Nasional

Kabinet Petarung

Oleh : very - Selasa, 02/07/2019 07:41 WIB


Muhammad Isnaini adalah Warga Kota Semarang. (Foto: Ist)

Oleh: Muhammad Isnaini *)

KEPUTUSAN Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruh gugatan Kubu Paslon 02, Prab owo – Sandi, menyudahi sengketa Pilpres di lembaga tertinggi negeri ini. Artinya bawah Paslon 01, Joko Widodo – Ma’ruf Amin secara sah memenangkan Pilpres 2019 dan dinyatakan sebagai Presiden – Wakil Presiden Periode 2019-2024. Bagi Jokowi, ini merupakan catatan sejarah Seorang Anak Bangsa menggapai prestasi pesta demokrasi.

Dimulai Tahun 2004 menjadi Jawara Pilwalkot Solo bersama FX Hadi Rudyatmo yang dilanjutkan Periode ke-2 di Tahun 2010. Hanya 2 tahun mengabdi, Jokowi naik betarung di Pilgub DKI 2014 berpasangan dengan Ahok menghadapi Petahana Foke. Kembali Jokowi meraih kemenangan menjadi Orang Nomor Satu di DKI Jakarta. Hanya 2 tahun juga, Jokowi diajukan PDIP bersama Jusuf Kala, maju di ajang Pilpres 2014 dan lagi-lagi menang. Mengalahkan Prabowo – Hatta Rajasa. Dan untuk kedua kalinya, Jokowi kembali mengalahkan Prabowo. Pilpres 2019 ini menjadi catatan kegemilangan ke-5 selama berkarier politik di Bumi Pertiwi.

Lantas bagaimana  pria asli Solo ini akan mewujudkan cita-citanya untuk 2019-2024?

 

Bukan Perkara Mudah

Bukan asal bicara jika Jokowi sejak awal kampanye memberi prioritas sangat utama dan penting sisi SDM. Dalam berbagai kesempatan, Presiden RI ke-8 ini menyikapi lemahnya kualitas SDM dihadapkan pada kecepatan perkembangan dunia.

“Saya ingin kita menjadi Indonesia Juara !” Begitu kira-kira singkat kata cita-cita Jokowi dalam 5 tahun mendatang kepemimpinannya berduet dengan Kyai Ma’ruf Amin.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam benak Jokowi yang kemudian diekspresikan dalam bentuk slogan Indonesia Juara dan pasti akan menjadi nomenklatur visi-misi serta program kerja kabinet, jauh dalam hatinya terpendam keprihatinan mendalam.

Mengangkat kualitas SDM dengan kondisi keberagaman begitu banyak, bukanlah perkara mudah. Bukan sebatas soal kata-kata manis. Butuh dialektika keilmuan yang mesti menjadi fakta nyata kerja kabinet mendatang. Keberagaman atau filosofisnya, ke-Bhineka-an Merah Putih, tidak akan selesai dengan cara-cara teoritik dan jargon. Apalagi membawa-bawa mobil komando di jalanan. Tidak akan menyelesaikan !

Dialektika keilmuan yang berbasis kesadaran para elit penyelenggara eksekusi kebijakan Jokowi dalam 5 tahun mendatang, mesti memiliki standar minimal karakter “Jokowi”. Dalam era kepemimpinannya sebagai Walikota, Wong Solo selalu menyebut “Jokowi Banget”. Jika ada kepala dinas, kepala badan atau kepala kantor di lingkungan Pemkot Solo waktu itu yang selalu salah menterjemahkan kebijakan walikota berarti tidak “Jokowi Banget”. Wong Solo menyematkan predikat itu untuk menghaluskan kata dan kalimat dari sebuah gambaran “ketidakmampuan” pejabat ybs mengikuti langkah visioner Seorang Jokowi.

Tantangan menjadi semakin tidak mudah bagi para pembantu di kabinet nanti jika nafas kerjanya tidak se-hela-an Jokowi. Apakah itu ?

 

“Bersih – Merakyat – Kerja Nyata”

 “Bersih” jelas maknanya. Jabatan bukan untuk menguatkan ambisi pribadi dan kelompoknya. Untuk satu kata yang menjadi tagline kampanye Jokowi – Ma’ruf di Pilpres 2019 sudah dimulai dengan action Menkeu Sri Mulyani. Di depan seluruh stafnya, Menteri Terbaik Jokowi ini luga menyatakan tidak ingin di dalam jajarannya, mulai staf hingga eselon di level mana pun di kementeriannya yang membawa kepentingan pribadi, kelompok dan kemudian menutup diri hanya untuk jaringan kelompoknya alias  eksklusifisme.

“Merakyat”. Kata yang satu ini memang harus diakui hanya Jokowi yang bisa menerjemahkan tanpa ada niatan pencitraan. “Kalau hujan ya bawa payung. Kalau hujan lantas agar dikatakan merakyat, Seorang Kepala Negara hujan-hujanan hasilnya ya masuk angin. Itu bukan lagi merakyat tapi cari perkara selain jelas-jelas pencitraan. Bukan juga lantas masuk kolong bus untuk cek persiapan Angkutan Lebaran. Berlebihan-lah cari sensasi berita media itu. Apalagi membawa rombongan wartawan di setiap kunjungan. Selain boros anggaran juga mematikan wartawan lokal…,” ujar seorang Aktifis 98 yang juga seorang cendekiawan muda NU.

Soal “Kerja Nyata”, jelas selama 5 tahun Periode Pertama, sekian realisasi pembangunan sudah dirasakan bersama. Bukan saja infrastruktur besar-besaran tetapi masalah pencapaian sebagian program kerja kerakyatan dituntaskan Jokowi – Kalla. Di jajaran menteri, selain Menteri Basuki, yang cukup galak dalam hal “Kerja Nyata” adalah Menteri Susi. Belakangan bukan berhenti menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan di Lautan Nusantara, tetapi sudah memasuki proses pengejaran ke pemilik kapal-kapal asing tersebut.

Standar tinggi menyangkut kinerja para menteri di kabinet mendatang menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Harus banyak menteri seperti Sri Mulyani, Basuki dan Susi. Jokowi sendiri sudah memberi sinyal akan kebutuhan pembantu-pembantunya yang memiliki karakter lapangan alias eksekutor.

Jika lebih dijabarkan sedikit komplit, Jokowi butuh figur menteri petarung, eksekutor dan manajer handal. Sehingga peristiwa meninggalnya seorang tenaga perawat asal Kota Palopo, Sulawesi Selatan yang mengabdi di Kampung Oya, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat, Patra Marina Jauhari, secara mengenaskan tak lagi terjadi. Jika di Jepang dimana budaya rasa malu sebanding besarannya dengan rasa nasionalisme, peristiwa memilukan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat pejabat terkait mundur berjama’ah. Dari tingkat pusat hingga daerah.

 

Keringat Kemenangan

Jokowi sadar….sesadar-sadarnya bahwa kemenangan di Pilpres 2019 membawa konskuensi besar. Pertaruhan 03 yakni Persatuan Indonesia menjadi paling hakiki di hati Jokowi. Maka tak heran jika saat-saat terakhir menjelang coblosan, di depan Makam Rasululloh, Manusia Paling Mulia di muka bumi, hanya satu yang diucapkan dalam doa Jokowi, yakni Selamatkan Indonesia!

Keringat kemenangan harus dibayar Jokowi – Ma’ruf dalam 5 tahun mendatang untuk mengembalikan kekuatan ke-Bhineka-an Indonesia. Bagaimana Jokowi begitu “disayang” Presiden Afganistan, Ashraf Ghani sembari mengingatkan agar Merah Putih tidak terkoyak oleh kelompok oprtunis kapitalis. Mengincar kekayaan alam Indonesia dengan topeng Politik Identitas dan Pemurnian Agama.

Bahwa perbedaan begitu terpampang dari Tanah Rencong hingga Tanah Papua, butuh “tangan kuat” kepemimpinan Seorang Kepala Negara. Kejadian di Afghanistan yang disebut Ibu Negara Rula Ghani bahwasanya Afghanistan kini bukan saja kacau oleh perang saudara tak berkesudahan tetapi juga mengalami kemunduran peradaban 40 tahun. Semua gara-gara cekcok tak berujung nalar 4 Suku Bangsa terbesar di negeri itu, tentu tak ingin dialami Jokowi di negeri yang sangat dicintainya, Indonesia. Tidak untuk 5 tahun, 10 tahun tapi untuk selamanya.

“Ada 4 elemen kuat yang membuat Jokowi kembali mengalahkan Prabowo di Pilpres tahun ini.  Dua unsur tak perlu saya sebutkan karena sudah jelas. Dan lebih karena kepentingan kelompoknya yang kebetulan terpersonifikasi dalam diri Jokowi. Dua unsur lain saya katakan merupakan penyangga pengaman kemenangan. Adalah kelompok relawan militan dan kelompok Golput.

Detik-detik akhir, unsur terakhir ini menyatakan membatalkan kebiasaan tak memilih selama ini dan memilih berpergian tamasya ke luar negeri atau memang tak memiliki sense of Pilpres, kali ini berbondong-bondong ke TPS mencoblos 01. Termasuk yang cukup signifikan adalah kelompok milenial di unsur Golput ini.

Kalau kelompok relawan militan, yang perlu menjadi catatan Jokowi adalah bahwa mereka ini bekerja konsisten sejak 2014 bahkan sejak 2012 bahkan untuk Pilpres kali ini, bekerja melampaui batas kemampuan! Ini perlu menjadi catatan agar tidak mengecewakan. Karena kelompok ini tidak akan berhenti di 2024. Kelompok ini melihat adanya bahaya mengancam bangsa jika Jokowi kalah, ” kata seorang Doktor Metodologi dan Kebijakan Publik dalam diskusi tertutup di Cikini, baru-baru ini.

Jokowi menyadari sepenuhnya akan kondisi yang mengantarkan dirinya menjadi Presiden RI ke-8. Sehingga ditegaskan bahwa dirinya tak memiliki beban masa lalu. Jadi tidak akan ragu mengambil kebijakan miring-miring dan tak populis. Pria yang sering mengucap kata “keliru” dengan “kleru” ini juga sepenuhnya sadar akan pesan Ashraf Gani maupun Rula Ghani.

Sudah tidak ada ruang bagi Presiden Terpilih 2019-2024 untuk membuat kapling kompromi politis. Kalau pun sekarang banyak tersebar di medsos susunan rapi kabinet mendatang, paling Jokowi hanya senyum-senyum saja. Namun singgungan Jokowi di depan Forum HIPMI maupun Aktivis 98 kemarin, bukan isapan jempol. Figur-figur muda petarung akan menempati Grade A dalam penyusunan kabinet nanti. Bahwa ada Ketua Parpol yang anti koalisi karena takut jatah menteri bagi Parpol-nya berkurang, mungkin Jokowi hanya memperhatikan sekilas. Tak bakalan menjadi hal yang paling diperhatikan. Tapi kebutuhan meletakkan kekuatan SDM di Bumi Pertiwi untuk Merah Putih Abadi akan mengalahkan semua pertimbangan ketika menentukan nama menteri masuk dalam Kabinet Petarung.

Satu hal dari implikasi SDM menjadi prioritas kerja Jokowi – Ma’ruf Amin 5 tahun mendatang sesungguhnya merupakan pengejawantahan keinginan untuk menjadikan rakyat sadar akan anugerah yang dimiliki Indonesia. Kesadaran akan peran ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi kekuatan menguasai dunia. Sekaligus ini adalah bentuk upaya menyadarkan bahwa kekayaan alam Indonesia hanya bisa “diamankan” oleh derajad kemampuan SDM yang mumpuni. Jika tidak maka selamanya Indonesia akan menjadi pasar bukan pelaku pasar.

“Karena sebenarnya kekayaan kita sangat cukup untuk memakmurkan kita semua. Sadar tidak kita ini sangat kaya raya! Tetapi kalau rakyat tidur saja maka jangan salahkan kalau nanti kita hanya akan terus jadi penonton yang tidak mampu menentukan arah bola. Dengan SDM unggul atau juara kalau istilah Jokowi, bangsa ini tak mudah dihasut dengan info sampah di medsos. Tidak pula mudah terbakar hanya karena provokasi atas nama agama! Kecerdasan karena ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi muaranya adalah SDM. Ujungnya di mana sebenarnya?

Nah…Jokowi ini ingin mewujudkan Pasal 33 UUD 45. Saya yakin Jokowi mampu! Kebersihan dan ketulusan pribadinya menjadi dasar dia akan melakukan semua yang diperlukan untuk Indonesia dan Rakyatnya. Jiwanya sangat kuat untuk rakyat! Untuk satu hal ini, dia tidak bisa dihentikan!” tegas Almarhum H Made Indra Nirwan Zakir, Ketua Umum Relawan 2 Periode.

*) Muhammad Isnaini adalah Warga Kota Semarang

Artikel Lainnya