Nasional

Audisi Djarum Foundation Sebaiknya Diubah Jadi Audisi Badminton Berprestasi

Oleh : very - Senin, 09/09/2019 11:01 WIB


Ketua Indonesia Child Protection Watch, dan Komisioner KPAI Periode 2014 – 2017, Erlinda. (Foto: wikiparlemen)

Jakarta, INDONEWS.ID – Permasalahan rokok dan tembakau masih kontroversial di Indonesia, terutama terkait dengan lapangan kerja dan pajak. Hampir sama sulitnya dengan masalah pelanggaran HAM yang penyelesaiannya harus disesuaikan dengan banyak hal.

Karena itu, para pemerhati anak di Indonesia pun merasa prihatin atas polemik audisi Bulutangkis yang diselenggarakan oleh PB Djarum.

“Kedua belah pihak sebenarnya sama bagusnya namun ada hal yang belum tercapai kesepakatan mengenai masalah ‘ksploitasi anak’. Masyarakat sebaiknya diberikan pemahaman yang jelas dan komprehensif terkait eksploitasi pada Anak,” ujar Ketua Indonesia Child Protection Watch, dan Komisioner KPAI Periode 2014 – 2017, Erlinda, melalui siaran pers di Jakarta, Senin (9/9).

Wasekjen Syarikat Islam dan Humas Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) ini mengatakan, sudah ada indikator yang menyatakan bahwa audisi yang dilakukan oleh PB Djarum merupakan tindakan eksploitasi.

“Secara harfiah sudah sangat jelas pengertian eksploitasi anak sesuai dengan UU Perlindungan Anak,” ujar mantan anggota KPAI ini.

Karena itu, katanya, segera pihak yang bisa memediasi agar PB Djarum dan KPAI mempunyai titik temu dan punya solusi yang terbaik untuk kepentingan anak dan Bangsa Indonesia serta Olahraga Bulutangkis.

Sejak lahir, kata Erlinda, setiap anak mempunyai bakat minat dan kekayaan intelektual yang diberikan Tuhan berbeda. Minat Bakat dan intelektual sebaiknya distimulasi dan dikembangkan sedari kecil agar dapat optimal pada tumbuh kembangnya.

Namun di lain pihak, olahraga Bulutangkis merupakan salah satu cabang yang membuat nama Indoensia dikenal dunia. Banyak anak Indoensia yang mempunyai minat bakat Bulutangkis namun dikarenakan ketidakmampuan ekonomi berakibat matinya bakat dan masa depan mereka.

Dan, audisi yang dilakukan oleh PB Djarum hanyalah salah satu usaha untuk memberikan jalan bagi mereka yang berbakat dan mengembangkan karir. Apabila ada konflik dikarenakan regulasi sebaiknya ada solusi terbaik untuk anak dan Olahraga Bulutangkis sebagai salah satu media mengembangkan minat bakat serta karir sekaligus mengharumkan nama bangsa.

“Salahsatu solusi alternatifnya adalah mengubah nama kegiatan Audisi Djarum Foundation menjadi Audisi Badminton Berprestasi atau dalam bentuk lain dan tidak menggunakan nama merek dagang dan logo termasuk brand image produk tembakau/iklan, promosi, dan sponsorship (IPS) (pasal 36 PP 109 tahun 2012 ayat (1) dan (2)),” ujarnya.

Point penting lain, kata Erlinda, adalah Pemerintah sangat fokus pada pembinaan minat bakat disemua jalur (formal informal non formal dll) dan itu semua terbukti dengan adanya pencanangan Badan baru yang digagas oleh Pemerintah yaitu Badan Nasional Talenta.

Selain itu, olahraga Bulutangkis merupakan salah satu cara untuk menyembuhkan ketergantungan narkoba, membantu anak-anak berkebutuhan khusus dan menjadi salah satu therapy. Karena itu Erlinda mengimbau berbagai pihak untuk bergandeng tangan dan membuka hati agar kita semua bisa berikan yang terbaik dan selamatkan anak Bangsa.

Pekerjaan rumah tentang pemenuhan dan perlindungan anak sangat banyak apalagi kejahatan Cyber Crime menyisakan pemikiran serta kejahatan anak secara nyata didepan mata baik itu arkoba, pornografi, kekerasan seksual, radikalisme, dokrin penyimpangan pemahaman tentang agama dll.

"Semoga polemik ini tidak ditunggangi oleh oknum kelompok `nakal` akibat persaingan binsis tembakau sedang bergejolak di beberapa negara," pungkasnya. (Very)

 

Artikel Lainnya