
”Indonesia harus memahami permainan, membaca kepentingan, mengantisipasi ancaman, dan memastikan bahwa setiap langkah diplomasi tetap bermuara pada satu tujuan: kepentingan nasional dan masa depan bangsa,” pungkasnya. *