Nasional

Lawan Radikalisme dengan Membanjiri Konten Positif di Media Sosial

Oleh : very - Rabu, 07/04/2021 16:19 WIB

Benny Susetyo, Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). (Foto: ist)

Bogor, INDONEWS.ID -- Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo menghadiri acara diskusi Komsos Cegah Tangkal  Radikalisme/Sparatisme  dengan tema “Meneguhkan Toleransi Mencegah Radikalisme dan Sparatisme” yang diselenggarakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat. (7/4/2021).

Dalam acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 mahasiswa ini dijelaskan bahwa radikalisme terjadi tidak hanya dalam satu agama saja.

"Radikalisme tidak terjadi hanya di suatu agama saja tapi banyak kelompok yang melakukan tindak radikalisme demi kepentingan sesaat," jelas Benny.

Benny menjelaskan bahwa radikalisme muncul dari pemikiran yang tidak utuh sehingga banyak salah tafsir dan keluar dari konteks.

"Dalam penafsiran sebuah paham harus dipahami secara menyeluruh tidak boleh hanya setengah atau sebagian dan keluar dari konteksnya," ujarnya.

Benny menuturkan bahwa sekarang ini terjadi perang suci yang mengklaim mempunyai surga padahal sebenarnya hanya untuk kepentingan tertentu.

"Munculnya perang suci yang mengklaim mempunyai surga dan neraka. Padahal ini didalamnya ada kepentingan lain dan sesaat," ujar Benny.

Pendiri Setara Institute ini juga menambahkan bahwa penyebaran radikalisme semakin cepat dengan kemajuan teknologi yang ada.

"Bahaya sekarang di media sosial banyak konten yang salah dan keluar konteks demi perebutan kekuasaan dan mencapai tujuan tertentu," pungkasnya.

Benny berharap bahwa generasi milenial harus membanjiri sosial media dengan konten positif untuk melawan konten negatif yang banyak saat ini dan untuk membangun kesadaran publik.

"Untuk menghadapi terorisme harus membuat counter wacana positif khususnya di media sosial untuk melawan konten negatif serta akhirnya akan membangun kesadaran publik," tegas Benny.

Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara harus juga menjadi habitualisasi dalam setiap diri masyarakat.

Turut hadir Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan Jubei Levianto. Dalam pemaparannya dijelaskan hal senada bahwa kemajuan teknologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

"Kita hidup di jaman 4.0 yang kemajuan teknologi semakin pesat dan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Terjadi perang modern seperti proxy war yaitu negara yang kuat akan mengatur negara yang lemah untuk tujuan tertentu," jelasnya.

Lebih lanjut Jubei menjelaskan bahwa cara proxy war biasanya dilakukan dengan mencuci otak, sparatis, hingga memasukan ideologi lain.

"Radikal atau sparatis biasanya menginginkan melepaskan diri dari kedaulatan wilayah dan radikalisme adalah menggunakan kekerasan untuk membuat ketakuan ini harus diwaspadai," tegasnya.

Jubei menambahkan bahwa radikalisme di media sosial digunakan karena kecepatan jaringan dan sumber anonim.

"Ancaman radikalisme di media sosial keuntungannya adalah pembuat aksi anonim atau tidak diketahui dan kemudahan akses jaringan," tambahnya.

Jubei menegaskan bahwa bela negara adalah kewajiban untuk setiap warga negara. (Verex)

Loading...

Artikel Terkait