indonews

indonews.id

RADEN WIJAYA DAN SUN TZU: KETIKA KEKUATAN BESAR BELUM TENTU MENENTUKAN KEMENANGAN

RADEN WIJAYA DAN SUN TZU: KETIKA KEKUATAN BESAR BELUM TENTU MENENTUKAN KEMENANGAN

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

STRATEGI PERANG NUSANTARA — SERI 4


Membaca perubahan keadaan, memanfaatkan momentum, dan menjaga kebebasan mengambil keputusan


Jakarta, 30 Oktober 2026


Brigjen (Purn) MJP.Hutagaol


KETIKA SEBUAH KERAJAAN JATUH


Pada 1292, Singhasari runtuh setelah diserang Jayakatwang dari Kediri. Kertanegara, penguasa Singhasari, tewas. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, kehilangan kedudukan dan harus menyelamatkan diri.


Dalam keadaan seperti itu, seseorang bukan hanya kehilangan wilayah atau pasukan. Ia juga kehilangan perlindungan, sumber daya, dan kepastian mengenai siapa yang masih dapat dipercaya.


Prasasti Kudadu yang bertahun 1294 mencatat pertolongan pemimpin Desa Kudadu kepada Raden Wijaya dan para pengikutnya ketika mereka melarikan diri menuju Madura. Sebagai penghargaan atas jasa tersebut, Raja Kertarajasa Jayawardhana—gelar Raden Wijaya setelah menjadi raja—memberikan anugerah kepada Desa Kudadu.


Catatan ini penting karena memperlihatkan bahwa perjalanan menuju kekuasaan Majapahit tidak dimulai dari posisi yang aman dan kuat. Ada masa ketika Raden Wijaya harus bertahan, mencari pertolongan, dan membangun kembali kedudukannya.


Dari sini kita dapat melihat satu kenyataan: kekalahan dalam satu keadaan belum tentu menjadi akhir, tetapi kelangsungan hidup saja belum cukup untuk menghasilkan kemenangan.


Pertanyaannya adalah bagaimana seseorang membaca perubahan keadaan dan menentukan langkah berikutnya.


MUSUH LAMA, KEKUATAN BARU


Pada 1293, pasukan Mongol yang dikirim oleh Kubilai Khan tiba di Jawa. Pasukan ini merupakan bagian dari kekuatan Dinasti Yuan yang berkuasa di Tiongkok pada masa itu. Ekspedisi tersebut berkaitan dengan konflik sebelumnya antara Kubilai Khan dan Kertanegara, termasuk persoalan penolakan tuntutan Kubilai Khan dan perlakuan terhadap utusannya.


Namun, ketika pasukan Mongol tiba, keadaan politik Jawa sudah berubah. Kertanegara telah meninggal dan Jayakatwang telah mengambil alih kekuasaan Singhasari.


Artinya, pasukan yang datang untuk menghadapi persoalan sebelumnya kini memasuki keadaan yang berbeda.


Raden Wijaya memanfaatkan perubahan tersebut. Ia bekerja sama dengan pasukan Mongol untuk menghadapi Jayakatwang. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya kemudian berbalik menyerang pasukan Mongol. Pasukan itu akhirnya meninggalkan Jawa, sementara Raden Wijaya membangun kekuasaannya sebagai raja pertama Majapahit.


Kisah ini sering dibaca sebagai keberhasilan siasat. Namun, kita perlu berhati-hati. Tidak seluruh pertimbangan Raden Wijaya dapat diketahui secara pasti, dan sumber sejarah tidak memberikan rekaman lengkap tentang setiap keputusan yang diambilnya.


Prasasti Kudadu sendiri tidak secara langsung mencatat pertempuran Raden Wijaya melawan pasukan Mongol. Prasasti itu terutama menjadi bukti penting mengenai pelarian Raden Wijaya dan pertolongan yang diterimanya. Rangkaian peristiwa ekspedisi Mongol, kerja sama dengan Raden Wijaya, kekalahan Jayakatwang, dan pengusiran pasukan Mongol disusun melalui pembacaan berbagai sumber sejarah.


Yang dapat kita pelajari bukan bahwa semua langkah Raden Wijaya pasti telah direncanakan sejak awal, melainkan bahwa perubahan keadaan membuka peluang baru, dan peluang itu harus dibaca serta dimanfaatkan dengan perhitungan.


Di sinilah sejarah Nusantara dapat diperbandingkan dengan pemikiran Sun Tzu dalam The Art of War. Sun Tzu menekankan pentingnya memahami keadaan, mengenali kekuatan dan kelemahan, serta menentukan waktu dan cara bertindak.


Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Raden Wijaya membaca atau dipengaruhi langsung oleh Sun Tzu. Keduanya kita perbandingkan sebagai dua bahan untuk memahami persoalan strategi.


MEMBACA KEADAAN, BUKAN SEKADAR MELIHAT MUSUH


Bayangkan seorang pemimpin hanya melihat jumlah pasukan lawan. Ia mungkin langsung menyimpulkan bahwa pihak dengan pasukan terbesar pasti menang.


Padahal, jumlah pasukan tidak menjelaskan semuanya. Siapa yang sedang berkonflik? Apa tujuan masing-masing pihak? Bagaimana keadaan wilayah? Dari mana pasokan datang? Apakah kepentingan pihak-pihak yang bertempur masih sama seperti sebelumnya?


Perubahan pada satu unsur dapat mengubah seluruh perhitungan.


Pada peristiwa 1293, kematian Kertanegara mengubah keadaan yang dihadapi pasukan Mongol. Jayakatwang menjadi penguasa yang harus dihadapi Raden Wijaya. Kedatangan pasukan dari luar Jawa kemudian menghadirkan kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk mengalahkan Jayakatwang, tetapi sekaligus menimbulkan persoalan baru setelah tujuan bersama tercapai.


Itulah pelajaran praktis dari membaca lingkungan: jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan keadaan kemarin. Periksa apa yang berubah hari ini, siapa yang memperoleh keuntungan, dan risiko apa yang muncul setelah langkah pertama berhasil.


Dalam kerangka ESTOM yang kita gunakan sekarang, proses ini dapat dipahami secara sederhana.


Kita lebih dahulu membaca lingkungan dan para pelaku yang terlibat. Kita kemudian mencari tanda perubahan yang benar-benar relevan. Dari tanda tersebut, kita menilai pilihan dan risikonya. Setelah itu barulah tindakan dipilih dan dilaksanakan. Ketika keadaan kembali berubah, langkah pun harus disesuaikan.


Lima tahap ini—Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver—bukan lima istilah yang harus dihafal pembaca. Intinya adalah satu alur berpikir: baca keadaan, tangkap perubahan, nilai pilihan, bertindak, lalu sesuaikan langkah.


Dalam kisah Raden Wijaya, kita dapat menelusuri perubahan keadaan dan tindakan yang tercatat. Namun, kita tidak boleh mengarang sinyal apa yang ia ketahui, percakapan apa yang berlangsung, atau seluruh pertimbangan batinnya jika sumber sejarah tidak membuktikannya. Kerangka ESTOM adalah alat analisis masa kini untuk membaca peristiwa masa lalu, bukan istilah yang digunakan Raden Wijaya pada zamannya.


APA YANG SEBENARNYA MENJADI SUMBER KEKUATAN?


Peristiwa tersebut juga mengingatkan kita bahwa kekuatan tidak berdiri hanya pada senjata dan jumlah prajurit. Pasukan membutuhkan tenaga, makanan, jalur pergerakan, informasi, koordinasi, serta pemahaman tentang tujuan operasi.


Dalam konteks abad ke-21, ketergantungan itu menjadi lebih luas. Karena itulah konsep Perang Fondasi menempatkan tiga hal sebagai fondasi utama: ENERGI, DATA, dan PERSEPSI.


Energi menjaga agar kehidupan dan sistem dapat terus berjalan. Data membantu pengambil keputusan memahami apa yang terjadi. Persepsi memengaruhi bagaimana masyarakat, pemimpin, dan pihak lawan menafsirkan keadaan.


Ketiganya saling berhubungan. Gangguan energi dapat menghentikan layanan penting. Data yang keliru dapat menghasilkan keputusan yang salah. Informasi yang dimanipulasi dapat membentuk persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan.


Teknologi, kecerdasan buatan, satelit, drone, dan sistem siber dapat memperbesar kemampuan dalam ketiga bidang tersebut. Namun, alat secanggih apa pun tidak otomatis menghasilkan keputusan yang tepat. Teknologi tetap membutuhkan data yang dapat dipercaya, manusia yang mampu menilai, serta tujuan yang jelas.


Perbandingan dengan masa Raden Wijaya bukan berarti kerajaan abad ke-13 telah menjalankan konsep Perang Fondasi modern. Perbandingan ini menunjukkan bahwa dalam zaman yang berbeda, keberhasilan tetap dipengaruhi oleh kemampuan memahami sumber daya, informasi, dan cara pihak-pihak yang terlibat memandang keadaan.


PERTAHANAN YANG TIDAK SELALU BERBENTUK SENJATA


Ada hal lain yang perlu diperhatikan: sebuah kekuatan dapat melemah bukan hanya karena kalah dalam pertempuran, tetapi juga ketika informasi tidak dapat dipercaya, koordinasi rusak, dukungan menghilang, atau keputusan terlambat diambil.


Inilah salah satu persoalan yang dibahas melalui konsep Pertahanan Nir-Materi.


Bayangkan pada masa sekarang sebuah wilayah mengalami gangguan listrik dan komunikasi. Pada saat yang sama, beredar kabar palsu tentang keadaan keamanan. Petugas menerima informasi yang saling bertentangan, masyarakat kehilangan kepercayaan, dan pelayanan publik berhenti.


Masalahnya bukan hanya pada infrastruktur yang terganggu. Masalah juga terletak pada kemampuan sistem untuk mengetahui keadaan sebenarnya, menyampaikan informasi yang benar, mempertahankan kepercayaan, dan tetap mengambil keputusan.


Pertahanan Nir-Materi berarti menjaga kemampuan tersebut agar tidak mudah runtuh. Ia bukan pengganti pertahanan fisik. Ia melengkapinya dengan menjaga pengetahuan, integritas informasi, koordinasi, kepercayaan, dan keberlanjutan fungsi penting.


Jika dikaitkan dengan pelajaran dari Raden Wijaya, kita tidak perlu menyimpulkan bahwa semua unsur itu terbukti hadir dalam bentuk yang sama pada masa Majapahit. Yang dapat kita ambil adalah pertanyaan strategisnya: ketika keadaan berubah dan hubungan antarkekuatan bergeser, apakah kita masih mampu memahami situasi dan mempertahankan kebebasan untuk mengambil keputusan?


Pertanyaan itu tetap relevan bagi pertahanan Indonesia saat ini.


KEMAMPUAN MEMBACA KEADAAN HARUS DISERTAI INTEGRITAS


Strategi yang cermat dapat membantu seseorang memperoleh kekuasaan. Namun, keberhasilan merebut atau mempertahankan kekuasaan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua tindakannya benar.


Di sinilah gagasan ISQ—Inner Spirit Quotient–Integrity Strategic, sebagaimana dikembangkan dalam kerangka pemikiran kita, memperoleh tempatnya.


ISQ bukan ukuran psikologis baku yang telah diterima secara universal. Dalam tulisan ini, ISQ digunakan sebagai kerangka refleksi untuk menilai apakah kejernihan berpikir berjalan bersama integritas dan tanggung jawab.


Secara praktis, seorang pemimpin perlu memeriksa tiga hal: apakah ia memahami keadaan dengan jernih, apakah ia tetap menjaga integritas ketika menghadapi tekanan, dan apakah kekuasaan yang diperolehnya digunakan untuk kepentingan yang dapat dipertanggungjawabkan.


Tanpa kejernihan, keputusan mudah dipengaruhi kabar yang salah. Tanpa integritas, kecakapan strategi dapat berubah menjadi alat untuk kepentingan pribadi. Tanpa tanggung jawab, kemenangan sesaat dapat meninggalkan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat.


Kita tidak perlu mengklaim mengetahui seluruh niat batin Raden Wijaya untuk menarik pelajaran ini. Sejarah memberitahukan rangkaian peristiwa dan hasilnya; penilaian etis terhadap kepemimpinan tetap harus dilakukan secara hati-hati, dengan membedakan fakta sejarah dari interpretasi masa kini.


PELAJARAN BAGI INDONESIA


Apa makna kisah ini bagi Indonesia sekarang?


Pertama, jangan menyamakan kekuatan dengan jumlah alat atau besarnya anggaran. Kekuatan harus dinilai dari kemampuan membaca keadaan, menjaga sumber daya, mengolah informasi, dan mengambil keputusan yang tepat.


Kedua, jangan membiarkan keputusan strategis bergantung pada satu sumber informasi. Data perlu diperiksa, kabar perlu diverifikasi, dan perubahan keadaan harus dibaca sebelum keputusan besar diambil.


Ketiga, kerja sama harus disertai pemahaman tentang kepentingan masing-masing pihak. Kepentingan dapat bertemu pada satu persoalan, tetapi tidak selalu sama untuk jangka panjang. Karena itu, pemimpin perlu menghitung manfaat, ketergantungan, dan risiko setelah tujuan bersama tercapai.


Keempat, pertahanan harus menjaga kemampuan bangsa untuk tetap berfungsi ketika menghadapi gangguan. Energi, data, dan persepsi publik bukan sekadar urusan teknis. Ketiganya memengaruhi kemampuan negara untuk melindungi rakyat dan menentukan arah kebijakannya sendiri.


Kelima, kecakapan strategi harus dibatasi oleh integritas. Kemampuan membaca kelemahan pihak lain tidak boleh membuat pemimpin kehilangan pertimbangan tentang tujuan, akibat, dan tanggung jawabnya.


Semua itu dapat disatukan dalam satu alur: ESTOM membantu membaca perubahan dan menentukan tindakan; Perang Fondasi mengingatkan apa yang menopang kehidupan serta kemampuan bangsa; Pertahanan Nir-Materi menjaga agar informasi, kepercayaan, dan fungsi penting tidak mudah runtuh; sedangkan ISQ menguji kejernihan, integritas, dan tanggung jawab dalam menggunakan kekuatan.


PENUTUP: KEMENANGAN DIMULAI DARI CARA MEMBACA KEADAAN


Raden Wijaya menghadapi perubahan besar setelah runtuhnya Singhasari. Ia bertahan, membangun hubungan, memanfaatkan perubahan politik, dan akhirnya mendirikan Majapahit. Rangkaian peristiwa itu menunjukkan bahwa jalan menuju kemenangan tidak selalu lurus dan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuatan terbesar pada awalnya.


Namun, pelajaran sejarah bukanlah bahwa setiap siasat pasti berhasil atau bahwa setiap kemenangan dapat dibenarkan. Pelajaran yang lebih penting adalah kemampuan memahami perubahan, memperhitungkan pilihan, dan menyadari bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi.


Di sinilah strategi Nusantara dapat berdialog dengan pemikiran Sun Tzu dan kerangka analisis modern. Bukan untuk menyamakan zaman, melainkan untuk memperkaya cara kita membaca pengalaman sendiri.


Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu menghadapi lawan. Bangsa yang kuat juga mampu membaca perubahan sebelum terlambat, menjaga fondasi kehidupannya, mempertahankan kemampuan mengambil keputusan, dan menggunakan kekuatannya dengan tanggung jawab.


Itulah salah satu pelajaran yang dapat kita bawa dari sejarah Majapahit menuju tantangan Indonesia pada abad ke-21.


SUMBER BACAAN


1. Prasasti Kudadu (1294), Materials for the Medieval History of Indonesia, University of Hamburg: https://www.spaetmittelalter.uni-hamburg.de/java-history/JavaInscriptions/Java1294.00.00.html

2. Hung, Hsiao-chun, Hartatik, Tisna Arif Ma’rifat, dan Truman Simanjuntak. “Mongol Fleet on the Way to Java: First Archaeological Remains from the Karimata Strait in Indonesia.” Archaeological Research in Asia, Vol. 29, 2022. https://doi.org/10.1016/j.ara.2021.100327

3. Bade, David W. Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century. ISEAS Publishing, 2013.

4. Sun Tzu. The Art of War. MIT Classics: https://classics.mit.edu/Tzu/artwar.html


Catatan pembacaan sejarah: Fakta mengenai peristiwa Raden Wijaya perlu dibedakan dari interpretasi strategis masa kini. Prasasti Kudadu menjadi bukti penting tentang pelarian dan pertolongan yang diterima Raden Wijaya, sedangkan kisah ekspedisi Mongol dan pertempuran tahun 1293 perlu dibaca melalui sumber-sumber sejarah lainnya. ESTOM, Perang Fondasi, Pertahanan Nir-Materi, dan ISQ digunakan dalam tulisan ini sebagai kerangka analisis modern, bukan sebagai istilah yang terbukti digunakan oleh para pelaku sejarah abad ke-13.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas