Hadir di Urban 20 (U20) Mayors Summit 2026, Pengamat: Pramono Membawa Jakarta ke Jaringan Kota Global
Jakarta sedang berusaha membawa persoalan lokal ke meja global. Kemacetan, banjir, kualitas udara, transportasi, perumahan dan pangan memang terjadi di Jakarta, tetapi persoalan itu juga terjadi di kota-kota lain. Di situlah diplomasi kota menjadi relevan.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Keberangkatan Gubernur Jakarta Pramono Anung ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri Urban 20 (U20) Mayors Summit 2026 dinilai memiliki dimensi yang lebih luas daripada kunjungan kerja antarkota.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melihat forum tersebut sebagai bagian dari perkembangan baru diplomasi internasional, ketika kota-kota besar semakin aktif membangun hubungan langsung untuk membicarakan persoalan yang tidak lagi mengenal batas administrasi negara.
Pramono dijadwalkan menghadiri U20 Mayors Summit 2026 pada 19-21 September 2026 atas undangan Wali Kota New York City Zohran Kwame Mamdani. Selain mengikuti forum U20, Pramono juga diagendakan melakukan pertemuan bilateral dengan Mamdani pada 20 September.
Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik Chico Hakim menyebut agenda tersebut akan membahas berbagai persoalan perkotaan, antara lain perumahan, perubahan iklim, mobilitas manusia dan kesempatan ekonomi. Jakarta juga akan membawa kepentingan kerja sama konkret yang dapat diterapkan untuk masyarakat.
Menurut Amir Hamzah, perkembangan tersebut menarik jika dilihat dari perspektif intelijen geopolitik karena kota-kota metropolitan kini tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan nasional, tetapi juga semakin aktif membangun jaringan kerja sama sendiri.
“Jakarta sedang memasuki ruang diplomasi yang berbeda. Yang dibicarakan bukan lagi hubungan antarnegara dalam pengertian klasik, tetapi bagaimana kota besar bertukar pengalaman, teknologi, pengetahuan, investasi dan kebijakan untuk menghadapi masalah yang sama,” ujar Amir dalam pernyataan kepada wartawan, Jumat (18/9/2026).
Ia mengatakan New York bukan lokasi yang dipilih secara kebetulan. Kota tersebut merupakan salah satu pusat ekonomi, keuangan, kebudayaan dan jaringan internasional dunia. Pada saat yang sama, New York menjadi tuan rumah rangkaian kegiatan U20 2026 bersama Los Angeles.
Secara kelembagaan, U20 memang dirancang sebagai forum kota-kota besar untuk memengaruhi agenda G20. Situs resmi U20 menjelaskan bahwa forum tersebut mempertemukan wali kota dari kota-kota besar negara G20 untuk menyusun perspektif dan rekomendasi kebijakan perkotaan yang kemudian disampaikan kepada pemerintah nasional dalam proses G20.
“Jadi meja yang didatangi Pramono bukan meja kecil. Ada hubungan antara agenda kota dengan agenda ekonomi dan politik global. Ketika kota-kota besar berbicara mengenai perumahan, mobilitas, iklim dan migrasi, pembicaraan itu pada akhirnya bersentuhan dengan kebijakan nasional dan kepentingan ekonomi,” kata Amir.
Amir menilai posisi Jakarta dalam forum tersebut juga perlu dibaca dari perkembangan peran internasional Jakarta dalam beberapa tahun terakhir.
Seperti diketahui, pada Mei 2026, Pramono Anung terpilih sebagai Wakil Ketua Steering Committee C40 Cities untuk kawasan East, Southeast Asia and Oceania. Pemerintah Provinsi Jakarta menyebut posisi tersebut memberikan ruang bagi Jakarta untuk ikut membentuk agenda aksi iklim perkotaan di tingkat global.
C40 merupakan jaringan hampir 100 kota besar dunia yang bekerja sama menghadapi perubahan iklim. Menurut Pemprov Jakarta, kota-kota yang tergabung dalam jaringan tersebut mewakili lebih dari 700 juta penduduk dunia dan sekitar seperempat perekonomian global.
“Kalau kita melihatnya dari perspektif geopolitik, posisi seperti C40 dan U20 menciptakan jaringan pengaruh baru. Jakarta tidak hanya menjadi objek kebijakan global, tetapi memiliki kesempatan menyampaikan kepentingan kota berkembang kepada kota-kota besar lainnya,” ujar Amir.
Menurut dia, persoalan Jakarta memiliki banyak kesamaan dengan kota metropolitan dunia.
Kemacetan, kualitas udara, transportasi publik, pengelolaan air, banjir, sampah, tekanan harga pangan, kebutuhan hunian dan perubahan iklim merupakan persoalan yang juga dihadapi berbagai kota besar dunia.
Karena itu, kata Amir, kerja sama dengan New York memiliki nilai strategis apabila menghasilkan transfer pengetahuan, teknologi, pembiayaan, pengembangan sumber daya manusia atau model pelayanan publik yang dapat diterapkan di Jakarta.
Pertemuan dengan Zohran Mamdani Agenda Menarik
Pertemuan Pramono dengan Zohran Mamdani juga menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian.
Menurut informasi yang disampaikan Pemprov Jakarta, kedua pemimpin kota akan membahas peluang kerja sama transportasi publik, kualitas udara, pengelolaan air dan ketahanan pesisir, pengelolaan sampah serta keterjangkauan harga pangan.
Amir menilai pilihan isu tersebut menunjukkan bahwa hubungan Jakarta-New York diarahkan kepada persoalan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat perkotaan.
“Ini menarik karena diplomasi kota tidak harus dimulai dari isu yang abstrak. Justru isu transportasi, air, sampah, pangan, perumahan dan kualitas udara adalah isu yang sangat konkret. Kalau ada pertukaran kebijakan yang berhasil, manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.
Dalam perspektif intelijen, Amir menambahkan, pertemuan antarpemimpin kota juga dapat menjadi sarana membaca perkembangan kebijakan dan arah perubahan kota-kota dunia.
Menurut dia, pemerintah daerah yang memiliki kemampuan membaca perubahan global akan lebih mudah mengantisipasi dampaknya terhadap masyarakat dan ekonomi lokal.
“Intelijen bukan hanya soal ancaman keamanan. Ada economic intelligence, environmental intelligence dan social intelligence. Kota harus mengetahui ke mana arah perubahan global, teknologi apa yang berkembang, bagaimana perubahan iklim memengaruhi kehidupan kota dan bagaimana pusat-pusat ekonomi dunia merespons perubahan tersebut,” ujarnya.
Amir melihat terdapat ruang pembelajaran dua arah antara Jakarta dan New York.
New York sedang menghadapi berbagai persoalan perkotaan yang berkaitan dengan perumahan, transportasi, layanan publik dan mobilitas masyarakat. Pemerintahan Mamdani juga tengah menjalankan sejumlah agenda yang berkaitan dengan transportasi dan ruang publik.
Pada September 2026, misalnya, Pemerintah Kota New York memperkenalkan program “Vision Zero Reimagined”, sebuah peta jalan keselamatan jalan dan ruang publik yang melibatkan 19 lembaga serta mitra pemerintah kota.
Sementara itu, Jakarta terus mengembangkan transportasi publik dan agenda transisi menuju kendaraan rendah emisi. Laporan C40 mencatat bahwa hingga pertengahan 2025 sebanyak 300 bus listrik telah masuk dalam armada TransJakarta, sementara Jakarta menargetkan lebih dari 1.400 bus listrik pada 2026.
“Artinya bukan hanya Jakarta belajar dari New York. New York juga bisa melihat pengalaman Jakarta dalam mengelola kota metropolitan di negara berkembang dengan kepadatan tinggi dan persoalan transportasi yang kompleks,” kata Amir.
Menurut dia, hubungan semacam itu berbeda dengan hubungan diplomatik konvensional antarpemerintah pusat.
Kota memiliki kebutuhan yang lebih teknis dan langsung. Karena itu, keberhasilan diplomasi kota justru dapat diukur dari apakah pertemuan menghasilkan program yang dapat dilaksanakan.
Agenda Pramono di Amerika Serikat juga tidak berhenti pada U20.
Kementerian Luar Negeri RI menyebut bahwa Pemerintah Provinsi Jakarta tengah mengembangkan sejumlah kerja sama dengan mitra Amerika Serikat. Di antaranya pengembangan Indonesia Center di New York, program beasiswa bagi talenta muda Jakarta serta pengembangan Jakarta sebagai tujuan industri hiburan dan film internasional.
Pertemuan antara Pramono dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo pada akhir Agustus 2026 juga membahas penguatan kerja sama tersebut.
Menurut Amir, rangkaian agenda itu menunjukkan bahwa diplomasi kota mempunyai banyak lapisan.
“Kalau hanya membawa isu transportasi, ruang diplomasi Jakarta akan terbatas. Tetapi ketika pendidikan, investasi, pariwisata, ekonomi kreatif, industri film, kebudayaan dan teknologi ikut dibawa, maka Jakarta sedang membangun ekosistem hubungan internasional yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menilai Indonesia Center yang direncanakan berada di kawasan Broadway dan Times Square juga dapat menjadi instrumen promosi ekonomi dan kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat. Pemerintah Indonesia menyebut pusat tersebut diarahkan untuk mempromosikan perdagangan, investasi, pariwisata dan budaya Indonesia.
Agenda Jakarta Jadi Percakapan Kota-kota Dunia
Ada faktor lain yang membuat kunjungan tersebut memiliki nilai strategis.
U20 2026 berlangsung bersamaan dengan rangkaian pembukaan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Wali Kota Mamdani menyebut ribuan kepala negara, diplomat, aktivis dan masyarakat sipil akan berada di New York dalam rangkaian agenda tersebut.
Menurut Amir, konsentrasi aktor internasional di satu kota menciptakan ruang interaksi yang sangat besar.
“New York pada periode ini bukan hanya sebuah kota. Ia menjadi titik konsentrasi diplomasi internasional. Karena itu, kehadiran gubernur Jakarta dalam forum kota dunia memiliki nilai networking yang cukup besar,” katanya.
Namun Amir menekankan bahwa manfaat strategis tersebut baru akan terlihat apabila hasil pertemuan diterjemahkan menjadi program yang terukur.
“Yang penting bukan foto pertemuannya. Yang penting apa yang dibawa pulang. Apakah ada kerja sama teknologi, pendidikan, transportasi, lingkungan, investasi atau pengembangan sumber daya manusia yang kemudian benar-benar berjalan,” ujarnya.
Amir mengatakan dunia sedang mengalami perubahan dalam cara hubungan internasional dibangun.
Negara tetap menjadi aktor utama, tetapi kota-kota besar semakin mempunyai kapasitas untuk membangun jejaring lintas negara. Fenomena tersebut terlihat dari berkembangnya jaringan seperti C40 dan U20.
“Jakarta harus mampu membaca perubahan itu. Kalau dunia semakin terhubung melalui kota-kota besar, maka Jakarta harus hadir di sana. Bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai kota yang membawa pengalaman dan kepentingannya sendiri,” ujar Amir.
Ia mengatakan agenda Pramono di New York dapat dilihat sebagai bagian dari proses menempatkan Jakarta dalam jaringan kota global.
“Jakarta sedang berusaha membawa persoalan lokal ke meja global. Kemacetan, banjir, kualitas udara, transportasi, perumahan dan pangan memang terjadi di Jakarta, tetapi persoalan itu juga terjadi di kota-kota lain. Di situlah diplomasi kota menjadi relevan,” katanya.
Pada akhirnya, menurut Amir, keberhasilan kunjungan tersebut akan ditentukan oleh kemampuan Pemerintah Provinsi Jakarta mengubah jaringan internasional menjadi kebijakan yang memberi dampak di dalam negeri.
“Jakarta datang ke New York membawa agenda Jakarta. Tantangannya adalah bagaimana agenda itu kemudian menjadi bagian dari percakapan kota-kota dunia dan pada akhirnya kembali menjadi kebijakan yang dirasakan warga Jakarta,” pungkasnya.