Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto: Megathrust Adalah Fakta Ilmiah yang Harus Dihadapi dengan Kesiapsiagaan
Namun, potensi tidak sama dengan prediksi bahwa gempa akan segera terjadi. Sampai saat ini belum ada metode ilmiah yang dapat menentukan secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Gempa bumi megathrust menjadi perbicangan warga di media sosial akhir-akhir ini, khususnya warga Jakarta dan sekitarnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini kembali mengingatkan masyarakat mengenai potensi gempa besar di beberapa zona seismic gap di Indonesia. Seismic gap adalah zona sumber gempa megathrust yang sudah lama tidak melepaskan gempa besar, sehingga menyimpan energi elastis yang besar.
Dua wilayah yang saat ini mendapat perhatian utama adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. Skenario terburuk pada zona Megathrust Selat Sunda diperkirakan dapat mencapai magnitudo 8,9.
Gempa bumi megathrust adalah jenis gempa bumi tektonik yang terjadi di zona subduksi, yaitu wilayah pertemuan ketika dua lempeng tektonik bumi saling bertumbukan. Lempeng samudera yang lebih padat menunjam ke bawah lempeng benua, menahan energi selama ratusan tahun, hingga akhirnya lepas dalam bentuk guncangan hebat.
Gempa jenis ini merupakan gempa paling kuat di planet Bumi, dengan kekuatan bermagnitudo besar yang bisa melebihi 9,0 dan sering kali memicu gelombang tsunami dahsyat.
Namun, yang menjadi pertanyaan adalah kapan terjadinya gempa bumi megathrust tersebut.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjawab pertanyaan Indonews.id mengatakan bahwa sampai sejauh ini, gempa bumi megathrust, termasuk di kawasan Selat Sunda dan Selatan Jawa, masih sebatas potensi yang harus diwaspadai.
”Namun, potensi tidak sama dengan prediksi bahwa gempa akan segera terjadi. Sampai saat ini belum ada metode ilmiah yang dapat menentukan secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi. Karena itu, adanya pembahasan mengenai zona megathrust tidak boleh diterjemahkan sebagai tanda bahwa gempa besar sudah akan terjadi dalam waktu dekat,” ujarnya di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Dia mengatakan, zona megathrust memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar karena merupakan zona pertemuan lempeng yang dapat menyimpan akumulasi energi.
Namun sampai sekarang belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat waktu terjadinya gempa. ”Jadi, kita jangan mengubah informasi tentang potensi menjadi informasi tentang kepastian waktu kejadian. Karena itu, sikap yang tepat bukan panik, tetapi meningkatkan kesiapsiagaan,” tuturnya.
Karena itu, dia mengatakan agar masyarakat tidak perlu panik. Pesan dari perbincangan tentang megathrust adalah jangan panik namun tetap waspada.
”Potensi gempa megathrust adalah fakta ilmiah yang harus kita hadapi dengan kesiapsiagaan, bukan dengan ketakutan. Kita tidak tahu kapan gempa besar akan terjadi, sehingga yang paling penting bukan mencoba menebak waktunya, tetapi mempersiapkan diri dan lingkungan sejak sekarang,” ujarnya.
Dia mengatakan, masyarakat sebaiknya mengetahui tempat tinggal atau tempat kerja mereka berada di kawasan rawan tsunami atau tidak. Masyarakat juga harus mengetahui jalur dan tempat evakuasi, memperhatikan kondisi bangunan, serta memahami tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
”Dan yang tidak kalah penting, jangan mudah percaya informasi yang menyebut gempa besar akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu. Informasi semacam itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah apabila tidak didukung oleh sistem dan kajian resmi,” pungkasnya. *