indonews

indonews.id

KETIKA LAUT BERCERITA DAN SEPOTONG SEJARAH REFORMASI 98

KETIKA LAUT BERCERITA DAN SEPOTONG SEJARAH REFORMASI 98

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

- Inspirasi dari Film Laut Bercerita (2026)


Oleh Denny JA


Di sebuah rumah di Jakarta, setiap Minggu sore, seorang ayah menata empat piring di meja makan, sementara sang ibu memasak makanan kesukaan putra sulungnya. Tiga orang akan duduk. Satu kursi dibiarkan kosong. Putra itu telah lama menghilang.


Tahun demi tahun berlalu. Presiden berganti. Indonesia berubah. Tetapi keluarga itu tetap menyediakan tempat bagi anak yang tak pernah pulang. Harapan menjadi tamu yang tak tega diusir.


Barangkali itulah bentuk penderitaan manusia yang paling sunyi. Bukan kehilangan seseorang yang kematiannya telah diketahui, melainkan kehilangan seseorang tanpa pernah memperoleh kepastian apakah ia masih hidup.


Di luar rumah, sejarah merayakan Reformasi. Di dalam rumah, waktu seolah berhenti. Sebab bagi keluarga korban penghilangan paksa, sejarah tidak selesai ketika seorang presiden turun.


Sebuah bangsa dapat mengumumkan kelahiran zaman baru. Namun bagi sepasang orang tua, zaman lama belum berakhir selama nasib anak yang mereka cintai tetap menjadi teka-teki.


-000-


Ketika Film Membuka Kembali Pintu Sejarah


Pada 29 Oktober 2026, film Laut Bercerita mulai memasuki bioskop Indonesia. Pada hari itu pula saya menontonnya, lalu membawa pulang pertanyaan yang tidak sederhana.


Film ini mengembalikan ingatan saya kepada tahun-tahun terakhir Orde Baru. Masa ketika perbedaan pendapat dapat membuat seseorang diawasi, ditangkap, disiksa, bahkan dihilangkan.


Film tersebut diadaptasi dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada Oktober 2017, hampir dua dasawarsa setelah Reformasi.


Yosep Anggi Noen menyutradarai film berdurasi sekitar 135 menit ini, sekaligus menulis skenario bersama Leila, menghadirkan tragedi politik melalui bahasa sinema yang menggugah.


Reza Rahadian memerankan Biru Laut, mahasiswa yang mencintai buku dan kebebasan berpikir. Yunita Siregar menjadi Asmara Jati, adiknya, sementara Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara memerankan kedua orang tua mereka.


Dian Sastrowardoyo memerankan Kasih Kinanti, aktivis yang mengajak Laut bergabung dengan kelompok diskusi Winatra. Eva Celia menjadi Ratih Anjani, perempuan yang dicintai Laut.


Namun kekuatan utama kisah ini tidak terletak semata pada kemampuan para aktornya menghidupkan tokoh. Yang lebih mendasar adalah pertentangan antara kekuasaan yang menindas dan cinta yang bertahan.


Ada penjara yang mengurung tubuh manusia. Ada pula penjara tanpa tembok, yang mengurung sebuah keluarga dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.


Penjara pertama mungkin berakhir ketika seseorang dibebaskan. Penjara kedua dapat terus berdiri dalam ingatan, bahkan setelah rezim yang membangunnya lama kehilangan kekuasaan.


Lautan menjadi metafora yang mengguncang. Ia dapat menyembunyikan jejak tubuh manusia, tetapi tidak mampu menenggelamkan pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan itu.


Ombak terus bergerak. Sejarah terus berjalan. Namun di pantai, sebuah pertanyaan tetap tinggal, menunggu jawaban yang tidak pernah datang: ke mana mereka yang hilang?


-000-


Biru Laut dan Generasi yang Menolak Diam


Kisah Biru Laut berakar pada pergolakan Indonesia menjelang Reformasi 1998, ketika keberanian membaca, berpikir, dan mengemukakan pendapat dapat membawa risiko yang mengerikan.


Dalam novel, perjalanan Laut membawa pembaca ke Yogyakarta pada 1991. Ia bergabung dengan kelompok diskusi Winatra, bersama Bram, Kinan, Sunu, Daniel, Alex, dan sahabat lainnya.


Mereka membaca buku, memperdebatkan demokrasi, membicarakan ketidakadilan, serta mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan tanah. Aktivisme tumbuh dari percakapan, persahabatan, dan keberanian mempertanyakan kekuasaan.


Dalam dunia mereka, membaca bukan sekadar kegiatan intelektual. Membaca menjadi cara mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap tidak boleh dipertanyakan oleh warga negara.


Diskusi bukan hanya pertukaran gagasan. Ia menjadi latihan keberanian, ketika menyampaikan pendapat yang berbeda dapat membuat seseorang dicurigai sebagai ancaman terhadap negara.


Pada 1993, sebagaimana dikisahkan dalam novel, kelompok itu merencanakan aksi menanam jagung di Blangguan, Jawa Timur, sebagai bentuk solidaritas kepada petani yang terdesak.


Aksi sederhana tersebut menyimpan pesan politik. Ketika masyarakat kecil menghadapi tekanan, mahasiswa tidak ingin menjadi penonton yang nyaman di balik pagar kampus.


Namun keberanian mereka berhadapan dengan negara yang kehilangan kesabaran terhadap kritik. Aktivis diburu, persahabatan diuji, dan kecurigaan mulai merusak kepercayaan antarmanusia.


Ada penangkapan, penyekapan, interogasi, dan penyiksaan. Kekerasan tidak hanya diarahkan kepada tubuh, tetapi juga kepada keyakinan bahwa manusia masih dapat mempercayai sesamanya.


Dalam novel, tragedi mencapai puncaknya ketika Laut dan sejumlah sahabatnya kembali ditangkap pada 1998. Sebagian dibebaskan, sementara sejumlah lainnya tidak pernah pulang.


Pembaca bahkan mengikuti akhir kehidupan Laut. Tetapi orang tua dan adiknya tidak memiliki pengetahuan yang sama, sehingga mereka harus hidup bersama harapan yang menyiksa.


Di sinilah Leila membangun ironi yang menyakitkan. Pembaca mengetahui mengapa kursi itu kosong, tetapi kedua orang tuanya masih menyiapkan tempat bagi anak mereka yang hilang.


Bagian kedua novel, melalui Asmara Jati, memperlihatkan kehidupan setelah kehilangan. Ia bersama keluarga, sahabat, dan Komisi Orang Hilang berusaha mencari jejak mereka yang lenyap.


Pencarian membawa kisah menuju perairan Kepulauan Seribu. Dugaan tentang tubuh yang ditenggelamkan dan kemungkinan temuan tulang membuka harapan, sekaligus menghadirkan ketakutan baru.


Namun dugaan bukan kepastian. Keluarga kembali berhadapan dengan pertanyaan yang sama, sementara harapan yang sempat tumbuh dapat berubah menjadi luka yang lebih dalam.


Novel kemudian membawa pembaca menuju Aksi Kamisan pada 2007. Keluarga berdiri di seberang Istana Merdeka, membawa foto dan payung hitam sebagai tanda perlawanan.


Film mengadaptasi perjuangan dan kehilangan tersebut melalui bahasa sinema. Novel memberikan ruang lebih panjang untuk mengikuti ingatan, percakapan, serta pergulatan batin para tokohnya.


Film memilih alur yang bergerak lurus, berbeda dari novel yang maju mundur dalam waktu. Film juga menambahkan adegan demonstrasi anak muda 1990-an yang memprotes hukuman delapan tahun penjara bagi seorang pembaca buku Pramoedya Ananta Toer.


Adegan itu tidak terdapat dalam novel, tetapi mempertegas zaman ketika membaca dapat dihukum sebagai kejahatan. Yosep juga memilih tidak menampilkan kekerasan secara grafis, sebagai penghormatan kepada korban dan keluarganya. Pilihan itu menjadikan penantian, bukan penyiksaan, sebagai pusat rasa sakit film ini.


Keduanya mempertemukan pembaca dan penonton dengan satu pertanyaan yang mengganggu nurani. Bagaimana seseorang dapat dihilangkan, tetapi penderitaan akibat kehilangannya justru terus tumbuh?


-000-


Ketika Negara Memiliki Kekuasaan, tetapi Kehilangan Batas Moral


Menonton film ini, sebagaimana membaca novelnya, saya terus memikirkan tiga persoalan besar: batas moral kekuasaan, penderitaan keluarga korban, dan tanggung jawab Reformasi.


Negara memerlukan kekuasaan. Tanpa kekuasaan yang sah, hukum sulit ditegakkan dan masyarakat sulit dilindungi. Namun kekuasaan hanya bermartabat apabila bersedia membatasi dirinya sendiri.


Ketika membaca buku dianggap ancaman, kritik diperlakukan sebagai kejahatan, dan aparat menggunakan kekerasan untuk membungkam perbedaan pendapat, negara sedang kehilangan dasar moralnya.


Negara mungkin masih mempunyai senjata, penjara, dan aparat. Tetapi kewibawaan yang dibangun melalui ketakutan berbeda secara mendasar dari penghormatan yang lahir melalui kepercayaan.


Sejarah penculikan aktivis pada 1997–1998 tidak hanya menjadi latar dramatis sebuah novel. Peristiwa tersebut merupakan kenyataan yang meninggalkan persoalan hukum dan kemanusiaan hingga sekarang.


Melalui penyelidikan pada 2005–2006, Komnas HAM mencatat 23 orang menjadi korban penghilangan paksa pada periode tersebut. Satu ditemukan meninggal, sembilan dilepaskan, sementara 13 lainnya masih hilang hingga kini.


Angka itu bukan keseluruhan korban kekerasan politik pada masa itu. Namun angka tersebut cukup untuk mengajukan pertanyaan mendasar tentang hubungan antara negara dan manusia.


Apa arti negara yang kuat apabila sebagian warganya justru harus takut kepada kekuatan negara sendiri, bahkan ketika mereka hanya menyuarakan pikiran dan keyakinannya?


Ukuran peradaban bukan hanya kemampuan pemerintah menjaga ketertiban. Ukuran peradaban juga terlihat ketika warga yang paling keras mengkritik tetap memperoleh perlindungan hak.


Kekuasaan menjadi beradab bukan ketika semua orang takut kepadanya, melainkan ketika ia tidak perlu menakut-nakuti siapa pun untuk memperoleh penghormatan dari masyarakat.


-000-


Penghilangan Paksa Menghukum Seseorang dan Seluruh Keluarganya


Kematian yang diketahui membawa kesedihan mendalam. Namun keluarga masih memiliki kesempatan menguburkan jenazah, mendoakan orang tercinta, dan perlahan menerima kenyataan bahwa perpisahan telah terjadi.


Penghilangan paksa menciptakan penderitaan berbeda. Keluarga tidak mengetahui apakah seseorang masih hidup, sedang disiksa, telah dibunuh, atau disembunyikan di tempat yang tak diketahui.


Psikolog Pauline Boss menyebut pengalaman semacam ini ambiguous loss, kehilangan tanpa kepastian, ketika seseorang secara fisik tidak hadir tetapi secara psikologis terus menempati kehidupan keluarga.


Dalam keadaan demikian, keluarga mungkin tidak sanggup sepenuhnya berduka karena masih berharap. Namun mereka juga sulit melanjutkan kehidupan karena kehilangan belum memperoleh kejelasan.


Saya kembali membayangkan meja makan dalam kisah Laut. Betapa anehnya benda sederhana bernama piring, yang dapat berubah makna ketika seseorang yang dicintai menghilang.


Di hadapan keluarga yang utuh, piring adalah tempat makanan. Tetapi bagi orang tua yang kehilangan anaknya, piring dapat menjadi tempat menyimpan penantian.


Sebuah kamar kosong pun berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada ruang tidak berpenghuni. Ia menjadi alamat ingatan bagi seseorang yang tidak diketahui keberadaannya.


Betapa beratnya hidup ketika seseorang tidak dapat memastikan apakah ia sedang mengenang orang yang telah meninggal, atau menunggu orang yang mungkin masih hidup.


Setiap suara kendaraan yang berhenti di depan rumah mungkin menghadirkan sekejap harapan bahwa seseorang akhirnya pulang, sebelum kesunyian kembali mengambil alih.


Penderitaan seperti ini tidak selalu terlihat dalam laporan resmi. Ia hidup dalam kebiasaan sehari-hari, dalam percakapan keluarga, dan dalam keputusan kecil yang menyakitkan.


Karena itu, penghilangan paksa bukan hanya tindakan terhadap seseorang. Ia dapat menjadi hukuman berkepanjangan bagi keluarga yang tidak pernah diberi kesempatan mengetahui kebenaran.


-000-


Reformasi Politik Belum Tentu Menyembuhkan Luka Sejarah


Pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri setelah lebih dari tiga dasawarsa berkuasa. Indonesia kemudian memasuki era baru yang membuka berbagai kesempatan perubahan politik.


Kebebasan pers berkembang. Kompetisi politik semakin terbuka. Berbagai lembaga demokrasi diperkuat, meskipun perjalanan membangun negara hukum yang adil tetap menghadapi tantangan.


Semua itu merupakan pencapaian penting. Namun pergantian pemerintahan tidak otomatis menyelesaikan penderitaan yang diwariskan oleh kekerasan politik pada masa pemerintahan sebelumnya.


Pada 28 September 2009, Rapat Paripurna DPR menyetujui empat rekomendasi Panitia Khusus: pembentukan Pengadilan HAM ad hoc, pencarian 13 aktivis yang masih hilang, rehabilitasi dan kompensasi bagi keluarga korban, serta ratifikasi konvensi antipenghilangan paksa.


Rekomendasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini telah menjadi agenda resmi negara. Tetapi pengakuan atas persoalan tidak otomatis menghadirkan penyelesaian bagi keluarga korban.


Saya melihat perbedaan mendasar antara kemenangan politik dan pemulihan kemanusiaan. Kemenangan dapat terjadi pada suatu tanggal, tetapi pemulihan tidak mengikuti kalender kekuasaan.


Sebuah bangsa dapat mengumumkan berakhirnya suatu zaman, sementara sebagian warganya masih hidup dalam penderitaan yang ditinggalkan oleh zaman tersebut selama bertahun-tahun.


Reformasi karena itu tidak cukup dipahami sebagai peristiwa jatuhnya seorang presiden. Ia harus menjadi proses panjang membangun hukum dan melindungi martabat manusia.


Sebab demokrasi bukan hanya persoalan siapa yang berhak memerintah. Demokrasi juga menyangkut batas moral mengenai apa yang tidak boleh dilakukan oleh mereka yang memerintah.


-000-


Antara Fiksi dan Sejarah: Ketika Mereka yang Hilang Menuntut Ingatan


Kisah Laut Bercerita memiliki resonansi personal bagi saya, karena luka sejarah yang sama pernah saya tulis dalam bentuk puisi esai.


Dua di antaranya adalah Sapu Tangan Fang Yin dan Kutunggu di Setiap Kamis. Keduanya menghadirkan tokoh rekaan untuk menyuarakan penderitaan nyata dalam pergolakan 1998.


Karena itu, ketika membaca novel Leila dan merenungkan filmnya, saya kembali memikirkan hubungan antara sastra dan kenyataan, antara peristiwa historis dan imajinasi pengarang.


Seberapa jauh kisah Biru Laut merupakan sejarah? Pertanyaan ini penting agar kita mampu menghargai kekuatan sastra tanpa memperlakukannya sebagai dokumen faktual yang sepenuhnya literal.


Biru Laut, Asmara Jati, keluarga mereka, kisah cinta, persahabatan, pengkhianatan, serta percakapan yang dihidupkan Leila merupakan konstruksi sastra, bukan biografi langsung korban tertentu.


Namun penderitaan historis yang menjadi dasar cerita benar-benar terjadi. Aktivis prodemokrasi sungguh diculik, sebagian disiksa, dan sejumlah keluarga masih menuntut kepastian nasib mereka.


Aksi Kamisan juga bukan ciptaan pengarang. Sejak 2007, keluarga korban dan pegiat HAM berdiri setiap Kamis di seberang Istana Merdeka, membawa payung hitam, menuntut kebenaran dan pertanggungjawaban negara.


Itulah kekuatan sastra yang saya lihat. Leila menciptakan manusia yang tidak pernah hidup, untuk membuat kita merasakan kehilangan manusia yang benar-benar pernah ada.


Biru Laut adalah fiksi. Penculikan itu nyata. Asmara adalah rekaan. Penantian keluarga korban adalah sejarah yang masih menyimpan pertanyaan belum terjawab.


Sastra tidak menggantikan dokumen hukum atau penyelidikan sejarah. Tetapi sastra dapat memberikan sesuatu yang sering tidak sanggup dilakukan statistik, yakni mengembalikan wajah kepada angka.


Angka 13 dapat dibaca dalam satu tarikan napas. Namun di baliknya terdapat keluarga, nama, kenangan, dan kehidupan yang seharusnya masih mempunyai kelanjutan.


Bagi saya, tragedi terdalam bukan hanya ketika manusia direnggut dari kehidupan. Tragedi juga terjadi ketika masyarakat perlahan berhenti bertanya mengapa manusia itu menghilang.


-000-


Dua Buku untuk Memahami Sejarah dan Trauma


Ada dua buku yang membantu memperdalam persoalan dalam Laut Bercerita. Yang pertama menjelaskan perubahan politik, sedangkan yang kedua menerangkan mengapa luka manusia bertahan.


Buku Pertama: Opposing Suharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia


Edward Aspinall. Stanford University Press, 2005.


Edward Aspinall menunjukkan bahwa kejatuhan Soeharto bukan hasil satu demonstrasi atau satu kelompok. Perubahan terjadi melalui akumulasi konflik, tekanan masyarakat sipil, dan perpecahan elite.


Gerakan mahasiswa, organisasi bantuan hukum, kelompok oposisi, serta perubahan kesempatan politik saling berinteraksi dalam proses panjang yang akhirnya mengguncang pemerintahan Orde Baru.


Buku ini membantu menempatkan aktivisme Biru Laut dalam konteks sejarah lebih luas. Perlawanan terhadap otoritarianisme bukan hanya kisah keberanian individu, tetapi juga perjuangan kolektif.


Pelajaran pentingnya, sebuah rezim mungkin tampak sangat kuat. Namun kekuasaan yang kehilangan legitimasi dapat menjadi rapuh ketika masyarakat mulai menemukan keberanian melawan ketakutan.


-000-


Buku Kedua: Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence, From Domestic Abuse to Political Terror


Judith Lewis Herman. Basic Books, 1992.


Judith Herman menjelaskan bahwa trauma bukan sekadar pengalaman buruk yang tertinggal dalam ingatan. Kekerasan dapat merusak rasa aman, kepercayaan, dan kemampuan manusia mengendalikan kehidupan.


Pemulihan memerlukan keamanan, kesempatan mengingat dan berduka, serta pembangunan kembali hubungan sosial. Proses tersebut tidak selalu cepat, sederhana, atau berjalan dalam urutan yang lurus.


Buku ini membantu memahami penderitaan penyintas penyiksaan dan keluarga korban. Kekerasan mungkin telah berhenti, tetapi dampaknya dapat bertahan jauh setelah peristiwa itu berakhir.


Pelajaran penting Herman ialah bahwa pemulihan tidak identik dengan melupakan penderitaan. Pemulihan berarti menemukan kembali kemampuan menjalani kehidupan dengan rasa aman dan martabat.


-000-


Apakah Mengingat Luka Lama Menghambat Rekonsiliasi?


Ada satu pandangan yang patut dipertimbangkan secara serius. Bukankah sebuah bangsa juga perlu bergerak maju, tanpa selamanya membawa luka dan kemarahan dari masa lalu?


Apakah terus mengingat kekerasan sejarah tidak berisiko memperpanjang permusuhan, mewariskan kebencian kepada generasi baru, dan menghambat rekonsiliasi yang diperlukan untuk membangun masa depan?


Saya memahami kekhawatiran tersebut. Sebuah bangsa memang tidak mungkin hidup selamanya dalam dendam. Kita membutuhkan pendidikan, kesejahteraan, kesempatan ekonomi, dan persatuan yang berkelanjutan.


Namun menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara mengingat dan membalas. Mengingat tidak harus berarti memelihara kebencian, sebagaimana mencari kebenaran tidak berarti menghidupkan permusuhan.


Rekonsiliasi bermartabat membutuhkan kesediaan mendengarkan korban, mengungkap fakta, membedakan tanggung jawab individual dari kesalahan kolektif, serta menegakkan hukum secara adil bagi semua pihak.


Kita tidak boleh menyatakan seseorang bersalah berdasarkan prasangka. Namun kebutuhan menjaga persatuan juga tidak boleh digunakan sebagai alasan menutup pencarian kebenaran sejarah.


Kebenaran yang dicari secara adil dapat membuka jalan menuju rekonsiliasi. Sebaliknya, perdamaian yang dibangun dengan memaksa korban diam mungkin hanya menghasilkan kesunyian sementara.


Di bawah kesunyian itu, luka masih bekerja. Ia dapat muncul sebagai ketidakpercayaan, rasa takut, atau perasaan bahwa penderitaan seseorang tidak pernah sungguh diakui.


Laut Bercerita bukan pengganti pengadilan, penyelidikan independen, atau penelitian sejarah. Namun novel dan film dapat membangunkan kepekaan moral masyarakat terhadap pengalaman para korban.


Hukum memerlukan bukti. Kemanusiaan memerlukan kemampuan mendengarkan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, sebab bangsa yang beradab harus sanggup mencari keadilan tanpa kehilangan empati.


-000-


Setelah Laut Bercerita, Apa yang Tertinggal?


Ada satu hal yang terus saya renungkan setelah menonton Laut Bercerita. Mengapa kisah kehilangan hampir tiga dasawarsa lalu masih mampu mengguncang perasaan kita sekarang?


Barangkali karena tragedi ini, pada tingkat paling mendasar, tidak hanya menyangkut rezim, mahasiswa, atau gerakan politik, tetapi juga cinta manusia yang terluka.


Seorang anak ingin pulang. Sepasang orang tua ingin mengetahui nasib anaknya. Seorang adik ingin memahami mengapa kakaknya tidak kembali, sekalipun tahun terus berganti.


Keinginan itu begitu sederhana. Tidak diperlukan teori politik yang rumit untuk memahaminya. Justru karena begitu sederhana, kegagalan memenuhinya terasa begitu menyakitkan.


Saya membayangkan seorang ibu yang semakin menua. Rambutnya memutih. Tangannya tidak lagi sekuat dahulu, sementara kenangan tentang anaknya tetap hidup dengan ketajaman yang sama.


Ia mungkin telah menyaksikan pergantian presiden, perubahan partai politik, perkembangan teknologi, dan munculnya gedung-gedung baru yang mengubah wajah kota tempat tinggalnya.


Tetapi di dalam dirinya, sebuah pertanyaan masih bertahan. Pertanyaan yang mungkin tidak lagi selalu diucapkan, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan kehidupannya.


Di mana anak saya?


Pertanyaan itu mungkin hidup dalam cara seorang ibu memandang pintu, menyimpan pakaian, membuka lemari, atau mendengar suara yang mengingatkannya kepada anaknya.


Di sinilah saya merasa Laut Bercerita melampaui perdebatan politik mengenai Reformasi. Kisah ini memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya bergerak melalui keputusan besar penguasa.


Sejarah juga hidup dalam hati manusia yang menanggung akibatnya, melalui kehilangan yang tidak tercatat sepenuhnya dalam pidato, undang-undang, atau buku pelajaran sekolah.


Demokrasi membutuhkan pemilihan umum, kebebasan berpendapat, pengadilan independen, dan lembaga yang bekerja. Namun demokrasi juga membutuhkan hati nurani yang mampu memahami penderitaan warga.


Tanpa hati nurani, demokrasi dapat menjadi sekadar prosedur yang rapi, sementara sebagian manusia yang terluka tersisih dari perhatian masyarakat dan tanggung jawab negara.


Tanpa keberanian menghadapi masa lalu, sebuah bangsa mungkin menjadi semakin modern, tetapi belum tentu semakin bijaksana dalam memperlakukan manusia yang berbeda pandangan.


Saya tidak ingin generasi muda hari ini mewarisi dendam dari generasi sebelumnya. Saya berharap mereka mewarisi sesuatu yang lebih berharga daripada kebencian sejarah.


Mereka perlu mewarisi keberanian menjaga kebebasan, menghormati martabat manusia, dan menolak kekuasaan yang menganggap kritik sebagai ancaman yang boleh dihadapi dengan kekerasan.


Itulah warisan Reformasi yang seharusnya terus kita rawat. Bukan kebencian terhadap masa lalu, melainkan tanggung jawab agar kekelamannya tidak menjadi masa depan siapa pun.


-000-


Sebuah Kursi yang Tetap Kosong


Pada akhirnya, pikiran saya kembali kepada gambaran yang membuka kisah ini. Sebuah meja makan, empat piring, tiga orang duduk, dan satu kursi tetap kosong.


Mungkin kedua orang tua itu memahami bahwa harapan mereka semakin tipis. Mungkin mereka menyadari bahwa waktu tidak akan mengembalikan semua yang telah direnggut secara kejam dari kehidupan mereka.


Tetapi mereka tetap menyediakan tempat, bukan karena tidak memahami kenyataan, melainkan karena cinta terkadang terus bekerja ketika semua penjelasan telah kehabisan kata.


Di luar rumah, Indonesia terus bergerak maju. Namun selama keluarga korban belum memperoleh kepastian, kemajuan itu masih menyimpan pertanyaan moral yang belum sepenuhnya terjawab.


Apa arti kemenangan sejarah jika sebagian manusia yang membayar harganya dibiarkan menanggung kehilangan sendirian, sementara masyarakat perlahan melupakan nama dan penderitaan mereka?


Lautan dalam kisah ini mungkin tidak pernah mengembalikan tubuh Biru Laut. Namun sastra membuat suaranya tetap terdengar, melintasi generasi yang tidak mengalami zaman tersebut.


Selama suara itu masih didengarkan, mereka yang hilang tidak sepenuhnya lenyap dari kesadaran kita. Ingatan menjadi bentuk kesetiaan terakhir kepada kemanusiaan.


Sebab manusia dapat dibunuh sekali oleh kekuasaan. Tetapi ia dibunuh untuk kedua kalinya ketika bangsanya memilih melupakan bahwa ia pernah hidup.***


Jakarta, 29 Oktober 2026


REFERENSI


Edward Aspinall. Opposing Suharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia. Stanford University Press, 2005.


Judith Lewis Herman. Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence, From Domestic Abuse to Political Terror. Basic Books, 1992.


Pauline Boss. Ambiguous Loss: Learning to Live with Unresolved Grief. Harvard University Press, 1999.


Leila S. Chudori. Laut Bercerita. Kepustakaan Populer Gramedia, 2017.


Komnas HAM. Laporan Penyelidikan Penghilangan Orang secara Paksa Periode 1997/1998. https://perpustakaan.komnasham.go.id/opackomnas/index.php?p=show_detail&id=7105


Kompas.com. "Daftar Aktivis yang Diculik dan Hilang Tahun 1997/1998." 28 Oktober 2021. https://www.kompas.com/stori/read/2021/10/28/080000779/daftar-aktivis-yang-diculik-dan-hilang-tahun-1997-1998


Tempo. "Faisol Riza Minta DPR Ambil Sikap soal Kasus Penghilangan Orang" (memuat empat rekomendasi Pansus yang disetujui Rapat Paripurna DPR, 28 September 2009). https://www.tempo.co/politik/faisol-riza-minta-dpr-ambil-sikap-soal-kasus-penghilangan-orang--776816


RRI. "Film Laut Bercerita Rawat Ingatan Sejarah dan Harapan Anak Muda." 24 Oktober 2026. https://rri.co.id/yogyakarta/hiburan/2837866/film-laut-bercerita-rawat-ingatan-sejarah-dan-harapan-anak-muda


Media Indonesia. "Film Laut Bercerita Tayang 29 Oktober, Yosep Anggi Noen Soroti Resiliensi dan Semangat Anak Muda." 26 Oktober 2026. https://mediaindonesia.com/hiburan/948974/film-laut-bercerita-tayang-29-oktober-yosep-anggi-noen-soroti-resiliensi-dan-semangat-anak-muda


Karya puisi esai terkait: Sapu Tangan Fang Yin dan Kutunggu di Setiap Kamis, karya Denny JA.


-000-


Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA`s World


https://www.facebook.com/share/1NR47PuJkc/?mibextid=wwXIfr

Tags:
© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas