Jakarta, INDONEWS.ID - "Apa keperluanmu yang belum lengkap dek?, banyak Miq," jawab Gilang ketika ditanya Lurah Pancor, Lalu Ridho Arindi, S.IP.
Jawaban Gilang itu cukup membuatnya terenyuh. "Sebagai alumni IPDN saya mempunyai tanggungjawab moral, saya di posisi sekarang ini, sekolah dibiayai oleh Negara, dan sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu, selaku pamong." kata Ridho.
List kebutuhan cukup banyak, ada tertulis Laptop dan HP Android. Jangankan untuk membeli barang-barang itu, untuk kebutuhan sehari-hari saja sangat berhemat. Tinggal di rumah bedek bertahun-tahun di pinggir kali, dan baru setahun mendapat bantuan rehab rumah tidak layak huni.
Ayahnya hanya seorang lulusan SMP, hanya berbekal pernah kerja di sebuah bengkel di Jogja. Tak banyak yang membutuhkan keahliannya. Pernah mengadu nasib menjadi TKI di Negeri Jiran, tapi nasib belum berpihak, hingga setahunan belakangan merantau ke Kalimantan Selatan.
"Saya tahu betul karena ayah Gilang, karena masih satu kampung dan sering bantu-bantu di rumah, untuk memperbaiki mesin motor, bahkan saya minta menambal ban bocor." tutur Ridho.
Naluri sebagai seorang lelaki Manglayang, membuatnya tak berpikir panjang.
"Yang penting siap dulu, mikirnya belakangan." ujarnya.
"Oke sudah dek, besok setelah pengumuman kamu temui saya di kantor saya, saya yang tanggung kebutuhan pakaianmu"
Dirinya memberikan harapan, perkataannya tentu ada konsekuensi, artinya dia harus berusaha menyiapkan segala sesuatunya dari topi hingga sepatu.
"Untuk sepatu gaji tanggal 1 saya masih bersahabat, tapi untuk kebutuhan lain masih sangat kurang,"
Mantan Lurah Rakam ini, lalukan konsultasi ke beberapa orang alumni IPDN via whatsapp, dan mengajak untuk berbagi, tanpa menyiapkan rekening donasi. Juga, mengajak Gilang menemui beberapa orang Alumni IPDN.
"Saya tidak menyiapkan rekening khusus, tapi karena merasa sudah seperti keluarga, saya mencoba mengajak, mungkin ada yang mau berbagi untuk calon praja Gilang, yang butuh untuk kelengkapan pakaian. Harapan saya, setidaknya kelengkapan bisa terpenuhi."
Tak disangka pesan WA dari Ridho mendapat respon positif. "Pesan yang saya kirim ke beberapa orang sangat baik, rekan-rekan alumni bertanya balik, mereka menanyakan rekening, dan saya kirimkan rekening alternatif,"
Pesan WA itu tersebar begitu cepat. "Semula hanya untuk internal alumni di Lombok Timur, tetapi pesan itu sampai ke luar, alumni yang di pusat dan sejumlah daerah merespon positif."
Ridho merasa terharu, karena di melampaui ekspektasinya. "Kami semua terwadahi oleh organisasi Ikatan Alumni Pendidikan Kepamongprajaan (IKAPTK), terutama pengurus provinsi, mereka turun tangan, dalam hitungan 1 jam, capaian donasi alumni sudah dua kali lipat dari target, yang semula hanya kebutuhan pakaian, semua tertangani, bahkan dari luar alumni pun turut tergerak, ada yang menyumbang Laptop dan HP, bahkan Ketua DPRD Provinsi NTB, Hj. Baiq Isvie Rupaeda, tak mau ketinggalan, karena lama bermitra dengan alumni IPDN dalam tugas dan merasakan keberadaannya, beliau menawarkan akan membantu kebutuhan Gilang untuk biaya pendidikan di IPDN.
"Jadi, perjuangan Gilang yang tinggal di sepetak rumah bantuan dari program RTLH. Dan ayahnya seorang buruh yang setahun belakangan merantau di Kalimantan, layak kita atensi. Makanya, saya undang Gilang untuk datang ke ruangan saya untuk kita bantu sekadar biaya," ujar
Jumlah donasi melampaui target. "Karena lebih dari cukup, donasi hanya kami buka 24 Jam, alhamdulillah," ungkap Puguh Mulawarman, pengurus Dewan Pimpinan Nasoinal IKAPTK.
"Uang yang terkumpul kami siapkan untuk menjadi tabungan pendidikan untuk Gilang, " imbuhnya.
Di tempat terpisah Ketua IKAPTK NTB, Baiq Zuhar Farhi, SH,MH berpesan kepada Gilang, "Terus belajar agar menjadi yang terbaik di kampus nanti, jangan pernah minder dengan kondisi orang tua tetapi jadikan itu menjadi semangat untuk membanggakan orang tuamu , keluargamu dan tentunya masyarakat pada umumnya."
Demikian juga untuk pemuda lainnya dirinya berpesan, "Untuk Pemuda pemuda indonesia calon penerus pemimpin bangsa yang mungkin dari sisi ekonomi kurang menguntungkan semangat terus untuk belajar dan mencoba meraih impian kalian, jangan pernah berfikir bahwa masuk pendidikan di IPDN itu hanya milik anak pejabat, atau anak-anak yg memiliki uang ,Tidak! IPDN itu milik seluruh anak bangsa yg memiliki kemauan karena tes dilakukan terbuka, transparan, insyaAllah jika syarat-syarat terpenuhi siapapun bisa kuliah di IPDN,"
Orang tua Gilang, Eka Muliadi via panggilan WA, merasa bangga dan sangat terharu atas kepedulian IKAPTK dan sejumlah pihak kepada anaknya.
"Terimakasih atas segala bantuan dan doa nya yang mungkin saya tidak bisa membalasnya. Mudah mudahan seluruh alumni dan semua yang telah membantu diberikan kesehatan dan rezeki yang tak terkira," ungkapnya.