indonews

indonews.id

ENAM GUNUNG API DAN PELAJARAN DARI RUMAH LELUHUR

ENAM GUNUNG API DAN PELAJARAN DARI RUMAH LELUHUR

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Indonesia Tidak Hanya Mewarisi Tanah, tetapi Juga Cara Membacanya


Jakarta, 6 September 2026


Penulis: MJP Hutagaol ’86


Indonesia kembali memperlihatkan wajah aslinya sebagai negeri yang hidup di atas dinamika bumi.


Pada 31 Agustus 2026, enam gunung api tercatat mengalami erupsi hampir bersamaan, yaitu Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara.


PVMBG menegaskan bahwa erupsi tersebut merupakan dinamika vulkanik masing-masing gunung dan tidak berarti keenam gunung saling memicu.


Fenomena ini justru mengingatkan kita pada posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, dengan jumlah gunung api aktif yang sangat besar.


Namun, ada pelajaran lain yang menurut saya jauh lebih penting.


Bagaimana leluhur kita hidup di tengah alam yang sejak dahulu tidak pernah benar-benar diam?


Leluhur kita tidak memiliki seismograf, satelit, sensor digital, maupun sistem peringatan dini seperti sekarang.


Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah penting:


PENGALAMAN MEMBACA ALAM.


Pengalaman itu antara lain dapat kita lihat pada arsitektur rumah tradisional Nusantara.


Rumah panggung, penggunaan material kayu, struktur yang relatif ringan, sambungan antar. komponen yang memiliki kelenturan, serta pemilihan lokasi tidak lahir semata-mata sebagai persoalan estetika.


Kita memang tidak boleh secara gegabah mengatakan bahwa semua rumah tradisional sengaja dirancang sebagai “rumah tahan gempa”.


Tetapi kita dapat melihatnya sebagai hasil adaptasi panjang manusia terhadap lingkungan—terhadap hujan, angin, kelembapan, banjir, kondisi tanah, bahkan pengalaman menghadapi guncangan bumi.


Di sinilah pengetahuan leluhur menjadi menarik untuk dipelajari kembali.


Leluhur membaca alam melalui pengalaman.


Manusia modern membaca alam melalui data.


Keduanya seharusnya tidak dipertentangkan.


Justru harus dipertemukan.


Ilmu modern telah menunjukkan bahwa keselamatan bangunan tidak hanya ditentukan oleh bentuk bangunan, tetapi juga oleh kondisi tanah, lokasi, kualitas struktur, dan bagaimana bangunan merespons guncangan.


Artinya, ketika kita mempelajari rumah leluhur, jangan hanya melihat bentuk atap, ukiran, atau keindahannya.


PELAJARILAH LOGIKANYA.


Mengapa menggunakan kayu?


Mengapa rumah dibuat panggung?


Mengapa sambungan tertentu dibuat demikian?


Mengapa rumah ditempatkan pada lokasi tertentu?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat membuka kembali sebuah perpustakaan pengetahuan yang selama ini berada di depan mata kita.


Karena itu, pelestarian budaya seharusnya tidak berhenti pada menjaga bentuk fisiknya.


Kita perlu mengembangkan riset terhadap pengetahuan yang berada di balik bentuk tersebut.


Indonesia hari ini memiliki teknologi, data geologi, seismologi, satelit, kecerdasan buatan, dan sistem peringatan dini.


Leluhur kita memiliki pengalaman panjang berinteraksi dengan alam.


Jika keduanya dipertemukan, kita bukan sedang kembali ke masa lalu.


Kita sedang mengambil masa depan dari pengetahuan masa lalu.


Warisan leluhur tidak harus disalin.


IA HARUS DIPAHAMI.


Gunung boleh terus berbicara melalui erupsi.


Leluhur telah meninggalkan sebagian jawabannya melalui rumah dan ruang hidup.


Sekarang giliran kita mempertemukan warisan pengetahuan, data, dan teknologi untuk membuat Indonesia lebih siap menghadapi masa depan.


Sebab mengenal Indonesia bukan hanya mengenal wilayahnya.


MENGENAL INDONESIA ADALAH BELAJAR MEMBACA ALAM SEBELUM MEMBANGUN KEHIDUPAN DI ATASNYA.



MJP Hutagaol ’86

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas