GERILYA KOGNITIF
FAKTA YANG SAMA, PENAFSIRAN YANG BERBEDA, KEPUTUSAN YANG BERBEDA
Penulis: Brigjen (Purn) MJP.Hutagaol
Jakarta, 2 November 2026
---
1. MENGAPA NARASI MENJADI PENTING?
Dalam Seri 1 kita membahas medan tempur baru. Seri 2 menjelaskan bagaimana operasi pengaruh bekerja.
Sekarang kita masuk ke salah satu instrumen utamanya: NARASI.
Apa itu narasi?
Secara sederhana, narasi adalah cara menyusun fakta, informasi, dan peristiwa menjadi sebuah cerita atau penjelasan yang memberikan makna tertentu kepada orang yang menerimanya.
Narasi bukan sekadar rangkaian kalimat. Narasi menentukan bagian mana yang ditonjolkan, bagian mana yang diletakkan di belakang, bagaimana suatu peristiwa dijelaskan, dan kesimpulan apa yang mungkin muncul dalam pikiran pembaca.
Karena itu, dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, tetapi memiliki pemahaman yang berbeda.
Di sinilah narasi menjadi instrumen penting dalam perebutan persepsi.
Siapa yang mampu menjelaskan fakta secara meyakinkan dan dapat dipercaya, memiliki peluang lebih besar untuk memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa.
Namun, narasi yang kuat tidak harus manipulatif. Narasi yang baik justru harus berangkat dari fakta, konteks, dan kejujuran.
2. FAKTA TIDAK SELALU BERBICARA SENDIRI
Mari kita gunakan contoh sederhana.
Sebuah pemerintah daerah membangun jalan. Proyek tersebut mengalami keterlambatan.
Ada beberapa fakta yang perlu diketahui:
- Berapa anggaran yang dialokasikan?
- Kapan proyek dimulai dan kapan seharusnya selesai?
- Apa penyebab keterlambatan?
- Bagaimana kualitas pekerjaan?
- Apakah ada perubahan kontrak?
- Apakah terdapat temuan pemeriksaan?
Fakta-fakta itu dapat disusun menjadi penjelasan yang utuh.
Namun, apabila hanya satu bagian yang ditampilkan, misalnya keterlambatan tanpa penjelasan penyebabnya, masyarakat dapat membentuk kesimpulan bahwa proyek tersebut pasti gagal atau terjadi penyimpangan.
Sebaliknya, apabila hanya keberhasilan pembangunan yang ditonjolkan tanpa menjelaskan keterlambatan dan masalah kualitas, masyarakat juga dapat memperoleh gambaran yang tidak lengkap.
Di sini kita harus memahami perbedaan antara penyederhanaan informasi dan manipulasi fakta.
Setiap tulisan tentu memiliki keterbatasan ruang. Tidak semua detail dapat dimasukkan. Namun, informasi penting yang dapat mengubah kesimpulan tidak boleh sengaja dihilangkan.
Jadi, persoalannya bukan hanya apakah sebuah informasi benar atau salah.
Persoalannya juga: apakah informasi itu disajikan secara utuh dan sesuai konteks?
3. LIMA UNSUR PEMBENTUK NARASI
Untuk memahami bagaimana narasi bekerja, kita dapat mengenali lima unsur berikut.
PERTAMA: FAKTA
Fakta merupakan dasar sebuah narasi. Fakta harus dapat diperiksa melalui dokumen, data, kesaksian, rekaman, atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tanpa fakta, narasi mudah berubah menjadi rumor atau propaganda.
KEDUA: PEMILIHAN INFORMASI
Tidak semua informasi dimasukkan ke dalam sebuah cerita.
Pemilihan informasi menentukan aspek mana yang mendapat perhatian lebih besar.
Pemilihan ini merupakan hal wajar dalam penulisan. Namun, pemilihan menjadi menyesatkan apabila sengaja menghilangkan fakta penting yang dapat mengubah pemahaman pembaca.
KETIGA: SUDUT PANDANG
Sudut pandang adalah posisi atau cara seseorang melihat sebuah peristiwa.
Contohnya, kenaikan harga bahan pangan dapat dilihat dari sudut pandang petani, pedagang, konsumen, pemerintah, dan pengelola distribusi.
Masing-masing memiliki pengalaman dan kepentingan yang berbeda.
Narasi yang baik tidak harus menghilangkan perbedaan tersebut. Justru perlu menjelaskan hubungan di antara berbagai sudut pandang.
KEEMPAT: EMOSI DAN SIMBOL
Bahasa, foto, video, musik, dan simbol dapat memengaruhi cara seseorang merasakan sebuah peristiwa.
Sebuah foto yang memperlihatkan antrean panjang, misalnya, dapat memberikan kesan krisis. Namun, tanpa mengetahui lokasi, waktu, penyebab, dan konteks pengambilan gambar, kita belum dapat menyimpulkan keadaan sebenarnya.
Visual dapat memperkuat penjelasan, tetapi juga dapat menyesatkan apabila digunakan di luar konteks.
KELIMA: KESIMPULAN DAN MAKNA
Pada akhirnya, narasi mengarahkan pembaca untuk memahami apa arti sebuah peristiwa.
Kesimpulan dapat berupa penilaian, dukungan, penolakan, atau keputusan.
Karena itu, narasi harus diperiksa bukan hanya dari kalimatnya, tetapi juga dari fakta dan kesimpulan yang dibangun.
4. FRAMING: CARA MEMBINGKAI SEBUAH PERISTIWA
Dalam ilmu komunikasi dikenal istilah framing.
Framing adalah cara membingkai atau menonjolkan aspek tertentu dari suatu peristiwa sehingga orang melihatnya melalui sudut pandang tertentu.
Framing tidak otomatis berarti manipulasi. Setiap penulis atau media dapat memiliki sudut pandang dan fokus pemberitaan yang berbeda.
Yang menjadi masalah adalah ketika pembingkaian dilakukan dengan menghilangkan fakta penting, menyajikan konteks secara keliru, atau sengaja mengarahkan pembaca pada kesimpulan yang tidak didukung bukti.
Perhatikan contoh berikut.
Ada dua judul yang membahas peristiwa sama:
Judul A: PEMERINTAH MENAMBAH ANGGARAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR.
Judul B: BEBAN ANGGARAN PEMERINTAH MENINGKAT AKIBAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR.
Keduanya mungkin merujuk pada fakta yang sama, tetapi menonjolkan aspek berbeda.
Judul pertama menekankan pembangunan. Judul kedua menekankan beban anggaran.
Keduanya belum tentu salah. Namun, pembaca perlu melihat isi berita, data anggaran, manfaat pembangunan, dan dampaknya sebelum mengambil kesimpulan.
UNESCO dalam buku Journalism, Fake News & Disinformation menjelaskan bahwa informasi dapat menjadi menyesatkan ketika foto dipotong, kutipan dipilih secara selektif, atau statistik disajikan tanpa konteks yang memadai.
Pelajarannya sederhana:
Jangan hanya membaca apa yang ditampilkan. Periksa juga apa yang tidak ditampilkan.
5. PENGULANGAN DAPAT MEMBENTUK KESAN
Sebuah narasi dapat muncul melalui berita, video pendek, komentar, grup percakapan, dan berbagai akun media sosial.
Jika pesan yang sama terus muncul, seseorang dapat merasa bahwa pesan tersebut sudah menjadi pandangan umum.
Pengulangan juga dapat membuat suatu pernyataan terasa lebih familiar. Dalam psikologi dikenal konsep illusory truth effect, yaitu kecenderungan seseorang menilai pernyataan yang berulang kali ditemui sebagai lebih benar atau lebih meyakinkan, meskipun pengulangan bukan bukti kebenaran.
Namun, efek ini tidak selalu terjadi pada setiap orang. Pengaruhnya bergantung pada konteks, pengetahuan sebelumnya, tingkat kepercayaan, dan kemampuan seseorang memeriksa informasi.
Satu informasi yang disalin oleh puluhan akun tetap dapat berasal dari satu sumber yang sama.
Karena itu, penting membedakan antara:
- Banyaknya unggahan.
- Banyaknya sumber independen.
- Kekuatan bukti yang mendukung informasi.
Ketiganya tidak sama.
Masyarakat perlu membangun kebiasaan mencari sumber asli dan membandingkan laporan dari sumber yang benar-benar berbeda.
6. NARASI DAPAT MEMBANGUN ATAU MERUSAK KEPERCAYAAN
Narasi memiliki kekuatan karena manusia membutuhkan penjelasan untuk memahami keadaan.
Ketika terjadi bencana, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas.
Ketika harga kebutuhan pokok naik, masyarakat ingin mengetahui penyebabnya.
Ketika muncul persoalan keamanan, masyarakat membutuhkan penjelasan yang dapat dipercaya.
Apabila lembaga yang berwenang terlambat memberikan informasi, ruang kosong dapat diisi oleh rumor dan spekulasi.
Namun, komunikasi yang cepat saja tidak cukup. Penjelasan harus benar, konsisten, dan terbuka terhadap koreksi.
Kepercayaan tidak dibangun dengan slogan. Kepercayaan dibangun dengan kesesuaian antara perkataan, data, dan tindakan.
7. BAGAIMANA MENGUJI SEBUAH NARASI?
Sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah narasi, gunakan tujuh pertanyaan berikut:
1. Apa fakta utama yang disampaikan?
2. Dari mana sumber informasi berasal?
3. Apakah ada data atau dokumen pendukung?
4. Apakah konteks peristiwanya dijelaskan secara lengkap?
5. Apakah ada fakta penting yang tidak ditampilkan?
6. Apakah judul, foto, dan isi informasi saling sesuai?
7. Apakah kesimpulannya benar-benar didukung oleh fakta?
Jika jawabannya belum jelas, jangan terburu-buru menyebarkan informasi tersebut.
Periksa sumber lain, cari dokumen aslinya, dan bedakan antara fakta dengan pendapat.
8. INDONESIA HARUS MEMILIKI KEMAMPUAN MEMBANGUN NARASI BERBASIS FAKTA
Dalam menghadapi persaingan informasi, Indonesia tidak cukup hanya membantah narasi pihak lain.
Indonesia juga harus mampu mengambil inisiatif komunikasi strategis untuk menjelaskan kepentingan nasional secara jelas, konsisten, dan dapat dipercaya.
Artinya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pihak yang bereaksi ketika muncul informasi yang merugikan kepentingannya. Indonesia harus memiliki kemampuan menjelaskan keadaan, menyampaikan fakta, mengangkat perspektif nasional, dan membangun komunikasi yang aktif di dalam maupun di luar negeri.
Kemampuan tersebut mencakup:
1. Menguasai data dan fakta mengenai persoalan nasional.
2. Menjelaskan kebijakan pemerintah dengan bahasa yang mudah dipahami.
3. Membangun komunikasi strategis yang konsisten.
4. Mengembangkan kemampuan analisis media dan informasi.
5. Menggunakan teknologi serta AI untuk membantu verifikasi dan analisis.
6. Meningkatkan kemampuan masyarakat membedakan fakta, opini, dan manipulasi.
7. Menyampaikan kepentingan nasional melalui komunikasi yang terbuka dan bertanggung jawab.
Inilah kemampuan yang perlu dibangun dalam kerangka Gerilya Kognitif.
Kita boleh mengambil inisiatif dalam ruang komunikasi dan menyampaikan kepentingan Indonesia secara aktif. Namun, kekuatan narasi harus bersumber dari fakta, bukan kebohongan; dari argumentasi, bukan fitnah; dan dari kepercayaan, bukan manipulasi.
9. NARASI DALAM KERANGKA PERANG FONDASI
Dalam kerangka Perang Fondasi, narasi berada pada pilar PERSEPSI.
Namun, narasi yang kuat membutuhkan dua fondasi lainnya.
- ENERGI: menopang kehidupan dan keberlangsungan aktivitas masyarakat.
- DATA: menyediakan fakta dan informasi untuk memahami keadaan.
- PERSEPSI: membentuk cara manusia menafsirkan fakta dan menentukan sikap.
Dengan demikian, narasi bukan sekadar kemampuan berbicara atau membuat konten.
Narasi adalah kemampuan menghubungkan fakta, pengetahuan, pemikiran, dan kepentingan menjadi penjelasan yang dapat dipahami masyarakat.
Di sinilah hubungan antara penguasaan data dan penguasaan persepsi menjadi sangat penting.
PENUTUP
Dalam persaingan digital, informasi dapat datang dari mana saja. Namun, tidak semua informasi memberikan pemahaman yang benar.
Fakta dapat dipilih, dipotong, diberi penekanan, dan disusun menjadi narasi yang berbeda.
Karena itu, masyarakat harus memiliki kemampuan membaca lebih dalam daripada sekadar melihat judul atau menonton video singkat.
Sementara itu, negara harus mampu menjelaskan kepentingannya melalui fakta dan komunikasi yang dapat dipercaya.
Dalam Gerilya Kognitif, narasi adalah jembatan antara fakta dan persepsi. Siapa pun yang menguasai narasi harus tetap bertanggung jawab terhadap kebenaran fakta yang dibawanya.
---
SUMBER RUJUKAN
1. UNESCO, Cherilyn Ireton dan Julie Posetti (Ed.), Journalism, Fake News & Disinformation: Handbook for Journalism Education and Training, 2018.
2. UNESCO, Media and Information Literacy: Unit 2 – The Misinformation and Disinformation Ecosystem, 2024.
3. Council of Europe, Claire Wardle dan Hossein Derakhshan, Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework for Research and Policy Making, 2017.
4. Hasher, L., Goldstein, D., dan Toppino, T., Frequency and the Conference of Referential Validity, Journal of Verbal Learning and Verbal Behavior, 1977. Kajian awal mengenai efek pengulangan terhadap penilaian kebenaran.