Opini

Mimpi Bertemu Mochtar Lubis, Bicara tentang Kekuasaan dan Korupsi

Oleh : very - Minggu, 03/01/2021 11:05 WIB

Mochtar Lubis. (Foto: Wikipedia)

Oleh: F. Reinhard MA *)

Jakarta, INDONEWS.ID “Ketika bertemu dalam mimpiku semalam, budayawan Mochtar Lubis dengan lugas dan tegas menyampaikan pesan perih. Dia berpesan kepada Presiden Jokowi, penguasa-pengusaha dan elite Jawa, Batak dan Tionghoa, agar jangan sampai menjadi orang munafik dan busuk perilakunya dengan cara bagi-bagi proyek abu-abu sedemikain rupa sebab malaikat dan Tuhan YME mengetahui itu semua”.

Sebagai analis ekonomi-politik, saya kaget dan bertanya apa maksud Pak Mochtar dengan semua itu?

Presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi pada 2014 lalu menyatakan setuju dengan pernyataan Mochtar Lubis yang menyebut enam ciri manusia yang mesti dihilangkan.

"Saya kira ini betul," kata Jokowi dalam Simposium Nasional II, "Jalan Perubahan untuk Indonesia Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian 2014-2019" di Yogyakarta, Senin (18/8/2014).

Enam ciri manusia yang dikutip Jokowi pernah disampaikan Mochtar Lubis saat berpidato di Taman Ismail Marzuki pada 16 April 1977. Saat itu Mochtar Lubis menyampaikan pidato berjudul "Manusia Indonesia".

Pidato tersebut menggariskan enam ciri manusia versi Mochtar Lubis, yakni munafik atau hiporkrit, enggan dan segan bertanggung jawab, bersikap dan berperilaku feodal, percaya tahayul, lemah watak atau karakter, tapi artistik (berbakat seni). 

Pandangan Mochtar tersebut dianggap visioner karena hingga hari ini sifat-sifat tersebut dinilai masih melekat dalam perilaku sehari-hari manusia Indonesia.

Dalam mimpiku saat bertemu Mochtar Lubis tadi malam itu, Jokowi berwajah janus, ambivalen, mendua. Di satu sisi penampilannnya merakyat dan berjanji anti-KKN, berjanji mau menghilangkan ciri buruk manusia Indonesia itu, namun perbuatan Jokowi serupa. Konon banyak setoran pundi-pundi dari para aparat, pembantu/menterinya dan para taipan dan pihak –pihak yang punya kepentingan bercokol.

“Saya dengar konon ada setoran pundi-pundi dari proyek infrastruktur, dari taipan dan elite tertentu kepada Jokowi dan keluarganya di Solo. Kalau rumor itu salah, kita bersyukur. Tapi kalau rumor itu benar, celaka Jokowi dan keluarga karena itu perbuatan sangat bejat dan munafik, hipokrit,’’ kata Mochtar dalam mimpi itu.

Saya lalu bertanya: Apakah Pak Mochtar tahu soal bisnis Gibran dan Bobby menantunya yang konon sukses?

“Gibran dagang martabak dan pisang atau apalah, itu tidak laku dan tidak memasar, namun rekeningnya disetor duit milyaran rupiah oleh para taipan, pengusaha tertentu, oligarki, elite dan jadi lalulintas uang besar yang kami bisa lihat dari alam baqa disini. Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Bung Syahrir, Sri Sultan HB IX, Pak Kasimo, bahkan Pak Harto juga melihat hal buruk itu. Saya mohon semua uang yang disetor ke Jokowi dan keluarganya di Solo atau dimanapun (kalau ada, red.) dikembalikan ke kas Negara, dan jadilah Jokowi pemimpin teladan, bukan pemimpin lembek bermental korup, masih ada waktu, ayolah Jokowi,” kata Mochtar.

“Jokowi via KPK tangkapin koruptor, namun jangan sampai dia berperilaku sama yakni diam-diam menerima setoran duit dari proyek infrastruktur, dari taipan dan dari mana-mana. Itu KKN ala Jawa, tidak kelihatan di muka, tapi diam-diam menadah di belakang. Para elite kekuasaan dan menteri menteri dll, kalau berbuat yang kotor, korup maka pasti berdampak ke Jokowi sebagai kepala negara dan pemerintahan,’’ imbuh Mochtar.

Saya terperanjat.

Saya lantas bilang, “Hal  itu mungkin rumor belaka, Pak Mochtar”.

Namun beliau bilang di tengah pandemi Corona, dugaan KKN Jokowi dan keluarganya mungkin sudah jadi rahasia umum. “Ah yang benar Pak Mochtar?’’ ujarku.

“Becik ketitik, olo ketoro,’’ kata pakar politik LIPI Prof Mochtar Pabottingi.

“Jokowi tergolong kaum fasik jika berbuat demikian,’’ imbuh Prof Nurcholish Madjid.

Pabottingi dan almarhum Cak Nur memang hadir dalam mimpiku itu, ikut menyimak. Mereka kecewa budaya Jawa yang luhur diganti budaya rendahan, etos kerja lembek dan mental korup. Budaya elite Jawa, Batak, Tionghoa, dll memang konon alami krisis dan membusuk.

Seekor cicak jatuh ke wajahku dari atap, Plak. Saya terjaga, mimpiku bertemu Pak Mochtar usai seketika. Semoga pendapat Pak Mochtar itu keliru dan salah. Sebab kalau hal itu benar, wah, sedih sekali kita, sebab habislah Jokowi dan keluarganya di mata rakyat Indonesia.

Sekali lagi, itu ada dalam mimpiku semalam. Kita harus dorong Pak Jokowi amanah dan jurdil.

Oleh: F. Reinhard MA, analis ekonomi politik dari Indonesian Research Group dan alumnus UIN Jakarta

 

Loading...

Artikel Terkait