indonews

indonews.id

GERILYA KOGNITIF, KETIKA RASA TAKUT, MARAH, DAN IDENTITAS KELOMPOK MEMENGARUHI KEPUTUSAN

GERILYA KOGNITIF, KETIKA RASA TAKUT, MARAH, DAN IDENTITAS KELOMPOK MEMENGARUHI KEPUTUSAN

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

SERI 4: PSIKOLOGI MASSA — MENGAPA EMOSI BISA MENGALAHKAN FAKTA?


Penulis: Brigjen (Purn) MJP.Hutagaol


Jakarta, 3 November 2026


---


1. MANUSIA TIDAK SELALU MENGAMBIL KEPUTUSAN DENGAN CARA YANG SAMA


Dalam Seri 1 kita membahas medan tempur baru. Seri 2 menjelaskan cara kerja operasi pengaruh. Seri 3 menguraikan bagaimana narasi membentuk persepsi.


Sekarang kita masuk ke unsur yang sangat menentukan: MANUSIA DAN PSIKOLOGINYA.


Mengapa seseorang dapat langsung percaya terhadap suatu informasi? Mengapa berita yang membangkitkan kemarahan cepat menyebar? Mengapa seseorang terkadang lebih mempercayai pendapat kelompoknya daripada data yang tersedia?


Jawabannya berkaitan dengan cara manusia menerima informasi, merasakan sesuatu, mengingat pengalaman, dan mengambil keputusan.


Manusia bukan mesin yang hanya memproses angka dan fakta. Dalam setiap keputusan terdapat pertimbangan rasional, emosi, pengalaman, kepentingan, dan pengaruh lingkungan sosial.


Karena itu, dalam Gerilya Kognitif, yang menjadi perhatian bukan hanya informasi yang diterima, tetapi juga bagaimana informasi tersebut memengaruhi pikiran dan perasaan manusia.


2. EMOSI DAPAT MENDAHULUI PEMERIKSAAN FAKTA


Bayangkan seseorang menerima pesan melalui telepon genggamnya:


"Telah terjadi peristiwa besar yang mengancam keselamatan masyarakat. Sebarkan segera sebelum terlambat!"


Pesan itu disertai foto yang terlihat meyakinkan.


Apa yang mungkin terjadi?


Sebagian orang akan langsung merasa takut, sebagian marah, dan sebagian lainnya terdorong untuk meneruskan pesan kepada keluarga atau teman.


Dalam keadaan seperti itu, perhatian seseorang dapat lebih dahulu tertuju pada ancaman yang dirasakan daripada memeriksa sumber informasi.


Di sinilah emosi dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.


Namun, penting dipahami: emosi tidak selalu membuat manusia salah menilai. Rasa takut dapat membantu seseorang mengenali bahaya yang nyata. Kemarahan dapat mendorong masyarakat menuntut keadilan. Empati dapat menggerakkan orang untuk membantu sesama.


Emosi merupakan bagian alami dari mekanisme manusia. Persoalannya bukan keberadaan emosi, melainkan ketika emosi yang kuat tidak diimbangi pemeriksaan fakta dan pertimbangan yang matang.


Emosi dapat menjadi sinyal, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan.


3. LIMA EMOSI YANG SERING MEMENGARUHI PERSEPSI


Dalam ruang informasi, ada beberapa emosi yang perlu dipahami.


PERTAMA: KETAKUTAN


Ketakutan muncul ketika seseorang merasa keselamatan, pekerjaan, keluarga, atau masa depannya terancam.


Informasi yang mengandung ancaman dapat menarik perhatian karena manusia secara alami memperhatikan kemungkinan bahaya.


Namun, ketakutan juga dapat dimanfaatkan melalui informasi yang tidak lengkap, ancaman yang dibesar-besarkan, atau kabar yang belum terbukti.


KEDUA: KEMARAHAN


Kemarahan dapat muncul ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil, dirugikan, atau dikhianati.


Informasi yang membangkitkan kemarahan sering memperoleh respons kuat, terutama apabila menyangkut persoalan yang telah lama menjadi perhatian masyarakat.


Namun, kemarahan yang tidak didukung pemeriksaan fakta dapat berubah menjadi tuduhan, permusuhan, bahkan tindakan yang merugikan orang lain.


KETIGA: KECEMASAN


Kecemasan muncul ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak pasti.


Dalam situasi krisis, masyarakat membutuhkan penjelasan yang jelas. Apabila informasi resmi terlambat atau tidak lengkap, rumor dan spekulasi dapat mengisi ruang ketidakpastian.


KEEMPAT: KEBANGGAAN DAN IDENTITAS


Manusia memiliki identitas keluarga, daerah, bangsa, organisasi, dan kelompok sosial.


Identitas dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat.


Namun, apabila identitas digunakan untuk membangun anggapan bahwa kelompok sendiri selalu benar dan kelompok lain selalu salah, perbedaan dapat berubah menjadi permusuhan.


KELIMA: HARAPAN


Harapan merupakan kekuatan positif dalam kehidupan manusia.


Masyarakat membutuhkan harapan terhadap masa depan, kesejahteraan, keamanan, dan keadilan.


Namun, janji yang tidak didukung kenyataan juga dapat membentuk harapan palsu dan mengecewakan masyarakat.


Karena itu, setiap informasi yang membangkitkan emosi perlu diperiksa berdasarkan fakta dan konteksnya.


4. MENGAPA ORANG LEBIH MUDAH MEMPERCAYAI KELOMPOKNYA?


Manusia adalah makhluk sosial.


Kita hidup dalam keluarga, lingkungan, komunitas, organisasi, dan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, kepercayaan sering terbentuk melalui hubungan dengan orang-orang yang kita kenal.


Karena itu, informasi yang datang dari teman, keluarga, atau kelompok yang dipercaya terkadang lebih mudah diterima.


Dalam psikologi sosial terdapat konsep social identity, yaitu bagian dari identitas seseorang yang terbentuk melalui keanggotaannya dalam kelompok.


Identitas kelompok dapat menumbuhkan solidaritas dan rasa kebersamaan.


Namun, dalam keadaan tertentu, identitas kelompok juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai informasi.


Seseorang mungkin lebih mudah menerima informasi yang mendukung kelompoknya dan lebih cepat menolak informasi yang dianggap merugikan kelompok tersebut.


Inilah salah satu alasan mengapa perbedaan pendapat di media sosial terkadang berkembang menjadi pertentangan yang tajam.


Kita perlu belajar membedakan antara kesetiaan kepada kelompok dan kesetiaan kepada kebenaran.


Membela kelompok tidak berarti harus membenarkan semua informasi yang berasal dari kelompok sendiri.


5. KETIKA EMOSI MENYEBAR MELALUI MEDIA SOSIAL


Dalam kehidupan sehari-hari, emosi dapat memengaruhi orang lain melalui interaksi sosial.


Seseorang yang melihat banyak orang marah terhadap suatu peristiwa dapat ikut merasakan kemarahan, meskipun belum mengetahui seluruh faktanya.


Hal ini dapat terjadi melalui komentar, video, percakapan, dan unggahan yang terus bermunculan.


Penelitian William J. Brady dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2017 menemukan hubungan antara bahasa bermuatan emosi moral dan peningkatan penyebaran pesan politik atau moral di jejaring sosial tertentu.


Penelitian tersebut menganalisis lebih dari 563.000 unggahan terkait tiga isu moral dan politik yang terpolarisasi.


Temuannya menunjukkan bahwa penggunaan bahasa bermuatan emosi moral berkaitan dengan peningkatan penyebaran pesan.


Namun, kita harus membaca temuan tersebut secara tepat. Penelitian itu tidak membuktikan bahwa setiap pesan emosional merupakan manipulasi, bahwa semua orang akan terpengaruh dengan cara yang sama, atau bahwa emosi selalu menjadi penyebab utama penyebaran informasi.


Pelajarannya: ruang digital bukan hanya tempat informasi beredar, tetapi juga tempat respons emosional saling memengaruhi.


6. MENGAPA KERUMUNAN DAPAT MENGAMBIL KEPUTUSAN BERBEDA DARI INDIVIDU?


Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat seseorang berperilaku berbeda ketika berada dalam kelompok besar.


Seseorang yang biasanya tenang dapat ikut terbawa suasana ketika berada di tengah kerumunan yang sedang marah atau panik.


Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor:


- Tekanan kelompok: seseorang merasa harus mengikuti sikap mayoritas.

- Anonimitas: seseorang merasa tanggung jawab pribadinya berkurang ketika berada dalam kelompok.

- Penguatan emosi: reaksi orang lain dapat memperbesar perasaan yang sudah ada.

- Ketidakpastian: seseorang mencari petunjuk dari perilaku orang di sekitarnya.

- Identitas bersama: anggota kelompok merasa memiliki tujuan dan kepentingan yang sama.


Namun, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa kerumunan selalu irasional.


Kelompok masyarakat juga dapat menunjukkan solidaritas, kedisiplinan, dan kerja sama yang luar biasa. Kita melihatnya ketika masyarakat bergotong royong menyelamatkan korban bencana, membantu korban kecelakaan, menggalang bantuan kemanusiaan, dan menjaga lingkungan.


Dengan demikian, psikologi massa tidak berarti menganggap masyarakat mudah dikendalikan.


Yang perlu dipahami adalah bagaimana situasi, emosi, identitas, dan tekanan sosial dapat memengaruhi perilaku kelompok, baik secara positif maupun negatif.


7. DARI EMOSI MENUJU KEPUTUSAN: DI MANA LETAK KERAWANANNYA?


Perhatikan rangkaian sederhana berikut:


INFORMASI → PERSEPSI → EMOSI → PENILAIAN → KEPUTUSAN → TINDAKAN


Rangkaian ini bukan rumus mutlak, karena dalam kenyataan setiap tahap dapat saling memengaruhi dan berlangsung bersamaan.


Namun, kerangka tersebut membantu kita memahami bahwa informasi tidak selalu langsung menghasilkan keputusan.


Informasi terlebih dahulu ditafsirkan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, keyakinan, dan keadaan emosional seseorang.


Contohnya:


Sebuah video memperlihatkan kerumunan orang sedang berteriak.


Tanpa mengetahui lokasi, waktu, penyebab, dan konteks kejadian, seseorang dapat langsung menyimpulkan bahwa telah terjadi kerusuhan.


Padahal, video tersebut mungkin memperlihatkan kegiatan demonstrasi damai, pertandingan olahraga, atau peristiwa lain yang sama sekali berbeda.


Kesalahan terjadi ketika kesan awal dianggap sebagai fakta akhir.


Dalam Gerilya Kognitif, inilah salah satu titik yang harus diperhatikan: jarak antara apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan, dan apa yang sebenarnya terjadi.


8. BAGAIMANA MENJAGA AKAL TETAP JERNIH?


Menghadapi informasi yang membangkitkan emosi tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada masyarakat agar jangan mudah percaya.


Kita perlu membangun kebiasaan berpikir yang lebih baik.


Ada tujuh langkah sederhana:


1. BERHENTI SEJENAK. Jangan langsung membagikan informasi yang membuat kita marah atau takut.

2. PERIKSA SUMBER. Cari tahu siapa yang pertama menyampaikan informasi.

3. CARI KONTEKS. Periksa waktu, lokasi, dan latar belakang peristiwa.

4. BANDINGKAN INFORMASI. Gunakan lebih dari satu sumber yang independen dan dapat dipercaya.

5. PISAHKAN FAKTA DAN PENDAPAT. Jangan menganggap penafsiran seseorang sebagai bukti.

6. KENDALIKAN REAKSI. Jangan membiarkan kemarahan atau ketakutan menentukan keputusan.

7. BERSEDIA MENGOREKSI DIRI. Jika informasi ternyata salah, akui dan perbaiki.


Penelitian Gordon Pennycook dan David Rand yang diterbitkan dalam Nature Communications pada 2022 menganalisis 20 eksperimen dengan total 26.863 peserta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mengingatkan orang untuk memperhatikan akurasi informasi dapat membantu mengurangi kecenderungan membagikan informasi yang keliru.


Artinya, membangun kebiasaan memeriksa kebenaran bukan sesuatu yang mustahil. Perhatian manusia dapat diarahkan kembali kepada akurasi.


9. APA ARTINYA BAGI INDONESIA?


Indonesia adalah bangsa yang besar, majemuk, dan memiliki beragam latar belakang sosial, budaya, daerah, serta kepentingan.


Keberagaman merupakan kekuatan nasional.


Namun, perbedaan juga membutuhkan kemampuan mengelola informasi dan komunikasi secara bijaksana.


Dalam menghadapi ancaman manipulasi informasi, Indonesia perlu membangun tiga kemampuan.


PERTAMA: KEMAMPUAN MEMAHAMI MASYARAKAT


Negara perlu memahami persoalan nyata yang dirasakan masyarakat, termasuk keresahan ekonomi, sosial, keamanan, dan pelayanan publik.


Persoalan yang tidak diselesaikan dapat menjadi sumber ketidakpercayaan.


KEDUA: KEMAMPUAN KOMUNIKASI STRATEGIS


Lembaga negara perlu menyampaikan informasi yang cepat, akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Ketika terjadi krisis, masyarakat membutuhkan fakta, bukan sekadar slogan.


KETIGA: KEMAMPUAN MEMBANGUN KETAHANAN KOGNITIF


Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengenali manipulasi, mengendalikan reaksi emosional, membandingkan sumber, dan mengambil keputusan secara mandiri.


Kemampuan tersebut harus dibangun melalui pendidikan, literasi media, budaya diskusi, dan keteladanan pemimpin.


Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui komunikasi.


Pemimpin dan lembaga negara harus membuktikan perkataannya melalui tindakan nyata, transparansi, keterbukaan terhadap kritik, dan penyelesaian persoalan masyarakat.


Komunikasi yang baik tanpa tindakan nyata akan kehilangan kredibilitas. Sebaliknya, kebijakan yang baik juga perlu dijelaskan secara benar agar masyarakat memahami manfaat dan tujuannya.


Kita tidak boleh menganggap masyarakat sebagai objek yang harus diarahkan pikirannya. Masyarakat harus menjadi subjek yang memiliki pengetahuan dan kemampuan menilai informasi secara mandiri.


10. PSIKOLOGI MASSA DALAM KERANGKA PERANG FONDASI


Dalam kerangka Perang Fondasi, pembahasan psikologi massa berkaitan erat dengan pilar PERSEPSI.


Namun, persepsi tidak berdiri sendiri.


- ENERGI: menopang kehidupan dan aktivitas masyarakat.

- DATA: menyediakan fakta dan informasi untuk memahami keadaan.

- PERSEPSI: memengaruhi cara manusia menafsirkan informasi, merasakan keadaan, dan menentukan sikap.


Ketiganya saling berkaitan.


Data yang tidak akurat dapat menghasilkan pemahaman yang keliru. Narasi yang tidak utuh dapat membentuk persepsi yang salah. Emosi yang tidak dikelola dapat memengaruhi keputusan.


Karena itu, ketahanan bangsa tidak cukup dibangun melalui kekuatan fisik dan teknologi. Kita juga membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, kedewasaan emosional, dan kemampuan berpikir kritis.


PENUTUP


Dalam Gerilya Kognitif, manusia bukan sekadar penerima informasi. Manusia adalah pusat dari proses memahami, menafsirkan, mempercayai, dan mengambil keputusan.


Emosi merupakan bagian alami dari kehidupan. Kita tidak perlu menghilangkannya. Yang diperlukan adalah kemampuan mengelola emosi agar tidak mengalahkan pemeriksaan fakta.


Masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang tidak pernah marah, takut, atau berbeda pendapat.


Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu mengendalikan reaksi, memeriksa kebenaran, dan mengambil keputusan dengan akal yang jernih.


Sebab, ketika emosi menguasai keputusan tanpa pemeriksaan fakta, manusia dapat kehilangan arah. Tetapi ketika emosi berjalan bersama pengetahuan dan akal sehat, ia justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun bangsa.


---


SUMBER RUJUKAN


1. Brady, W. J., Wills, J. A., Jost, J. T., Tucker, J. A., dan Van Bavel, J. J., Emotion Shapes the Diffusion of Moralized Content in Social Networks, Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 2017.

2. Pennycook, G. dan Rand, D. G., Accuracy Prompts are a Replicable and Generalizable Approach for Reducing the Spread of Misinformation, Nature Communications, 2022.

3. Tajfel, H. dan Turner, J. C., An Integrative Theory of Intergroup Conflict, 1979.

4. Le Bon, Gustave, The Crowd: A Study of the Popular Mind, 1895. Karya klasik mengenai perilaku kerumunan; dibaca sebagai sejarah pemikiran, bukan sebagai gambaran ilmiah lengkap tentang psikologi massa modern.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas