SURAT DARI ST. PETERSBURG: JEJAK PARA PRESIDEN DI SUNGAI NEVA
SURAT DARI ST. PETERSBURG : JEJAK PARA PRESIDEN DI SUNGAI NEVA
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Misi Prabowo dan Arti St. Petersburg bagi Indonesia
Oleh Antony Zeidra Abidin
Surat ini saya tulis dari tepi Sungai Neva. Kota yang dibangun Tsar Peter Agung lebih dari tiga abad lalu ini dikenal dengan istana, museum, dan kanal-kanalnya.
Namun, bagi Indonesia, St. Petersburg lebih dari kota seni. Di kota inilah tiga presiden Indonesia meninggalkan jejak, dan di kota ini pula Presiden Prabowo menegaskan arah baru diplomasi Indonesia.
Jejak yang Mendahului
Jejak pertama ditorehkan Bung Karno pada 1956, saat kota ini masih bernama Leningrad. Ia melihat masjid berkubah biru yang telah lama dijadikan gudang.
Kepada Nikita Khrushchev, Bung Karno meminta masjid itu dikembalikan kepada umat Islam. Menurut penuturan imam masjid, sekitar sepuluh hari kemudian bangunan itu kembali menjadi masjid.
Kini warga mengenalnya sebagai Masjid Biru, sebagian menyebutnya Masjid Sukarno.
Jejak kedua datang dari Megawati Soekarnoputri. Semasa menjadi presiden, ia membuka kerja sama pertahanan, termasuk pembelian Sukhoi.
Pada September 2024, Megawati memberi kuliah umum pada peringatan 300 tahun Universitas St. Petersburg. Di sana ia menegaskan bahwa bebas aktif bukan berarti netral, melainkan berpihak pada kemanusiaan dan menolak penjajahan.
Prabowo: dari Menhan ke Presiden
Jejak ketiga, dan yang paling strategis, adalah jejak Presiden Prabowo Subianto. Hubungannya dengan Rusia sudah terjalin lama sebelum ia tiba di St. Petersburg.
Sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo empat kali ke Moskow: Januari 2020, Juni 2020, Maret 2021, dan Juli 2024. Fokusnya kemitraan strategis dan kerja sama teknik militer.
Pada Juli 2024, sebagai presiden terpilih, ia bertemu Presiden Putin di Kremlin. Ia meminta dukungan Rusia di bidang pangan, energi, dan pendidikan.
Hasil diplomasi pertahanan itu terbatas. Hubungan tetap hangat, tetapi pembelian senjata besar dari Rusia tertahan, antara lain karena ancaman sanksi Amerika Serikat.
Setelah dilantik, Prabowo menggeser arah dari alutsista ke ekonomi. Pergeseran itu tampak jelas di St. Petersburg.
Misi di Tepi Neva
Pada 18–20 Juni 2025, Prabowo melakukan kunjungan kenegaraan ke St. Petersburg. Ia menyebutnya kunjungan resmi pertamanya ke Rusia sebagai Presiden RI.
Agendanya diawali tabur bunga di Makam Piskaryovskoye, tempat peristirahatan korban Pengepungan Leningrad. Sesudahnya, ia bertemu Putin di Istana Konstantinovsky.
Putin menyebut Prabowo tamu utama St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025. Prabowo berpidato di sesi pleno, langsung setelah pidato pembukaan Putin.
Bila dibaca dari program pemerintahannya, misi Prabowo mencakup empat hal.
Pertama, ketahanan energi. Putin menyatakan siap menambah pasokan minyak dan gas alam cair ke Indonesia, serta membantu menaikkan produksi ladang minyak tua.
Kedua, ketahanan pangan. Rusia adalah pemasok gandum dan pupuk kalium bagi Indonesia. Pupuk adalah urat nadi swasembada pangan.
Ketiga, modal dan teknologi. Danantara menandatangani nota kesepahaman dengan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF). Kerja sama pembangunan kapal, transportasi, dan pendidikan juga dijajaki.
Keempat, posisi di dunia multipolar. Prabowo berterima kasih atas dukungan Rusia sehingga Indonesia cepat menjadi anggota penuh BRICS. Pintu kerja sama dengan Barat dan Asia tetap terbuka.
Mengapa St. Petersburg Penting
St. Petersburg adalah panggung SPIEF, forum tempat para pemimpin dan pengusaha dunia bertemu setiap tahun. Kehadiran Prabowo sebagai tamu utama mengangkat profil Indonesia di mata dunia.
Di kota ini pula, pada Desember 2025, Indonesia menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Anggotanya Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgizstan.
Rusia telah meratifikasinya pada Mei 2026. Kini bola ada di tangan DPR RI.
St. Petersburg juga kota pelabuhan dan galangan kapal, sekaligus kota universitas. Bagi Indonesia sebagai negara maritim, kerja sama perkapalan dan pendidikan di sini punya arti nyata.
Kota-kota Lain
Jejak Prabowo di Rusia tidak berhenti di St. Petersburg. Pada Desember 2025, ia kembali bertemu Putin di Moskow, kota yang akan menjadi latar surat saya berikutnya.
Pada September 2026, Prabowo menjadi tamu kehormatan utama Eastern Economic Forum di Vladivostok, gerbang Rusia ke Asia-Pasifik. Kesinambungan diplomasi ini patut dicatat.
Kepentingan Siapa?
Namun, nota kesepahaman bukan hasil akhir. Ukuran sesungguhnya adalah kontrak yang terwujud, investasi yang masuk, dan lapangan kerja yang tercipta.
Tantangannya nyata. Sanksi Barat mempersulit transaksi perbankan dengan Rusia, sehingga diperlukan skema pembayaran yang aman dan transparan.
Di sini pertanyaan dalam esai saya sebelumnya kembali relevan: kepentingan nasional, kepentingan siapa?
Kerja sama dengan Rusia baru bermakna bila petani mendapat pupuk lebih murah, harga energi terjangkau, dan rakyat mendapat pekerjaan. Bukan hanya menguntungkan segelintir pemegang izin impor.
Penutup
Bung Karno meninggalkan masjid. Megawati merintis jembatan ilmu. Prabowo sedang membangun jembatan ekonomi dan kemandirian.
Di tepi Sungai Neva, tiga jejak itu bersambung menjadi satu kisah kontinuitas. Kota ini bukan lagi sekadar saksi sejarah, melainkan salah satu jangkar masa depan kemandirian bangsa.
Salam 8% pertumbuhan ekonomi Indonesia!
St. Petersburg, 22 Oktober 2026