Bisnis

Ini Pesan Jokowi yang Betul-betul Mengunci Bisnis Keluarga Kalla

Oleh : very - Selasa, 24/11/2020 17:32 WIB

Menara Bosowa di Makassar terpasang spanduk Prabowo-Sandi saat masa Pilpres. (Foto: Sintesa.com)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Politisi kawakan yang juga wakil presiden dua kali pada masa presiden berbeda, yaitu pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Muhammad Jusuf Kalla memiliki grup bisnis raksasa, Kalla Group. Bisnis Kalla Group fokus pada pembangunan infrastruktur, seperti usaha pembangunan aspal di PT Bumi Karsa atau di PT Bukaka Teknik Utama yang fokus membangun tower dan jembatan.

Selain itu, salah satu bisnis keluarga Jusuf Kalla (JK) di kancah nasional adalah Grup Bosowa. Grup ini merupakan salah satu bisnis milik keluarga Aksa Mahmud, yaitu adik ipar dari JK. Aksa menikahi Ramlah Kalla, adik JK.

Seperti dikutip Sintesa.com, Bosowa Grup didirikan pada tahun 1973 di Makassar, Sulawesi Selatan. Nama Bosowa berasal dari nama tiga Kerajaan Bugis yaitu Bone, Soppeng dan Wajo.

Bosowa bergerak di enam grup usaha yaitu otomotif, semen, pertambangan dan energi, jasa keuangan, properti dan pendidikan. Selain menjalankan grup usaha inti, Bosowa juga menjalankan sejumlah proyek perintis di bidang media, olahraga dan agrokultur.

Dilihat dari bisnis inti dan lainnya, nampak betul bahwa bidang-bidang tersebut merupakan hal-hal yang sangat digenjot kemajuannya di bawah pemerintahan Presiden Jokowi.

Misalnya getolnya Jokowi membangun infrastruktur di seluruh wilayah hingga pelosok Indonesia. Jalan tol di mana-mana, pembangunan pelabuhan, bandara jembatan-jembatan megah, hingga pos lintas batas, semua berdiri gagah.

“Bayangkan berapa ton semen yang dibutuhkan untuk pembangunan itu semua. Padahal salah satu bisnis Bosowa adalah semen. Tapi Bosowa sama sekali tidak kebagian project-project pemerintah tersebut,” ujar sumber Sintesa.com.

Kenapa? Ini karena ada sebuah pesan Jokowi ke JK di tahun 2014 sebelum Jokowi memilih JK menjadi cawapresnya. Pesan Jokowi yang singkat ini betul-betul mengunci bisnis keluarga JK.

“Pesan ini didengar sendiri oleh penulis saat di sebuah tim pemenangan yang dipimpin oleh ‘patih kepercayaan’nya Jokowi. Beliau bercerita bahwa Jokowi sudah memilih JK sebagai cawapresnya lalu Jokowi mengatakan, ‘Pak JK, saya memilih pak JK sebagai cawapres saya, tapi nanti bisnis pak JK tidak boleh ikut project-project dari pemerintah’. JK pun menyanggupi,” ujar sumber tersebut.

Setahun, 2 tahun, 3 tahun berselang, bayangkan berapa banyak Bosowa kehilangan kesempatan bisnisnya padahal justru dalam poject-project pemerintahlah Bosowa bisa terus menumpuk kapital dan kekayaannya.

Maka ketika pada tahun 2017 kita bisa melihat saat Anies Baswedan merebut kursi Gubernur DKI Jakarta dari Basuki Tjahaja Purnama (BTP) yang kampanye dengan SARA yang menjual “ayat dan mayat”, Anies ke Balaikota dengan helikopter dari Aksa Makhmud, di hari pertama Anies sebagai ‘gabener’ (governor, red).

Dari situ sudah terang benderang, Aksa Mahmud dan tentu saja JK ada di belakang Anies.

“Apa benang merahnya? Bisnis keluarga JK mulai kering dengan pesan ‘kuncian’ Jokowi ke JK,” ujarnya.

Tak heran jika akhirnya Bosowa dituntut 7,02 triliun (US$ 484,42) Qatar National Bank (QNB) QPSC karena utang US$ 352.906.689,53 (untuk Fasilitas A) dan US$ 131.512.474,23 (untuk Fasilitas B), yang belum dibayarkan meski sudah jatuh tempo.

Sebelumnya Bosowa juga memiliki kredit macet kepada Bank BRI dengan nilai lebih dari Rp4 triliun per 28 Juni 2020. Kredit tersebut diberikan sedikitnya kepada 10 anak perusahaan milik pengusaha Aksa Mahmud. (Very)

Loading...

Artikel Terkait