Penulis: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 September 2026
SERI _ 2
Pada tulisan sebelumnya kita mengajukan sebuah pertanyaan:
JANGAN HANYA MELIHAT BENDA.
BACA PENGETAHUAN DI BALIK BENDA.
Sekarang mari kita uji pertanyaan itu melalui salah satu mahakarya peradaban Nusantara:
BOROBUDUR.
Selama ini kita melihat Borobudur sebagai candi.
Kita melihat reliefnya.
Kita melihat stupa-stupanya.
Kita melihat kemegahannya.
Kita melihatnya sebagai warisan budaya dan keagamaan.
Semua itu benar.
Tetapi ada lapisan lain yang harus kita berani buka:
ILMU APA YANG MEMUNGKINKAN BOROBUDUR BERDIRI?
BERABAD-ABAD TERSEMBUNYI, KEMBALI DIBACA
Borobudur diperkirakan dibangun pada abad ke-8 dan ke-9. Dalam perjalanan sejarahnya, kompleks ini kemudian ditinggalkan antara abad ke-10 dan ke-15.
Borobudur ditemukan kembali oleh pihak Inggris pada 1814, ketika Jawa berada di bawah pemerintahan Inggris. Thomas Stamford Raffles memperoleh laporan mengenai adanya bangunan besar yang tertutup di daerah Borobudur, kemudian menugaskan H.C. Cornelius untuk melakukan penyelidikan dan pembersihan.
Cornelius mengerahkan sekitar 200 orang untuk menebang pepohonan, membersihkan semak dan menggali struktur yang tertutup.
Berabad-abad ditinggalkan.
Tertutup tanah dan vegetasi.
Kemudian dibuka kembali.
Dan apa yang ditemukan?
SEBUAH MONUMEN RAKSASA YANG MASIH MEMILIKI CUKUP BANYAK MATERIAL ASLI UNTUK DIREKONSTRUKSI.
UNESCO mencatat bahwa ketika Borobudur ditemukan kembali, masih terdapat material asli yang cukup untuk memungkinkan rekonstruksi. Pemugaran besar kemudian dilakukan pada abad ke-20, termasuk proyek 1973–1983 dengan bantuan UNESCO.
Ini bukan berarti Borobudur tidak mengalami kerusakan.
Justru sebaliknya.
Ia mengalami kerusakan, perubahan, dan membutuhkan pekerjaan konservasi yang panjang.
Tetapi pertanyaan yang jauh lebih menarik adalah:
MENGAPA SETELAH BERABAD-ABAD DITINGGALKAN, SEBUAH STRUKTUR SEBESAR ITU MASIH MENYISAKAN BEGITU BANYAK JEJAK KONSTRUKSI ASLINYA?
Di sinilah kita mulai melihat persoalan dari perspektif yang berbeda.
SEBUAH PERADABAN MENINGGALKAN BUKTI
Kita sering mengatakan:
“Nenek moyang kita hebat.”
Tetapi kalimat itu saja tidak cukup.
Kalau kita benar-benar ingin menghargai kemampuan leluhur, kita harus bertanya:
APA YANG MEREKA KETAHUI?
Karena Borobudur tidak mungkin lahir hanya dari keberanian.
Ia membutuhkan:
PERENCANAAN.
PENGUKURAN.
PEMILIHAN LOKASI.
PENGOLAHAN MATERIAL.
PENGATURAN BEBAN.
PENGELOLAAN AIR.
PENGORGANISASIAN TENAGA KERJA.
Dan tentu saja, pengetahuan mengenai bentuk dan ruang.
Kita tidak perlu buru-buru menyebut semuanya sebagai “ilmu modern”.
Istilahnya mungkin berbeda.
Metodenya mungkin berbeda.
Cara mereka menjelaskan alam mungkin berbeda.
Tetapi persoalan yang mereka hadapi nyata.
BATU TETAP MEMILIKI BERAT.
TANAH TETAP MEMILIKI SIFAT.
AIR TETAP MENGALIR.
STRUKTUR TETAP MENERIMA BEBAN.
DAN UKURAN TETAP HARUS TEPAT.
Itulah sebabnya Borobudur menjadi sangat menarik untuk dibaca sebagai JEJAK PENGETAHUAN.
BATU BUKAN HANYA BATU
Bayangkan kita membuat sebuah rumah sederhana.
Kayu harus diukur.
Kemudian dipotong.
Kemudian disambung.
Jika ukurannya salah, sambungan tidak tepat.
Jika sudutnya salah, konstruksi menjadi tidak sempurna.
Jika fondasinya tidak sesuai, bangunan dapat bermasalah.
Sekarang kita melihat Borobudur.
Kita tidak sedang melihat sebuah rumah.
Kita sedang melihat sebuah struktur monumental dengan susunan bertingkat, lima teras persegi konsentris, tiga platform melingkar, sebuah stupa utama, serta 72 stupa berlubang pada bagian atasnya.
Maka pertanyaan kita harus berubah:
BAGAIMANA SEMUA ITU DIUKUR?
BAGAIMANA PROPORSINYA DITENTUKAN?
BAGAIMANA BATU-BATU DIOLAH?
BAGAIMANA KOMPONENNYA DIATUR?
BAGAIMANA BEBAN DIKELOLA?
BAGAIMANA AIR DIARAHKAN?
BAGAIMANA LOKASI DIPILIH?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita dari sejarah menuju ilmu.
MATEMATIKA YANG TIDAK BOLEH LANGSUNG KITA KLAIM
Di sini kita harus jujur secara ilmiah.
Kita tidak boleh mengatakan:
“Leluhur kita sudah menggunakan matematika modern.”
Kita belum mempunyai dasar untuk menyatakan itu secara sederhana.
Tetapi kita juga tidak boleh mengatakan:
“Karena mereka tidak menggunakan buku matematika modern, berarti mereka tidak menggunakan matematika.”
Itu juga tidak masuk akal.
Sebab pengukuran, proporsi, pengulangan ukuran, geometri, dan keteraturan diperlukan untuk menghasilkan konstruksi yang kompleks.
Maka pertanyaan ilmiahnya adalah:
SISTEM PENGUKURAN APA YANG DIGUNAKAN PARA PEMBANGUN BOROBUDUR?
SISTEM PROPORSI APA YANG MEREKA GUNAKAN?
BAGAIMANA MEREKA MENJAGA KETERATURAN BENTUK?
BAGAIMANA MEREKA MEMINDAHKAN PENGETAHUAN ITU DARI PERENCANAAN KE PEKERJAAN DI LAPANGAN?
Inilah penelitian yang harus kita dorong.
Bukan mitologisasi.
Bukan pula pengerdilan.
BUKTIKAN.
TEKNIK SIPIL TIDAK HARUS MENUNGGU NAMA “TEKNIK SIPIL”
Ada kesalahan cara pandang yang sering terjadi.
Kita melihat ilmu modern melalui nama disiplin akademiknya:
Civil engineering.
Structural engineering.
Geotechnical engineering.
Hydrology.
Architecture.
Lalu kita mencari apakah istilah-istilah itu sudah ada pada masa lalu.
Padahal yang lebih tepat adalah melihat persoalannya.
Manusia membangun sebelum universitas modern berdiri.
Manusia membuat kapal sebelum ada fakultas teknik kelautan.
Manusia mengatur air sebelum ada fakultas hidrologi.
Manusia membangun rumah sebelum ada gelar arsitek.
Karena itu:
NAMA ILMUNYA BOLEH BELUM ADA.
PERSOALAN ILMIAHNYA SUDAH ADA.
Dan mungkin inilah yang harus kita baca kembali di Nusantara.
AIR, TANAH, DAN BEBAN
Bangunan besar tidak hanya berurusan dengan batu.
Ia juga berurusan dengan apa yang ada di bawah dan di sekitarnya.
TANAH.
AIR.
LERENG.
DRAINASE.
BEBAN.
Dalam sejarah konservasi Borobudur, persoalan drainase dan kondisi struktur menjadi bagian penting dari upaya pelestarian. Pemugaran modern juga membutuhkan penelitian teknis untuk menjaga kestabilan monumen.
Maka kita boleh mengajukan pertanyaan:
Bagaimana pembangun masa lalu memahami kondisi lokasi yang mereka pilih?
Bagaimana mereka mengantisipasi air?
Bagaimana mereka mengatur konstruksi pada sebuah bukit?
Bagaimana mereka memastikan struktur dapat bertahan?
Sekali lagi:
Kita tidak boleh langsung memberikan nama ilmu modern kepada pengetahuan masa lalu tanpa bukti.
Tetapi kita juga tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa:
MASALAH YANG DIHADAPI MEREKA ADALAH MASALAH TEKNIS YANG NYATA.
KEKUATAN ILMU TERLIHAT DARI JEJAKNYA
Di sinilah Borobudur memberikan pelajaran yang sangat kuat.
Sebuah peradaban mungkin tidak meninggalkan buku teks teknik.
Tetapi ia dapat meninggalkan:
BANGUNAN.
Bangunan menjadi bukti.
Batu menjadi data.
Pola menjadi data.
Ukuran menjadi data.
Susunan menjadi data.
Kerusakan menjadi data.
Proses pemugaran menjadi data.
Dan dari data tersebut kita dapat mencoba merekonstruksi:
CARA BERPIKIR PARA PEMBANGUNNYA.
Inilah pendekatan yang menurut saya harus kita kembangkan.
Bukan hanya mempelajari apa yang mereka bangun.
Tetapi:
MEMPELAJARI BAGAIMANA MEREKA BERPIKIR KETIKA MEMBANGUNNYA.
DAN BOROBUDUR BUKAN SATU-SATUNYA
Borobudur bukan satu-satunya bukti.
Nusantara penuh dengan situs, candi, sistem irigasi, permukiman, rumah tradisional, benteng, jalan, pelabuhan, kapal dan berbagai bentuk teknologi tradisional.
Prambanan.
Situs-situs Majapahit.
Sangiran.
Sistem Subak Bali.
Permukiman tradisional di berbagai daerah.
Teknologi kapal Nusantara.
Arsitektur rumah panggung.
Sistem pengelolaan air.
Dan masih banyak lagi.
Pertanyaannya:
BERAPA BANYAK PENGETAHUAN YANG BELUM KITA BACA DI BALIK SEMUA ITU?
DARI CANDI MENJADI LABORATORIUM
Bayangkan jika Borobudur dipelajari secara lintas disiplin.
Sejarawan membaca konteksnya.
Arkeolog membaca material dan struktur arkeologisnya.
Arsitek membaca bentuknya.
Insinyur sipil membaca konstruksinya.
Ahli geologi membaca tanah dan batuannya.
Ahli hidrologi membaca airnya.
Matematikawan membaca geometri dan proporsinya.
Ahli data mengumpulkan seluruh informasi tersebut.
Kemudian semuanya dipertemukan.
Bukan untuk mengatakan:
“NUSANTARA LEBIH HEBAT DARIPADA BARAT.”
Tidak.
Tetapi untuk menjawab pertanyaan:
APA YANG SEBENARNYA TELAH DIKETAHUI MANUSIA NUSANTARA PADA MASA ITU?
Jawaban atas pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada sekadar kebanggaan.
Karena pengetahuan yang ditemukan dapat menjadi bahan untuk:
PENDIDIKAN.
PENELITIAN.
TEKNOLOGI.
INOVASI.
Dan bahkan:
PEMBENTUKAN TEORI BARU.
INILAH DEKOLONISASI PEMIKIRAN
Dekolonisasi bukan:
BARAT SALAH, NUSANTARA BENAR.
Bukan.
Dekolonisasi juga bukan:
NUSANTARA HEBAT, BARAT TIDAK PERLU.
Bukan.
Dekolonisasi adalah:
BARAT KITA PELAJARI.
NUSANTARA KITA BACA.
KEDUANYA KITA UJI.
LALU KITA KEMBANGKAN PENGETAHUAN DENGAN KEPALA SENDIRI.
Karena ilmu pengetahuan tidak membutuhkan kita untuk memilih bangsa mana yang paling hebat.
Ilmu membutuhkan:
BUKTI.
Dan kalau bukti itu berada di tanah Nusantara, maka bukti tersebut harus kita baca.
SEBUAH PERADABAN TIDAK HANYA MENINGGALKAN MONUMEN
Ia meninggalkan:
CARA MENGUKUR.
CARA MEMBANGUN.
CARA MENGELOLA AIR.
CARA MEMILIH MATERIAL.
CARA MENGORGANISASI MANUSIA.
CARA MEMECAHKAN MASALAH.
Dan mungkin juga:
CARA BERPIKIR.
Itulah sebabnya Borobudur harus kita lihat dengan mata yang berbeda.
Jangan hanya melihat candinya.
LIHAT ILMUNYA.
Jangan hanya melihat batunya.
LIHAT PERHITUNGANNYA.
Jangan hanya melihat bentuknya.
LIHAT SISTEM YANG MEMUNGKINKANNYA BERDIRI.
Dan jangan hanya bertanya:
“SIAPA YANG MEMBANGUN?”
Tanyakan:
“APA YANG MEREKA KETAHUI?”
KALIMAT PEMAHAT
BOROBUDUR TELAH TERKUBUR BERABAD-ABAD.
TETAPI PENGETAHUAN YANG TERKANDUNG DALAM CARA IA DIBANGUN TIDAK IKUT TERKUBUR.
Ia masih meninggalkan jejak.
Pada batu.
Pada ukuran.
Pada susunan.
Pada struktur.
Pada relief.
Pada sistem ruang.
Pada cara bangunan itu bertahan.
TUGAS KITA BUKAN SEKADAR MENGAGUMINYA.
TUGAS KITA ADALAH MEMBACA PENGETAHUAN YANG DITINGGALKANNYA.
Karena mungkin yang selama ini kita sebut:
“WARISAN BUDAYA”
sesungguhnya juga merupakan:
“ARSIP PENGETAHUAN.”
Dan apabila kita mampu membacanya kembali dengan metode ilmu pengetahuan modern, maka kita tidak sedang kembali ke masa lalu.
KITA SEDANG MENGAMBIL PENGETAHUAN DARI MASA LALU UNTUK MEMBANGUN MASA DEPAN.
BERSAMBUNG KE SERI 3
NUSANTARA TIDAK HANYA MEMBANGUN CANDI — KAPAL, RUMAH, AIR, DAN TEKNOLOGI JUGA MENYIMPAN PENGETAHUAN
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 September 2026