RUSIA BANGKIT, AMERIKA REDUP & PBB DEFISIT KEPERCAYAAN
RUSIA BANGKIT, AMERIKA REDUP & PBB DEFISIT KEPERCAYAAN
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh: JIMMY H SIAHAAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Harry Truman membuat pengumuman mengejutkan kepada dunia pada 23 September 1949.Tepat hari ini 77 tahun lalu,Truman mengumumkan bahwa `Rusia` atau Uni Soviet telah berhasil menguji bom nuklir dan membuat dunia berubah total dan memasuki era baru, yakni perlombaan senjata nuklir.
Dalam dokumen yang dirilis NSA berjudul "Detection of the First Soviet Nuclear Test, September 1949", sebelum pengumuman tersebut, Truman telah menerima laporan dari badan intelijen AS mengenai adanya "kontaminasi radioaktif abnormal" pada massa udara yang dikumpulkan di Pasifik Utara.
Russia saat ini adalah sebuah negara Superpower, dijelaskan Dr Vlademir Brovkin, ahli Rusia, pernah mengajar di Harvard University.
Penggunaan Senjata Nuklir Moskow masih memiliki ruang untuk melakukan eskalasi menggunakan senjata konvensional termasuk dengan mengintensifkan serangan rudal mereka tidak memiliki banyak alasan kuat untuk melampaui ambang batas nuklir," ujar Gabuev, seorang peneliti.
Fiona Hill, peneliti senior di Brookings Institution sekaligus mantan penasihat bagi tiga presiden AS, mengamati bahwa Putin terus menguji keteguhan sikap Barat. Dia juga mengingatkan kembali peringatan AS sebelumnya mengenai respons militer terhadap setiap serangan nuklir.
Profesor Sergey Karaganov, pakar ilmu politik senior asal Rusia, penasihat khusus para pemimpin politik, termasuk era Gorbachev, Yeltsin, hingga Vladimir Putin.
Pandangan utamanya adalah tentang konflik dengan Barat, dia berpendapat bahwa Rusia dan dunia saat ini sedang berada dalam situasi "perang dunia baru" melawan dominasi Barat.
Soal kritik pada NATO, dia menilai ekspansi NATO ke wilayah timur sebagai pemicu utama ketegangan dan konflik global saat ini.
Bahwa soal Deterensi Nuklir, sering memicu perdebatan internasional karena menyuarakan perlunya memulihkan efek jera senjata nuklir untuk menghentikan langkah agresif negara-negara Eropa dan Barat.
Selanjutnya Sergey Karaganov membahas mengapa Rusia berada di bawah tekanan yang meningkat untuk memulihkan daya pencegahannya, yang kemungkinan akan dengan cepat meningkat menjadi serangan nuklir ke Eropa.
Karaganov berpendapat bahwa serangan nuklir kemungkinan akan berhasil memulihkan daya pencegahan karena AS tidak akan membalas.
Rusia Uji Peluncuran ICBM
Seruan kali ini bukan dari Presiden Amerika, namun dari Sekjen PBB Guterres muncul setelah Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan peluncuran rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat dari Kosmodrom Plesetsk di wilayah Arkhangelsk, Rusia barat laut.
Rudal tersebut dilaporkan berhasil mencapai sasaran yang telah ditentukan di lapangan uji Kura, wilayah Kamchatka di Timur Jauh Rusia.
Moskow mengatakan peluncuran tersebut dilakukan untuk menguji dan memastikan karakteristik taktis, teknis, serta kemampuan terbang sistem rudal tersebut.
Rusia menyebut rudal yang digunakan dalam latihan tersebut memiliki kemampuan nuklir. CTBT diadopsi pada 1996 dengan tujuan menetapkan larangan hukum internasional terhadap seluruh ledakan uji coba nuklir. Namun, perjanjian tersebut hingga kini belum berlaku secara penuh karena sejumlah negara yang masuk dalam kategori Annex 2 belum meratifikasinya.
Pemberlakuan CTBT secara resmi mensyaratkan seluruh negara Annex 2 meratifikasi perjanjian tersebut. Sembilan negara masih belum memenuhi persyaratan tersebut, yakni Amerika Serikat, Rusia, China, Iran, Israel, Mesir, India, Pakistan, dan Korea Utara.
Hingga 2026, sebanyak 188 negara telah menandatangani CTBT, sementara 179 negara telah meratifikasinya.
Amerika Kalah Perang
Sebuah pandangan, Brandon J. Weichert, bahwa perlunya AS Membangun Benteng
dan Doktrin Monroe yang Baru.
Dalam Buku The Hemisphere Comes First berpendapat bahwa keamanan Amerika dimulai dari dalam negeri bukan di Eropa, Timur Tengah, atau Asia.
Belahan Bumi Barat, yang membentang dari Arktik melalui Amazon hingga Antartika, telah menjadi teater strategis yang menentukan karena Tiongkok, Rusia, Iran, kartel transnasional, dan jaringan teroris memperluas pengaruh mereka di seluruh Amerika.
Era unipolar telah berakhir. Dunia tripolar, yang secara longgar terbagi antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia, sedang muncul, dan lingkup pengaruh kembali muncul.
Rusia sedang mengkonsolidasikan kendali regionalnya. Tiongkok sedang membangun lingkup Indo-Pasifiknya. Amerika Serikat harus mengamankan belahan buminya sendiri sebelum dapat secara bertanggung jawab memproyeksikan kekuatan ke luar negeri.
Buku ini mengusulkan strategi baru Pertahanan Belahan Bumi Barat yang mengintegrasikan kekuatan militer, kapasitas industri, dominasi energi, keamanan perbatasan, kendali maritim, dan kemitraan regional ke dalam satu arsitektur pertahanan.
Tanpa kedalaman strategis tersebut, Amerika Serikat berisiko dikepung secara bertahap oleh para pesaingnya.
Dengan itu, Amerika dapat memulihkan kekuatan nasionalnya, melindungi tanah air, dan bersaing secara sukses di era persaingan kekuatan besar yang akan datang.
Untuk tetap menjadi kekuatan global, Amerika Serikat harus membangun benteng di Belahan Bumi Barat.
Ia berkonsultasi dengan berbagai organisasi, termasuk Angkatan Udara Amerika Serikat, dan telah digambarkan oleh audiens sebagai "seorang cendekiawan yang memicu kepanikan dan kecemasan yang memberi tahu kita hal-hal yang tidak ingin kita ketahui tetapi harus kita dengar."
Mantan staf kongres, Weichert memegang gelar dari Universitas DePaul dan Institut Politik Dunia. Ia juga merupakan anggota asosiasi New College, Oxford.
Profesor John Mearsheimer, dari Chicago memberikan penilaian blak-blakan tentang kebijakan luar negeri Donald Trump, dengan mengatakan: “Presiden Trump suka menampar orang. Dia suka bertindak seperti pengganggu. Dia suka bermain keras.”
Mearsheimer juga berpendapat bahwa Trump memperlakukan sekutu AS seperti Jerman, Prancis, dan Inggris “lebih buruk daripada dia memperlakukan musuh-musuhnya.”
Dafna H Rand dalam Foreign Affair, 4 Agustus 2026, menjelaskan hal yang sama Amerika memang benar sibuk untuk membuat "perang abadi". Sementara Amerika selalu kalah perang lebih dari empat dekade. Eropa kini sulit untuk berkonsolidasi.
Kehadiran Trump membuat segalanya tidak pasti. Bahkan keengganan untuk berkonfrontasi secara langsung dengan Moskow bisa dibilang membuat Kremlin lebih progresip.
PBB Defisit Kepercayaan
Di bulan September 2026 Sesi ke-81 Majelis Umum PBB mengusung tema "Restoring Trust, Konflik terus menimbulkan penderitaan manusia yang sangat besar, capaian pembangunan tetap lemah dan rapuh, dampak perubahan iklim semakin intensif," ujarnya.
Defisit Kepercayaan
Menurut Rahman, berbagai krisis yang saling memperkuat tersebut telah mengikis kepercayaan terhadap tindakan kolektif dan lembaga internasional.
"Defisit kepercayaan yang semakin lebar menguji keyakinan terhadap institusi internasional dan tindakan kolektif.
Defisit ini harus kita tutup dengan bekerja sama melalui dialog, pembaruan kerja sama, dan memberikan hasil," katanya.
Rahman mengatakan tugas negara-negara anggota bukan hanya mempertahankan PBB, tetapi juga memperkuat organisasi tersebut serta membangun kepercayaan melalui kinerja nyata.
Ia berharap upaya tersebut dapat memastikan masyarakat dunia mewarisi masa depan yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih damai.
Presiden Majelis Umum PBB Khalilur Rahman mengatakan keberlangsungan PBB selama lebih dari delapan dekade menunjukkan pentingnya organisasi tersebut dalam menjaga perdamaian dan menangani berbagai persoalan lintas negara.
"Selama lebih dari delapan dekade, organisasi kita telah membantu dunia menghindari terjerumus ke dalam Perang Dunia.
Guterres menyambut tema sidang tahun ini dan mengatakan memulihkan kepercayaan terhadap sistem multilateral merupakan "tantangan yang menentukan zaman kita,
Ia menyoroti berbagai tekanan yang dihadapi dunia, mulai dari konflik dan risiko eskalasi nuklir, kemiskinan yang semakin dalam, gangguan iklim, hingga perkembangan kecerdasan buatan yang tidak memiliki tata kelola memadai.
Menurut Guterres, tekanan tersebut menguji berbagai institusi global, mulai dari Dewan Keamanan PBB hingga sistem keuangan internasional. Ia menyerukan negara-negara kembali mengedepankan kerja sama untuk menghadapi persoalan tersebut.
"Melalui diplomasi, dialog, dan kolaborasi, Majelis ini dapat membangun kembali kepercayaan dan itikad baik yang saat ini hilang dari geopolitik kita," kata Guterres.
Ia berharap upaya tersebut dapat memastikan masyarakat dunia mewarisi masa depan yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih damai.
Pembukaan sidang berlangsung ketika dunia menghadapi berbagai konflik dan ketegangan geopolitik, sekaligus meningkatnya tantangan ekonomi, perubahan iklim, serta perkembangan teknologi yang semakin cepat. Situasi tersebut membuat pemulihan kepercayaan terhadap kerja sama multilateral menjadi salah satu agenda utama PBB.