Oleh : JIMMY H SIAHAAN
La kakistocratie atau la cacocratie, adalah akar kata Yunani, kakitos ( terburuk) dan kratos ( aturan).
Kata ini digunakan dalam komentar politik untuk menggambarkan sistem dimana ketidakkompetenan dan nepotisme.
Saat ini apakah ada rasa kepatutan sebagai pemimpin, rasa krisis moral, rasa kewibawaan, rasa kepercayaan pada rezim ?
Apakah saat ini kita merupakan sebagai "kakistokrasi" atau sebuah negara yang dijalankan oleh orang-orang yang "paling tidak berkualifikasi"?
Cinta Kekuasaan
Para sejarawan membuat dalil praktis saja. Sejarah adalah politik masa lalu, sedangkan politik adalah sejarah yang ada sekarang. "Kecintaan akan kekuasaan" sudah menjadi model masa kini.
Jika anda ingin memperoleh suatu hasil politik tertentu, Anda harus mengusahakan agar kondisi ekonomi adalah dalam bentuk sedemikian rupa sehingga cenderung untuk menghasilkan hasil seperti itu.
Jika Anda ingin mendirikan dan mempertahankan pemerintahan sendiri secara politik, Anda harus mengusahakan agar kondisi dalam industri dan keuangan adalah sedemikian rupa sehingga tidak secara otomatis menentang tujuan politik Anda sendiri.
Tenaga seharusnya sebuah spritual namun semakin melemah, menyebutkan kata ideal dengan perasaan enggan, bahkan sangat sulit memberi makna moral. Secara sosial, tentu tidak dapat dipertahankan tanpa ada rasa keadilan.
Kepemimpinan
Orang Melayu sejak dahulu mengenal satu prinsip yang sederhana tetapi dalam: "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah."
Artinya, kepemimpinan tidak boleh tercabut dari nilai. Kekuasaan tidak boleh berjalan tanpa batas. Kepandaian tidak boleh kehilangan akal budi. Dan keberanian tidak boleh meninggalkan kebenaran.
Kepemimpinan bukan management, karena management hanya bertanya, bagaimana saya dapat mencapai sesuatu secara paling baik, efisien dan efektif (Doing things right)
Dilain pihak, Kepemimpinan bertanya, apa yang baik saya bisa perbuat dan dapat ( Doing the right things).
Menurut Plato, jika sang pemimpin akan membuat Keputusan yang baik didasarkan pada pengetahuan bukan pada angka.
Adanya semangat akal sehat, integritas intelektual, meskipun dalam ukuran relatif terbatas, kenapa tidak lebih banyak para pemimpin yang memiliki sifat ini ?.
Rasionalitas & Integritas
Wakil Presiden ke-11 RI Prof Boediono menegaskan bahwa kepemimpinan pemerintahan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan politik ataupun kecanggihan konsep teknokratis.
Kepemimpinan yang efektif justru ditentukan oleh kemampuan menyatukan rasionalitas kebijakan dengan otoritas politik agar keputusan pemerintah benar-benar dapat dilaksanakan dan memberikan hasil bagi masyarakat.
"Kebijakan ekonomi akan efektif hanya apabila ditopang secara sekaligus oleh dua pilar, yaitu adanya konsep kebijakan yang rasional yang dirumuskan secara sistematis dan teknokratis, dan adanya dukungan dari pemegang otoritas politik untuk melaksanakannya di lapangan," ujar Boediono.
Saat ini realitas politik, digambarkan sebagai kekuasaan dibawah naungan "Dua matahari", kedua matahari membuat suhu politik bertambah panas.
Kembali kepertanyaan apa hal ini dianggap sebuah kepatuhan yang normal ? Adanya dua nahkoda sebagai pemimpin bisa membuat keputusan yang berintegrasi.
Dalam hal ini bukan soal elang dan merpati lagi, ada dikotomi baru, soal integrasionis dan non yang ingin dan bisa memperlambat, juga membuat buruk atau ikut mengatur jalannya pemerintahan.