indonews

indonews.id

Kerusuhan Prancis Seret Nama Soros, Open Society Keluarkan Pernyataan Resmi

Pertanyaan soal siapa yang mendanai gelombang protes di Prancis kini merembet ke jaringan filantropi George Soros. Harian Spanyol La Gaceta melaporkan tujuh organisasi yang aktif dalam demonstrasi Oktober 2026 pernah menerima dana atau memiliki kaitan dengan yayasan-yayasan Soros.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Pertanyaan soal siapa yang mendanai gelombang protes di Prancis kini merembet ke jaringan filantropi George Soros. Harian Spanyol La Gaceta melaporkan tujuh organisasi yang aktif dalam demonstrasi Oktober 2026 pernah menerima dana atau memiliki kaitan dengan yayasan-yayasan Soros.

Laporan La Gaceta muncul setelah investigasi Fox News Digital mengidentifikasi 101 organisasi di 13 negara yang mengoordinasikan, menggerakkan, atau memperluas gelombang kerusuhan. Jumlah itu naik dari 54 organisasi tiga hari sebelumnya. Namun, investigasi Fox News tidak menyebut satu pun penyandang dana dan sama sekali tidak menyinggung Soros.

Salah satu nama yang disorot adalah Ligue des droits de l`Homme (LDH), lembaga pembela kebebasan sipil yang berbasis di Paris. Berdasarkan daftar hibah publik milik Open Society Foundations, LDH tercatat menerima tiga kali pendanaan: 82.538 dolar AS pada 2016 dan total 300.184 dolar AS dari dua hibah pada 2017.

Dana itu diberikan untuk tiga keperluan: advokasi terkait praktik kepolisian di Paris, kampanye mengakhiri status darurat Prancis, serta program antidiskriminasi dan akses terhadap hak. Dalam gelombang demonstrasi kali ini, LDH membela para pelajar yang berunjuk rasa dan mengkritik tindakan aparat.

Open Society sendiri telah membantah tudingan serupa di tempat lain. Yayasan itu menegaskan tidak mendukung maupun mendanai protes yang disertai kekerasan. Lembar informasi Open Society untuk Prancis mencantumkan LDH sebagai salah satu organisasi yang pernah mereka dukung sejak mulai berkiprah di negara itu pada awal 2000-an.

Isu pendanaan ini mencuat ketika Prancis tengah menghitung kerugian akibat kerusuhan terparah dalam beberapa tahun terakhir. Pada 17 Oktober 2026, sekitar 550.000 orang turun ke jalan memprotes biaya hidup, harga bahan bakar, dan anggaran pendidikan. Hampir 2.400 orang ditangkap, sementara hampir 1.000 polisi dan gendarme terluka.

Balai kota bersejarah di Limoges, Prancis bagian barat-tengah, hangus terbakar. Seorang aktivis berhaluan kiri telah ditangkap terkait kebakaran tersebut. Jam malam diberlakukan di sejumlah kota, dan pemerintah Prancis menyatakan akan memangkas tunjangan sosial bagi mereka yang terbukti menjarah.

Gelombang aksi belum berhenti. Penyelenggara menyerukan aksi lanjutan bertajuk "Acte II" pada 24 Oktober dengan 212 titik mobilisasi, disusul aksi ketiga pada 31 Oktober.

Gerakan ini juga menyasar skala Eropa. Kelompok pelajar dan organisasi sosialis di Belgia, Jerman, Italia, Irlandia, Spanyol, dan Inggris telah bergabung dalam International Youth Strike pada 20 November, dengan seruan mogok, blokade, dan pendudukan.

Manifesto gerakan itu memandang perang dan krisis iklim sebagai inti dari kapitalisme, serta menuntut pembubaran NATO. Konfederasi buruh Italia, CGIL, juga menyerukan mogok umum pada tanggal yang sama.

Prancis bukan satu-satunya negara Uni Eropa yang terdampak. Gelombang protes telah merembet ke Belgia, Italia, Portugal, dan Albania. Pemerintah Austria bahkan menyalahkan migrasi sebagai penyebab kekerasan di Prancis dan Italia.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas