PASUKAN DIGITAL- AKUN, JARINGAN, BOT, DAN INFLUENCER
PASUKAN DIGITAL- AKUN, JARINGAN, BOT, DAN INFLUENCER
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
GERILYA KOGNITIF
SERI 5
BAGAIMANA PENGARUH DIBANGUN, DIPERBESAR, DAN DIARAHKAN DI RUANG DIGITAL
Penulis: Brigjen (Purn) MJP.Hutagaol
Jakarta, 4 November 2026
---
1. MEDAN DIGITAL TIDAK BERGERAK SENDIRIAN
Ketika kita membuka media sosial, membaca berita, atau mengikuti percakapan di internet, kita melihat berbagai akun yang menyampaikan pendapat, membagikan informasi, dan membentuk opini.
Sebagian adalah individu biasa. Sebagian merupakan media, organisasi, lembaga, atau tokoh publik. Namun, ada pula akun otomatis, akun palsu, dan jaringan akun yang bekerja secara terkoordinasi untuk memperbesar pesan tertentu.
Di sinilah kita perlu memahami satu hal: pengaruh digital tidak selalu dibangun oleh satu akun, tetapi dapat dibentuk oleh jaringan yang bergerak bersama.
Dalam Gerilya Kognitif, jaringan tersebut menjadi salah satu unsur penting yang perlu dipahami. Sebab, persepsi masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh isi pesan, tetapi juga oleh siapa yang menyampaikan, seberapa sering pesan muncul, dan bagaimana pesan itu beredar.
2. MENGENAL PARA PELAKU DI RUANG DIGITAL
Tidak semua akun memiliki fungsi dan karakter yang sama. Beberapa jenis akun yang perlu kita kenali adalah:
A. AKUN ASLI
Akun yang digunakan oleh individu, organisasi, lembaga, atau media untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi. Akun asli dapat menyampaikan pendapat yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat bukan bukti adanya operasi manipulasi.
B. BOT
Bot berasal dari istilah robot dan merujuk pada perangkat lunak yang dapat menjalankan aktivitas secara otomatis, misalnya mengirim pemberitahuan, menjawab pertanyaan, atau membantu pelayanan informasi.
Bot tidak selalu berbahaya. Persoalan muncul apabila otomatisasi digunakan untuk menciptakan dukungan palsu, memperbanyak komentar secara tidak wajar, atau menyesatkan masyarakat mengenai besarnya dukungan terhadap suatu pesan.
C. AKUN PALSU
Akun yang menggunakan identitas, foto, atau latar belakang yang tidak benar untuk menyembunyikan siapa pengelolanya.
Akun semacam ini dapat digunakan untuk menyamar sebagai warga biasa, tokoh masyarakat, media, atau kelompok tertentu. Tujuannya bisa untuk membangun kepercayaan secara tidak jujur atau menyebarkan pesan yang menyesatkan.
D. INFLUENCER
Influencer adalah individu yang memiliki pengikut dan pengaruh terhadap opini atau perilaku audiensnya.
Influencer tidak otomatis menjadi bagian dari operasi manipulasi. Mereka dapat berperan positif dalam pendidikan, penyampaian informasi, dan kampanye sosial. Namun, pengaruhnya dapat disalahgunakan apabila informasi yang disampaikan tidak diperiksa atau hubungan berbayar dan kepentingannya tidak dijelaskan secara transparan.
E. TROLL DAN AKUN PROVOKATIF
Istilah troll digunakan untuk menggambarkan akun atau pengguna yang sengaja memancing konflik, mengganggu percakapan, atau memprovokasi orang lain.
Tidak setiap komentar keras merupakan tindakan troll. Kita perlu melihat pola perilaku dan konteksnya, bukan hanya perbedaan pendapat.
F. JARINGAN AKUN TERKOORDINASI
Inilah bagian yang paling penting dalam pembahasan pasukan digital.
Jaringan akun terkoordinasi adalah sejumlah akun atau saluran digital yang aktivitasnya saling berkaitan dan bergerak untuk mencapai tujuan tertentu.
Apabila jaringan tersebut menggunakan identitas palsu atau menyembunyikan hubungan dan pengendalinya untuk menipu masyarakat, praktik itu dikenal sebagai Coordinated Inauthentic Behavior (CIB), atau perilaku tidak autentik yang terkoordinasi.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata banyaknya akun, tetapi adanya koordinasi dan penyamaran yang bertujuan menciptakan kesan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
3. BAGAIMANA JARINGAN MEMBENTUK PENGARUH?
Sebuah informasi dapat beredar melalui banyak saluran. Informasi yang sama mungkin muncul di akun pribadi, grup percakapan, halaman komunitas, media daring, dan akun tokoh publik.
Ketika sejumlah saluran mengangkat pesan serupa, masyarakat dapat memperoleh kesan bahwa pesan tersebut sedang menjadi perhatian luas.
Namun, perlu dibedakan antara penyebaran informasi yang wajar dan aktivitas yang sengaja direkayasa.
Dalam operasi manipulasi, beberapa pola yang dapat diamati antara lain:
- Banyak akun menyampaikan pesan yang sangat mirip dalam waktu berdekatan.
- Sejumlah akun saling memperkuat pesan yang sama secara berulang.
- Identitas akun tidak jelas atau tidak sesuai dengan aktivitas yang ditampilkan.
- Akun-akun tertentu memiliki hubungan yang menunjukkan adanya koordinasi.
- Pesan diarahkan untuk memperbesar ketakutan, kemarahan, kecurigaan, atau perpecahan.
Pola tersebut merupakan petunjuk awal untuk diperiksa, bukan bukti tunggal bahwa sebuah operasi sedang berlangsung.
Yang harus dicari adalah hubungan antara akun, pola aktivitas, tujuan, dan bukti koordinasinya.
4. CONTOH NYATA: JARINGAN AKUN YANG DIUNGKAP META
Ancaman ini bukan sekadar dugaan.
Dalam Q1 2025 Adversarial Threat Report yang diterbitkan pada Mei 2025, Meta mengungkap dan menindak jaringan yang berasal dari Tiongkok dan menargetkan masyarakat di Myanmar, Taiwan, serta Jepang.
Meta melaporkan penghapusan 157 akun Facebook, 19 halaman, satu grup, serta 17 akun Instagram yang terkait dengan jaringan tersebut.
Menurut laporan itu, jaringan menggunakan akun-akun palsu yang berupaya menyamar sebagai warga lokal. Mereka mengelola halaman, menyebarkan konten mengenai perkembangan politik dan peristiwa terkini, serta membangun kesan seolah-olah percakapan tersebut berasal dari masyarakat setempat.
Meta juga melaporkan bahwa jaringan itu terdiri atas tiga kelompok akun yang masing-masing menargetkan negara berbeda. Sebagian foto profil yang digunakan diduga dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan.
Kasus ini memperlihatkan bahwa operasi pengaruh digital dapat melibatkan banyak akun, berbagai platform, dan penyamaran identitas.
Contoh lain terlihat dalam laporan keempat European External Action Service (EEAS) mengenai ancaman Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI), yang diterbitkan pada Maret 2026.
EEAS mencatat 540 insiden yang dideteksi dan dianalisis sepanjang 2025. Sekitar 10.500 saluran media sosial dan situs web terlibat dalam produksi atau penguatan aktivitas FIMI yang dianalisis.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa 27 persen insiden yang terdeteksi melibatkan teknik terkait kecerdasan buatan.
Angka-angka ini menunjukkan luasnya persoalan yang sedang dihadapi. Namun, angka tersebut merupakan hasil pemantauan dan analisis EEAS, bukan jumlah seluruh operasi manipulasi informasi di dunia.
5. MENGAPA JARINGAN DIGITAL DAPAT MEMENGARUHI PERSEPSI?
Ada tiga unsur yang saling berkaitan.
PERTAMA, JUMLAH DAN KEMUNCULAN PESAN.
Informasi yang muncul berulang kali dapat terasa semakin dikenal. Dalam keadaan tertentu, orang dapat keliru menganggap sesuatu benar hanya karena sering melihatnya.
Padahal, pengulangan bukan bukti kebenaran.
KEDUA, KEPERCAYAAN TERHADAP SUMBER.
Masyarakat cenderung memperhatikan informasi dari orang yang dikenal, tokoh yang dipercaya, atau kelompok yang dianggap memiliki kesamaan pandangan.
Karena itu, penyamaran sebagai warga biasa atau lembaga yang dipercaya dapat menjadi sarana manipulasi.
KETIGA, PENGUATAN MELALUI JARINGAN.
Ketika sebuah pesan muncul melalui berbagai akun dan saluran, pesan itu dapat terlihat lebih besar daripada dukungan sebenarnya.
Di sinilah jaringan digital dapat memengaruhi persepsi publik: bukan hanya melalui apa yang disampaikan, tetapi juga melalui kesan mengenai siapa yang mendukungnya.
6. ALGORITMA: PENGUAT YANG PERLU DIPAHAMI
Akun dan jaringan digital bergerak di dalam platform yang menggunakan algoritma.
Algoritma adalah sistem komputasi yang membantu platform memilih, mengurutkan, dan merekomendasikan konten kepada pengguna.
Konten yang memperoleh interaksi dapat memperoleh kesempatan lebih besar untuk ditampilkan kembali, bergantung pada sistem dan kebijakan masing-masing platform.
Namun, algoritma tidak selalu memperbesar konten yang salah atau emosional. Cara kerjanya berbeda-beda dan tidak sesederhana itu.
Yang perlu kita pahami adalah bahwa interaksi digital dapat memperluas jangkauan informasi. Karena itu, jumlah komentar, tanda suka, atau pengikut tidak otomatis menunjukkan kebenaran maupun dukungan masyarakat yang sesungguhnya.
Popularitas digital tidak sama dengan kebenaran.
7. BAGAIMANA MENGENALI JARINGAN YANG MENCURIGAKAN?
Masyarakat tidak harus menjadi ahli teknologi untuk mulai mengenali tanda-tandanya.
Ada tujuh pertanyaan sederhana yang dapat digunakan:
1. Apakah identitas pemilik akun jelas dan dapat dipertanggungjawabkan?
2. Apakah informasi yang disampaikan memiliki sumber yang dapat diperiksa?
3. Apakah banyak akun menyampaikan pesan yang hampir sama dalam waktu berdekatan?
4. Apakah akun-akun tersebut memiliki pola aktivitas yang tidak wajar?
5. Apakah sebuah pesan hanya mengandalkan kemarahan, ketakutan, atau kebencian?
6. Apakah informasi yang sama dapat ditemukan melalui sumber independen yang kredibel?
7. Apakah ada bukti bahwa akun-akun tersebut benar-benar saling berkoordinasi?
Kita tidak boleh langsung menuduh seseorang sebagai bagian dari operasi tertentu hanya karena pendapatnya berbeda atau unggahannya sering muncul.
Pemeriksaan harus berdasarkan bukti, bukan prasangka.
8. APA ARTINYA BAGI INDONESIA?
Indonesia memiliki masyarakat yang sangat aktif menggunakan ruang digital. Karena itu, kemampuan memahami jaringan akun dan operasi pengaruh perlu menjadi bagian dari pembangunan ketahanan nasional.
Ada beberapa kemampuan yang perlu dikembangkan:
- Literasi digital masyarakat agar mampu membedakan akun asli, akun palsu, dan aktivitas otomatis.
- Kemampuan analisis data untuk mengenali pola penyebaran informasi yang tidak wajar.
- Penguatan keamanan siber dan perlindungan infrastruktur komunikasi.
- Kemampuan komunikasi strategis untuk menyampaikan informasi negara secara cepat, terbuka, dan dapat dipercaya.
- Kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, media, platform digital, dan masyarakat sipil.
Negara tidak cukup hanya membantah informasi yang salah setelah menyebar luas. Negara juga harus membangun kepercayaan melalui transparansi, ketepatan informasi, keteladanan, dan penyelesaian persoalan nyata masyarakat.
9. PASUKAN DIGITAL DAN GAGASAN CYBER ARMY
Dalam kerangka Gerilya Kognitif, istilah Pasukan Digital dapat digunakan untuk menggambarkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan menghadapi tantangan di ruang digital.
Di dalamnya terdapat berbagai bidang keahlian:
- Keamanan siber dan perlindungan jaringan.
- Intelijen siber serta analisis ancaman.
- Forensik digital untuk memeriksa bukti elektronik.
- Analisis data dan pemetaan jaringan informasi.
- Komunikasi strategis dan penyampaian informasi yang akurat.
- Pengembangan teknologi serta pemanfaatan kecerdasan buatan.
Gagasan Cyber Army dalam tulisan ini merupakan kerangka konseptual mengenai kemampuan yang perlu dibangun, bukan pernyataan bahwa Indonesia telah memiliki satuan resmi dengan susunan dan kewenangan seperti yang digambarkan.
Kemampuan tersebut harus bekerja berdasarkan hukum, etika, akuntabilitas, dan pengawasan yang jelas.
Kekuatan digital bukan berarti negara atau masyarakat bebas memanipulasi informasi. Justru kekuatan itu harus digunakan untuk melindungi kebenaran, keamanan, dan kepentingan nasional.
10. GERILYA KOGNITIF: MEMBACA JARINGAN, MENJAGA KEDAULATAN PERSEPSI
Dalam kerangka Gerilya Kognitif, kita harus memahami bahwa pengaruh digital dapat dibangun oleh individu, kelompok, organisasi, maupun jaringan yang terkoordinasi.
Namun, tidak semua aktivitas digital merupakan ancaman. Tidak semua perbedaan pendapat adalah operasi pengaruh. Tidak semua akun otomatis merupakan alat manipulasi.
Kemampuan utama kita adalah membedakan aktivitas yang wajar dari perilaku yang sengaja dirancang untuk menyesatkan.
Dalam kerangka Perang Fondasi, persoalan ini berkaitan dengan tiga pilar:
ENERGI — menopang infrastruktur dan keberlangsungan sistem digital.
DATA — menyediakan bahan informasi yang harus dikumpulkan, diperiksa, dan dianalisis.
PERSEPSI — menjadi ruang tempat manusia membentuk penilaian, kepercayaan, dan keputusan.
Ketiganya saling berkaitan. Namun, pada akhirnya manusia tetap menjadi pusat pengambilan keputusan.
---
PENUTUP
Di era digital, pengaruh tidak selalu datang dari satu suara yang besar. Pengaruh dapat tumbuh melalui banyak suara, banyak akun, dan jaringan yang bergerak bersama.
Karena itu, masyarakat harus belajar membaca bukan hanya isi pesan, tetapi juga sumber, pola penyebaran, hubungan antarakun, dan tujuan di baliknya.
Dalam Gerilya Kognitif, mengenali jaringan digital adalah langkah untuk memahami siapa yang sedang membentuk persepsi kita. Mempertahankan kedaulatan berpikir berarti tidak membiarkan jumlah akun menggantikan kebenaran, dan tidak membiarkan popularitas menggantikan penilaian akal sehat.
REFERENSI
1. Meta, Q1 2025 Adversarial Threat Report, Mei 2025.
2. European External Action Service (EEAS), 4th Report on Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI) Threats, Maret 2026.