Bisnis

Rizal Ramli: Rasio Utang Negara Membengkak, Kelola Ekonomi Makro Masih Amatiran

Oleh : very - Senin, 24/02/2020 14:18 WIB

Ekonom Senior, Rizal Ramli. (Foto: RMOL)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Rasio utang negara per Januari 2020 kembali membengkak. Nilainya mencapai Rp 4.817,55 triliun, atau setara dengan 30,12 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Rasio utang yang membengkak ini mendapat tanggapan dari Menteri Koordinator Bidang Ekonomi pada masa Presiden Gus Dur, Dr. Rizal Ramli.

"Banyak yang berkata,` terserah deh pemerintah dan BUMN mau ngutang jorjoran. Toh ndak ada hubungan dengan saya`. Pernyataan itu benar selama utang itu dalam batas wajar," kata tokoh yang biasa disapa bang RR ini sepeti dikutip RMOL, Sabtu (22/2).

Namun demikian, ekonom senior ini menyatakan bahwa kebijakan utang pemerintah tersebut tidak wajar. Sebab, hal ini berdampak pada stabilitas perekonoimian masyarakat dan industri.

"Tetapi kalau berlebihan seperti saat ini, ada `crowding-out effect`," ujarnya.

Lebih lanjut, pendiri Komite Bangkit Indonesia ini memberikan contoh riil dari kebijakan utang pemerintah yang berlebihan. Katanya, kebijakan untang itu membuat pertumbuhan kredit di Indonesia pada akhir tahun 2019 seret, karena hanya mencapai 6,08 persen. Padahal, jika dibandingkan tahun 2018 angkanya jauh tertinggal, yakni mencapai 11,7 persen secara tahunan.

"Kalau ekonomi normal kredit tumbuh 15-18 persen per tahun," ujar Rizal Ramli.

Hal ini, lanjut doktor ekonom Universitas Boston Amerika Serikat itu, bakal dirasakan dampaknya oleh masyarakat dan industri domestik. Karena, setiap kali pemerintah menjual Surat Utang Negara (SUN), ada 30 persen dana pihak ketiga di lembaga keuangan yang akan tersedot keluar.

"Karena bunganya (yang harus dibayarkan pemerintah) 2 persen lebih mahal dari deposito. Dan itu dijamin 100 persen," ungkap RR.

Oleh karena itu, ditegaskannya, kondisi perekonomian RI masih terus stagnan, atau bahkan cendrung menurun ke depannya.

"Itulah mengapa uang susah, daya beli anjlok, bisnis susah. Baru mulai sadar deh, ternyata utang jor-joran pemerintah ada penguruhnya terhadap daya beli dan bisnis. Ini gara-gara kelola ekonomi makro amatiran," pungkas Rizal Ramli. (Very)

Loading...

Artikel Terkait