Bisnis

Dikritik Rizal Ramli, Bank Dunia Pernah Mengaku Salah Memprediksi Perekonomian RI

Oleh : very - Sabtu, 04/07/2020 17:30 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID -- Pujian Bank Dunia terhadap Indonesia pernah dianulir gara-gara kritik yang disampaikan begawan ekonomi, Dr. Rizal Ramli.

Ketika itu, sebelum krisis moneter (Krismon). Tepatnya terjadi dalam sebuah pertemuan dengan Presiden Bank Dunia, James D. Wolfenshon, di Jakarta, 4 Februari 1998.

Rizal Ramli yang ditemani Ali Sadikin, Emil Salim, Faisal Basri, Anggito Abimanyu, Bambang Widjojanto, Gunawan Muhammad dan sejumlah tokoh aktivis lainnya, menyampaikan petisi terhadap Bank Dunia di Indonesia.

Petisi tersebut disampaikan Rizal Ramli dan teman-teman di depan James D. Wolfenshon. Rizal Ramli secara tegas meminta Bank Dunia agar menjadikan kunjungan kerjannya ke Asia Timur untuk mengkampanyekan reformasi sistem keuangan dunia.

"Bank Dunia telah menyerukan reformasi luas yang mencakup keuangan daerah dan sektor industri, rezim perdagangan, utang luar negeri, dan lembaga pemerintah. Reformasi ini harus mendorong keterbukaan, transparansi, dan akuntabilitas yang lebih besar," kata Rizal Ramli seperti dikutip RMOL.ID.

Setelah itu, barulah RR menyampaikan kritikannya atas sikap Bank Dunia yang selalu memberikan pujian bagi pengelolaan keuangan Indonesia. Padahal menurutnya, pemerintahan orde baru (Orba) telah membuat ekonomi negara ini ambruk karena tidak menerapkan akuntabilitas dan transparansi keuangan.

Mantan Menko Perekonomian itu juga memperingatkan Bank Dunia agar tidak menganakemaskan Indonesia mengingat capaian defisit neraca berjalan pra krismon sudah sangat besar. Juga nilai tukar rupiah yang sudah mulai menanjak tinggi.

Karena itu, Menteri Ekonomi, Keuangan dan Industri (Ekuin) era Presiden Gus Dur ini mengatakan, krismon di Indonesia sangat merusak kredibilitas Bank Dunia.

Pasalnya, kata Bang RR –demikian dia biasa disapa - melihat Bank Dunia tidak kritis dengan kebijakan keuangan pemerintah Indonesia yang kurang dalam penegakan hukum.

"Namun Bank Dunia dalam tinjauan kebijakan 1997-nya, yang dirilis hanya sebulan sebelum dievaluasi oleh Thailand. Dan bahkan sampai akhir Juli 1997, masih mengambil pandangan optimis prospek ekonomi Indonesia," ujar Rizal Ramli di hadapan James D. Wolfenshon.

Perlakuan istimewa Bank Dunia terhadap elit keuangan Indonesia itu,  yang meyakinkan para investor dalam dan luar negeri bahwa dana pinjaman yang digelontorkan bisa kembali beserta bunganya. Namun nyatanya Indonesia mengalami krisis moneter. Sehingga kata RR, Bank Dunia telah menyesatkan banyak pihak.

"Dengan mempromosikan argumen bahwa `semuanya baik dan baik-baik saja`, Bank Dunia telah menyesatkan investor domestik dan asing. Bank Dunia juga gagal menghubungkan pinjaman sektor keuangan dengan peningkatan pengawasan, dan pengawasan di atas sektor perbankan yang ekspansif," ujarnya.

Selain itu, Rizal Ramli juga membongkar praktik hubungan yang saling menguntungkan antara pejabat Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia.

Misalnya, kata RR, Bank Dunia sangat gembira dengan Menteri RI kala itu yang ingin mengembangkan proyek baru dan menerima kewajiban pinjaman baru, meskipun dalam implementasinya sering terjadi penyelewengan dana rutin.

Bobroknya, Bank Dunia seolah bersekongkol dengan para menteri Presiden Soeharto untuk menutupi beban utang yang semakin meningkat, dan setuju untuk tidak membuka secara rinci dari implementasi proyek yang dijalankan.

"Contoh yang sangat mengerikan dari hal ini adalah ‘Bank Poverty Study of Indonesia’ milik Bank Dunia 1990. Ketika pemerintah menolak analisis awal, Bank Dunia setuju untuk merevisi angka-angka tersebut, dan setuju menurunkan angka kemiskinan sebesar 60 persen," ujar RR.

Atas dasar itulah, kemudian RR menuntut Bank Dunia, terutama James D. Wolfenshon untuk menunjukkan informasi portofolio Bank Dunia di Indonesia secara lengkap. Termasuk pengawasan dan laporan evaluasi dan perincian keuangannya.

"Bank Dunia harus menunjukkan pentingnya akuntabilitas dan mengakui perannya sendiri dalam perumusan kebijakan Indonesia sebelum krisis keuangan. Bank Dunia harus menerima tanggung jawab penuh atas penyimpangan keuangan yang berkaitan dengan proyek," ujarnya.

Usai mendengar kritikan pedas RR, James D. Wolfenshon mengakui kesalahan yang diperbuat organisasinya, karena terlalu optimistis dalam memprediksi perekonomian Indonesia, yang berimbas pada krisis ekonomi berkepanjangan.

"Saya di sini (di Jakarta) setahun yang lalu. Dan saya terperangkap dalam antusiasme. Saya tidak sendiri dalam melihat ekonomi Indonesia yang beberapa waktu sebelumnya bagus," ujar James D. Wolfenshon waktu itu. (Very)

Loading...

Artikel Terkait