Nasional

Buku "Lambaian Tangan Seorang Koruptor" Resmi Terbit, Apresiasi dari Sejumlah Tokoh dan Kalangan Mengalir

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 13/10/2020 10:30 WIB

Buku berjudul "Lambaian Tangan Seorang Koruptor" Karya Krisogonus Dagama Pakur atau yang biasa dipanggil Risno Pakur. (Foto: Collage)

Jakarta, INDONEWS.ID - Buku bertajuk "Lambaian Tangan Koruptor" karya Mahasiswa Magister Hukum Trisakti, Krisogonus Dagama Pakur atau yang biasa dipanggil Risno Pakur resmi terbit.

Buku bertebal 805 halaman ini dimulai dengan menyoroti peran dan posisi mahasiwa sebagai penggerak perubahan; yg secara jujur harus kita akui seyogianya tidak boleh lelah; apalagi dikooptasi oleh kelompok kepentingan manapun dalam mendorong hapusnya prilaku korup para pejabat di negeri dengan ideologi pancasila ini.

Demikian diuraikan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015-2019, Saut Situmorang M.M, Phd dalam memberikan pengantarnya terhadap buku ini.

Dalam upayanya membedah buku ini, Saut menegaskan betapa sulitnya mendorong penguasa dan Penyelenggara Negara (PN) untuk
merobah nilai anti korupsi yang ada dalam benak mereka hingga berujung pada pengalaman kelam sekaligus kebangkitan bagi bangsa ini beberapa puluh tahun silam yakni reformasi 1998 yang harus menelan banyak korban jiwa dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa.

"Produk 1998 itu yang paling utama adalah Ketetapan MPR tentang prilaku KKN. Pada point ini tentu kita berharap (paling tidak berdoa)
agar kekuatan besar mahasiswa masih tetap tidak bisa dibeli. Atau kalau tidak reformsi akan terhenti karena dikorupsi," tulis Saut.

Pada Chapter berikutnya Krisogonus Dagama Pakur, selanjutanya disingkat KDP, mengurai secara rinci tentang peran dan Integritas Aparat
Penegak Hukum (APH) dalam menegakan Criminal Justice System (CJS) sehingga masalah rasisme bisa dihindari.

Di bagian lagi, KDP juga menyoroti secara cermat tentang prilaku korupsi TSK yang menurutnya tentu mengganggu perasaan yang sudah memang terluka sejak awal. Lambaian tangan yang seharunsnya ada dalam lagu "Selamat Tinggal Teluk Bayur", malah sering menghiasi halaman media.

"Walau ini bisa diperdebatkan
juga mengapa mereka melambaikan tangan. Namun sisi lain dari nada lagu lambaian tangan TSK Tipikor itu disorot, karena ada framing bahwa mereka tidak menyesal, hukuman ringan, belum dimiskinkan, belum mengungkap semua pihak terkait kasus, dan belum membuka intelektual dader dan lain-lain banyak anggapan" beber Saut.

Karena korupsi masuk dibanyak ruang dan waktu, ini yang dimaksud penulis tentang banyak modus dalam TIPIKOR. Pada bab selanjutnya dibahas tentang penguasa yang tidak firm
melaksanakan penghapusan prilaku KKN. KDP secara tersendiri memuat kekawatirannya tentang matinya upaya pemberantasan korupsi yang ditandai dengan kehadiran Dewas KPK sebagai lonceng kematian pemberantasan korupsi di Indonesia.

Apresiasi dari sejumlah tokoh mengalir atas diterbitkannya buku ini di antaranya Wakil Ketua KPK periode 2007-2011, Prof Haryono Umar, M.Sc.,Ak.,C.A. Prof Umar mengatakan buku ini menuntun pembaca (terutama milenial) untuk kembali meneguhkan keyakinan dan semangat untuk bersama-sama peduli akan persoalan bangsa yakni korupsi.

"Ringannya sanksi hukum dan uang pengganti menjadikan korupsi tetap rampant (marak) meskipun berbagai upaya penindakan sudah dilakukan. Buku ini mengulas berbagai fenomena penegakan hukum dalam tidak pidana korupsi untuk menjadi bahan diskursus generasi milineal," ungkap Prof Umar.

`Buku yang dan tajam mengungkapkan permsalahan Korupsi di Indonesia dan berbagai upaya pencegahan dan pemberantasannya," Aloys Wisnuhardana, Kantor SM Presiden Republik Indonesia.

`Saya melihat buku dapat mengambil contoh di setiap zaman praktik korupsi yang ada di Indonesia. Dan buku ini berani membedah korupsi apa saja dan hal-hal yang masih menjadi simpang siur kebenann praktik korupsi di Indonesia," Muhamad Milo Rlzky Aqsa Mum DPRD Prov Sumut Komisi XI.

“Baku ini menarik dan penting untuk dibaca oleh siapapun karena ia membahas bahaya korupsi Dan jejaring korupsi yang tidak bergeser jauh sejak orde baru hingga reformasi kini. Declaration Of 8th International Conference Against Corruption di Lima (Peru) September 1997, sudah menyebut dengan amat tegas bahwa korupsi tidak hanya mengamcam eksistensi suatu negara, namun juga mengerosi tantanan moral manusia," Men Pol (Pam) Drs. Yakobus Jacky Uly, MH.

”Pada dasarnya negara dibentuk adalah untuk memenuhi rasa aman dan kesejahteraaan rakyatnya. Namun kenyataannya lndonesia selalu gaduh dengan korupsi yang disebabkan oleh rendahnya moral dan dan minusnya keteladanan dari para pemimpin bangsa. Kepemimpinannya yang tumbuh saat ini, hanyalah berebut kekuasaan hingga berdarqh-darah. Makanya tak ayal pemimpin kita telah kehilanga responsbility, sense of proportion maupun feeling untuk mengartikulasikan kepentingan rakyat akan terciptanya keadilan sosial," Luthfie Jaya Kurniawan, Malang Corruption Wacth.

`Buku tulisan sang pejuang Risno Pakur ini bener-bener memotivasi kaum muda untuk ambil bagian dalam memajukan pembangunan negara, serta memberantas karupsi, kolusi dan nepotisme,"
Dorotea Moni Stelmachowsko, S.Pd., MA. Lecturer of Moderm and Literature Faculty of Neophyology Adam Mickiewick University.

”Buku ini adalah buku yang luar biasa berisi tentang pandangan seorang aktivist idealis dalam pemberantasan korupsi dan harapan perubahan dalam penegakkan hukum di Indonesia. Jiwa dan semangat yang terkandung dalam buku ini menverminkan sikap, pandangan dan intgritas seorang KDP yang memperjuangkan niIao-nilai keadilam dalam masyarakat," Hendra Onggowllaya, S. H., MM Advokat.

"Saya memandang `Buku Lambaian Tangan Koruptor ini sebagai kritik yang disertai rasa gemas, sesal dan pedih dirasakan oleh seorang anak muda bernama krisogonus Dagama Pakur saat menyaksikan bagaimana para pelaku tindak pidana korupsi melakukan kejahatannya," Retno Kusumastuti, Konsultal Komunikasi Litigasi.

"Salute untuk penulis! Kegagalan Pemerintah memberantas korupsi yang sudah akut di Indonesia adalah "kegagalan yang disengaja". Berbagai kritik, analisis dan solusi dalam buku ini tentunya sejalan dengan posisi penulis sebagai aktivis dan akademisi yang selalu gigih memperjuangkan keadilan demi Indonesia tercinta," Rikard Djegadut, Jurnalis.*

 

Loading...

Artikel Terkait