Pengamat Nilai Reuni Akbar Alumni 212 Bermuatan Politik

Oleh : hendro - Jum'at, 16/11/2018 19:31 WIB

Pengamat Institut Demokrasi Republikan, Subairi Muzakki

Jakarta, INDONEWS.ID - Pengamat Institut Demokrasi Republikan, Subairi Muzakki menilai Reuni Akbar Alumni 212 yang bakal digelar pada Desember 2018 mendatang bermuatan politik.

"Ada banyak tujuan (dari Reuni Akbar Alumni 212), yang salah satunya politik," ujar Subairi dalam diskusi bertema `Reuni Akbar Alumni 212: Melacak Motif, Menimbang Implikasi` di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (16/11/2018). 

Menurut Subairi, banyak alasan mengapa acara tersebut memiliki kepentingan yang sifatnya politis. Terutama dalam hal dukung-mendukung di Pemilu Presiden (Pilpres). 

"Kata Novel (Bamukmin) ini reuni 212 tidak ada muatan politik, walaupun nanti ada salah satu capres-cawapres (calon presiden dan calon wakil presiden) yang akan datang," ucapnya. 

Panitia penyelenggara seperti Slamet Maarif, imbuh Subairi merupakan sosok yang tergabung dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai wakil ketua. Novel juga merupakan calon anggota legislatif Partai Bulan Bintang. Hal ini dinilai semakin menegaskan adanya motif politik dalam perhelatan Reuni Akbar Alumni 212. 

Subairi memandang, kubu Prabowo-Sandi yang nantinya bakal diuntungkan dalam penyelenggaraan Reuni Akbar Alumni 212. Kendati Joko Widodo (Jokowi) sendiri merupakan orang yang hadir pada Aksi Bela Islam 212, sehingga bisa disebut alumni, serta Ma`ruf Amin yang mengeluarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menjadi dasar aksi tersebut dilakukan. 

"(Reuni) ini menguntungkan pihak Prabowo. Itu diakui oleh Novel, kalau tidak salah, salah satu maksud tersembunyi untuk mendukung Prabowo. Karena 212 sejak awal ingin menurunkan Jokowi yang mendukung para penista agama, terutama Ahok. Siapapun musuh Jokowi akan dia dukung, kebetulan saat ini Prabowo-Sandi," tandasnya.(hdr)

Artikel Terkait