Profile

Iis Aisyah, Manajemen Pengusaha Tahu dari Sukabumi

Oleh : Abdi Lisa - Minggu, 23/04/2017 17:26 WIB

Sukabumi, INDONEWS.ID -- Iis Aisyah bukan pengusaha tahu sembarangan. Betapa tidak, selain memproduksi tahu dengan kualitas terbaik, yang terjaga kebersihan dan kesehatannya, Iis juga menjalankan usahanya dengan manajemen keuangan yang rapih. Setidaknya, dua hal inilah yang menjelaskan mengapa usahanya selama 19 tahun terus berjalan dan maju hingga saat ini. Iis Aisyah (58 tahun) tertarik menjadi pengusaha karena ingin memenuhi kebutuhan tetangga di sekitarnya. Baginya, seorang pengusaha harus mampu memberdayakan dan mempekerjakan masyarakat di sekitarnya. Iis, yang biasa dipanggil Bu Haji, dan tinggal di Jalan Tipar, Gang Meralaya III RT006/004 Kelurahan Tipar, Kecamatan  Citamiang, Kota Sukabumi ini mengawali dunia kerja dengan menjadi karyawati di Koperasi Tahu Tempe (KOPTI). Setelah 18 tahun bekerja di tempat tersebut, Iis pun memutuskan keluar dan menjadi pengusaha pada tahun 1998. Usaha dimulai ketika rumah kontrakan Bu Haji  diisi oleh seorang pengusaha tahu dari daerah Cimindi, Bandung. Selama dua tahun mengontrak rumahnya, Iis pun mengambil keputusan mengakhiri kontrak. Dia pun merenovasi rumahnya tersebut menjadi tempat produksi tahu. Setelah resmi berproduksi, Iis menjual sendiri tahu miliknya kepada para pedagang eceran. Dia membawa sendiri sampel tahunya tersebut dan berusaha meyakinkan mereka bahwa tahu produksinya memiliki kualitas yang bagus. Ternyata, banyak di antara pegadang tersebut menyukai tahu produksi Ibu Iis, dan sepakat untuk menerima dan menjualnya. Waktu berlalu, pelanggan tahu Ibu Iis pun semakin meningkat. Banyak di antara mereka yang mendatangi sendiri pabrik tahu buatan Bu Haji. Jika pada awalnya Bu Haji hanya memiliki 3 pegawai dan memproduksi 20 Kg kedelai untuk diolah menjadi tahu, maka saat ini Iis telah memiliki 18 karyawan dan mampu memproduksi 600-800 Kg kacang kedelai per hari. Menariknya, seluruh karyawan merupakan warga sekitar pabrik. Seperti bisnis lainnya, bisnis tahu Ibu Iis juga mengalami naik turun. Pelanggan tahunya juga tidak tetap. Di tengah fluktuasi pasar tersebut, Iis melakukan strategi jitu, yaitu membina dan menjaga hubungan baik dengan pelanggan setianya. Di tengah musim “paceklik”, kualitas tahu Bu Haji juga tetap terjaga. Baginya, kualitas produksi berada di urutan paling atas dalam menjalankan roda bisnis. Tahu produksi Ibu Iis terjaga kebersihan dan kesehatannya. Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Parman Nataatmadja mengatakan, salah satu keunggulan pola manajemen yang diterapkan Bu Haji yaitu seluruh transaksi dalam proses produksi dicatat dengan pembukuan sederhana yang baik. "Seluruh catatan pembukuan beserta bukti transaksi keuangan disimpan dengan baik. Hal tersebut sangat membantu untuk mengetahui kondisi keuangan usaha dan menghindari terjadinya kecurangan yang bisa saja dilakukan pihak internal dan eksternal perusahaan," ujarnya. Hal inilah yang membuat Ibu Iis terpilih sebagai salah satu penerima "Kartini Masa Kini 2017" yang diselenggarakan media online INDONEWS.ID, pada 26 April 2017. Pada tahun 2000, bisnis Ibu Iis sempat anjlok. Hal itu lantaran tahu yang diproduksi cepat basi dan berbau. Karena itu, sebagian besar pelanggan mengembalikan tahu tersebut. Bisnis Iis pun mengalami kerugian besar, mencapai Rp 60 juta rupiah. Kondisi itu berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 3 bulan. Berbagai upaya dilakukan, termasuk melakukan pengecekan kandungan air pabrik tahu di laboratorium. Alhasil, pengecekan di laboratorium menunjukan kadar air pabrik dalam kondisi baik dan sehat. Namun kemudian ditemukan bahwa kondisi tersebut terjadi karena adanya kebocoran pipa PDAM yang menyebabkan terkontaminasinya air PDAM  dengan air got (pembuangan). Hal inilah yang menyebabkan tahu menjadi bau dan cepat basi. Sejak itulah, Bu Haji sangat memperhatikan kualitas air dan kebersihan pabriknya. Dia memutuskan membuat sumur bor sendiri, untuk memastikan kualitas air tetap terjaga. Dengan usahanya tersebut, Bu Haji mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan tinggi. Usaha Ibu Iis juga telah banyak membantu warga sekitarnya. “Yang menjadi kunci keberhasilan saya dalam mengembangkan usaha adalah ketekunan. Saya harus tekun bila ingin mencapai tujuan, saya jalani ikhlas, tidak cengeng dan tidak menyerah. Dan kunci keberhasilan saya dalam berusaha adalah kerja keras dan tidak kenal lelah. Saya ingin sukses tanpa menggantungkan kepada suami apalagi orang lain dan saya juga ingin menyayangi keluarga, menolong orang yang tidak mampu dan sodaqoh dari hasil usaha saya,” ujarnya. Mengingat usianya yang tidak mudah lagi, Bu Haji berharap usahanya bisa dilanjutkan anak-anaknya. “Saya ingin mewariskan usaha ini kepada anak saya, sehingga diharapkan dengan dikelola oleh anak muda, maka usaha dapat makin berkembang, karena prospek usaha sangat baik. Produksi tahu dapat dilakukan setiap hari tanpa mengenal musim, pangsa pasar tahu sangat luas dan prospektif,” ujarnya optimistis. Bu Haji berharap usahanya terus tumbuh dan membawa kebaikan kepada warga sekitar. (Very)    
TAGS :

Artikel Terkait