NUSANTARA TIDAK HANYA MEMBANGUN CANDI, KAPAL, RUMAH, AIR, DAN TEKNOLOGI JUGA MENYIMPAN PENGETAHUAN
NUSANTARA TIDAK HANYA MEMBANGUN CANDI, KAPAL, RUMAH, AIR, DAN TEKNOLOGI JUGA MENYIMPAN PENGETAHUAN
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
DEKOLONISASI PEMIKIRAN — SERI 3
Penulis: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 September 2026
JANGAN HANYA MEMBACA WARISAN SEBAGAI BUDAYA
Pada Seri 2 kita melihat Borobudur.
Kita tidak berhenti pada pertanyaan:
“Siapa yang membangun candi itu?”
Kita naik satu tingkat:
“PENGETAHUAN APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBANGUNNYA?”
Pertanyaan yang sama harus kita ajukan kepada seluruh warisan Nusantara.
Kapal.
Rumah.
Sawah.
Saluran air.
Permukiman.
Jalan.
Benteng.
Sistem pelayaran.
Sistem pertanian.
Bahkan cara masyarakat memilih lokasi untuk hidup.
Karena sebuah peradaban tidak hanya meninggalkan tulisan.
PERADABAN MENINGGALKAN CARA MEMECAHKAN MASALAH.
---
1. NUSANTARA ADALAH KEPULAUAN
Ini bukan sekadar fakta geografis.
Ini adalah tantangan teknologi.
Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang dipisahkan oleh laut.
Maka manusia Nusantara sejak dahulu menghadapi persoalan:
Bagaimana bergerak?
Bagaimana membaca angin?
Bagaimana membaca arus?
Bagaimana membuat kapal?
Bagaimana membawa manusia dan barang?
Bagaimana menentukan arah?
Bagaimana membangun permukiman di lingkungan yang berbeda?
Bagaimana bertahan menghadapi hujan, panas, banjir, laut, gunung dan gempa?
Kalau kita membaca Nusantara hanya sebagai kumpulan adat dan tradisi, kita kehilangan lapisan pengetahuan yang jauh lebih dalam.
---
2. KAPAL ADALAH LABORATORIUM TEKNOLOGI
Lihat Pinisi.
UNESCO mencatat seni pembuatan kapal Pinisi di Sulawesi Selatan sebagai warisan budaya takbenda yang ditetapkan pada 2017.
Pengetahuan pembuatan kapal itu diwariskan antargenerasi dan berkaitan dengan tradisi panjang pembuatan serta pelayaran perahu Austronesia.
Pertanyaannya bukan sekadar:
“Pinisi itu kapal tradisional.”
Pertanyaannya:
BAGAIMANA PENGETAHUAN ITU BEKERJA?
Bagaimana memilih kayu?
Bagaimana menentukan bentuk lambung?
Bagaimana menyusun bagian-bagian kapal?
Bagaimana menjaga keseimbangan?
Bagaimana mengatur layar?
Bagaimana membaca kondisi laut?
Bagaimana pengetahuan itu ditransfer dari satu generasi kepada generasi berikutnya?
Di sinilah kita mulai melihat sesuatu yang penting.
PENGETAHUAN TIDAK SELALU LAHIR DALAM BENTUK BUKU.
Kadang ia hidup di tangan seorang pembuat kapal.
Kadang hidup dalam ukuran yang diwariskan.
Kadang hidup dalam urutan pekerjaan.
Kadang hidup dalam pengalaman membaca laut.
Dan karena itu, tugas ilmu pengetahuan modern bukan meremehkannya sebagai “tradisional”.
Tugasnya adalah:
MENGUKUR, MENCATAT, MENGUJI, DAN MEMAHAMI.
---
3. RUMAH BUKAN SEKADAR TEMPAT TINGGAL
Sekarang lihat rumah-rumah tradisional Nusantara.
Bentuknya berbeda-beda.
Joglo.
Limasan.
Rumah panggung.
Rumah-rumah tradisional di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua.
Mengapa bentuknya berbeda?
Karena lingkungan berbeda.
Iklim berbeda.
Bahan tersedia berbeda.
Kondisi tanah berbeda.
Kebutuhan masyarakat berbeda.
Dan banyak penelitian modern menunjukkan bahwa arsitektur vernakular Indonesia memiliki berbagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan tropis, termasuk ventilasi, bentuk atap, material, orientasi dan pengendalian panas secara pasif.
Artinya, rumah tradisional dapat dibaca sebagai:
ARSIP PENGETAHUAN LINGKUNGAN.
Bukan berarti semua rumah tradisional otomatis lebih baik daripada bangunan modern.
Bukan itu maksudnya.
Justru kita harus mengujinya.
Berapa suhu di dalam?
Bagaimana sirkulasi udaranya?
Bagaimana kelembapannya?
Bagaimana responsnya terhadap hujan?
Bagaimana penggunaan energinya?
Bagaimana struktur bangunannya bekerja?
UKUR.
BANDINGKAN.
UJI.
BARU KESIMPULKAN.
Itulah cara kita menghormati pengetahuan leluhur tanpa memitoskannya.
---
4. AIR ADALAH PENGETAHUAN
Peradaban tidak mungkin hidup tanpa air.
Karena itu, cara masyarakat mengatur air merupakan salah satu pintu penting untuk membaca tingkat pengetahuannya.
Air untuk minum.
Air untuk pertanian.
Air untuk ternak.
Air untuk permukiman.
Air untuk menghadapi musim kering.
Air untuk menghadapi hujan.
Maka sistem pengairan bukan hanya persoalan teknis.
Ia menyatukan:
ALAM + MANUSIA + RUANG + WAKTU + ATURAN.
Di sinilah kita harus melihat berbagai sistem pengelolaan air Nusantara bukan sekadar sebagai “tradisi”.
Tetapi sebagai sesuatu yang dapat dipelajari:
Bagaimana air bergerak?
Bagaimana pembagiannya?
Siapa yang mengaturnya?
Bagaimana konflik diselesaikan?
Bagaimana masyarakat menjaga keberlanjutannya?
AIR MENYIMPAN DATA TENTANG CARA SEBUAH MASYARAKAT MENGATUR KEHIDUPANNYA.
---
5. TEKNOLOGI TIDAK SELALU BERBENTUK MESIN
Ini mungkin bagian paling penting.
Ketika mendengar kata teknologi, kita sering membayangkan:
Mesin.
Komputer.
Robot.
AI.
Chip.
Satelit.
Padahal teknologi pada dasarnya adalah:
PENGETAHUAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH.
Kalau demikian, maka:
cara membuat kapal adalah teknologi.
Cara mengolah logam adalah teknologi.
Cara mengatur air adalah teknologi.
Cara membangun rumah adalah teknologi.
Cara mengawetkan makanan adalah teknologi.
Cara membaca musim adalah teknologi.
Cara mengolah tanah adalah teknologi.
Cara menentukan lokasi permukiman adalah teknologi.
Dan cara mengorganisasi manusia untuk melakukan pekerjaan besar juga merupakan pengetahuan yang dapat dipelajari.
---
6. NUSANTARA BUKAN KOSONG SEBELUM DATANGNYA TEORI MODERN
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Kita tidak perlu mengatakan:
“Nusantara sudah memiliki ilmu modern seperti yang kita kenal sekarang.”
Klaim seperti itu justru bisa melemahkan argumen kita apabila tidak memiliki bukti.
Yang lebih kuat adalah mengatakan:
MANUSIA NUSANTARA TELAH MENGHADAPI MASALAH-MASALAH NYATA DAN MENGEMBANGKAN CARA UNTUK MENYELESAIKANNYA.
Nama ilmunya mungkin belum sama.
Bahasanya berbeda.
Metodenya berbeda.
Dokumentasinya mungkin tidak seperti jurnal ilmiah modern.
Tetapi jejak pemecahan masalahnya ada.
Dan jejak itu dapat diteliti.
---
7. DARI WARISAN MENJADI DATA
Inilah perubahan cara berpikir yang kita perlukan.
Jangan hanya mengatakan:
“Ini warisan leluhur.”
Tetapi tanyakan:
BERAPA UKURANNYA?
BAGAIMANA STRUKTURNYA?
MENGAPA BENTUKNYA DEMIKIAN?
MATERIAL APA YANG DIGUNAKAN?
DARI MANA MATERIAL ITU BERASAL?
BAGAIMANA PROSES PEMBUATANNYA?
MASALAH APA YANG DIPECAHKANNYA?
APAKAH PRINSIPNYA MASIH RELEVAN HARI INI?
Di sinilah warisan budaya berubah menjadi:
DATA.
Data kemudian menjadi:
PENGETAHUAN.
Pengetahuan kemudian dapat menjadi:
INOVASI.
Dan inovasi dapat menjadi:
KEKUATAN PERADABAN.
---
8. JANGAN MEMUJA MASA LALU
Dekolonisasi pemikiran bukan berarti memuja leluhur.
Bukan pula mengatakan semua yang berasal dari Barat salah.
Itu sama-sama ekstrem.
Kita membutuhkan sikap yang lebih dewasa:
BACA SEMUA.
UJI SEMUA.
PILIH BERDASARKAN BUKTI.
KEMBANGKAN DENGAN PIKIRAN SENDIRI.
Ilmu pengetahuan tidak memiliki bangsa.
Tetapi kemampuan sebuah bangsa untuk menghasilkan ilmu pengetahuan sangat menentukan masa depannya.
Karena itu kita harus berhenti menjadi hanya konsumen teori.
---
9. NUSANTARA SEBAGAI LABORATORIUM
Bayangkan jika warisan Nusantara dibaca ulang secara sistematis.
Borobudur diteliti oleh:
arkeolog,
arsitek,
insinyur sipil,
ahli geologi,
ahli hidrologi,
matematikawan,
ilmuwan material,
ahli data.
Pinisi diteliti oleh:
insinyur perkapalan,
ahli material,
ahli kelautan,
ahli navigasi,
sejarawan,
dan para pembuat kapal yang memegang pengetahuan turun-temurun.
Rumah tradisional diteliti melalui:
suhu,
kelembapan,
aliran udara,
struktur,
material,
energi,
dan perubahan iklim.
Sistem air diteliti melalui:
hidrologi,
ekologi,
pertanian,
sosiologi,
dan teknologi informasi.
Maka kita tidak lagi hanya mempunyai:
MUSEUM.
Kita mempunyai:
LABORATORIUM PERADABAN.
---
10. DI SINILAH DEKOLONISASI PEMIKIRAN MENJADI NYATA
Dekolonisasi pemikiran bukan mengganti buku Barat dengan buku Nusantara.
Bukan pula menolak teori yang datang dari luar.
Yang kita lakukan jauh lebih sederhana tetapi jauh lebih penting:
KITA BERHAK MEMBACA DUNIA DENGAN MATA KITA SENDIRI.
Kita belajar dari Barat.
Kita belajar dari Timur.
Kita belajar dari seluruh dunia.
Tetapi kita juga membaca:
Nagarakretagama.
Sutasoma.
Babad.
Prasasti.
Arsitektur.
Kapal.
Sistem air.
Permukiman.
Bahasa.
Teknologi.
Dan seluruh jejak kehidupan yang ditinggalkan leluhur kita.
Kemudian semuanya diuji dengan metode ilmu pengetahuan.
BUKAN UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA KITA LEBIH HEBAT.
Tetapi untuk mengetahui:
SIAPA KITA SEBENARNYA.
---
KALIMAT PEMAHAT
NUSANTARA TIDAK KEKURANGAN PENGETAHUAN.
Yang sering kurang adalah:
KEMAUAN UNTUK MEMBACANYA SEBAGAI PENGETAHUAN.
Kapal kita jangan hanya dilihat sebagai kapal.
Baca tekniknya.
Rumah kita jangan hanya dilihat sebagai rumah.
Baca adaptasinya.
Sistem air jangan hanya dilihat sebagai tradisi.
Baca logikanya.
Borobudur jangan hanya dilihat sebagai monumen.
BACA ILMU YANG TERKUNCI DI DALAMNYA.
Karena sebuah peradaban tidak hanya meninggalkan benda.
SEBUAH PERADABAN MENINGGALKAN CARA BERPIKIR.
Dan mungkin tugas generasi kita bukan menciptakan semuanya dari nol.
Mungkin sebagian tugas kita adalah:
MENEMUKAN KEMBALI PENGETAHUAN YANG PERNAH KITA MILIKI,
MENGUJINYA DENGAN ILMU PENGETAHUAN MODERN, LALU MENGEMBANGKANNYA MENJADI PENGETAHUAN BARU.
Itulah saat warisan berubah menjadi masa depan.
BERSAMBUNG KE
SERI 4
DARI WARISAN MENJADI ILMU
BAGAIMANA NUSANTARA MENGUBAH PENGETAHUAN LOKAL MENJADI TEKNOLOGI MASA DEPAN
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 September 2026